BTemplates.com

Pages

Senin, 08 Desember 2014

Petuah Akhlak dari Rasulullah kepada Sahabat Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam sebuah hadits dari seorang sahabat yang bernama Abu Jurai Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi radhiallahu 'anhu, beliau berkata,

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَعَلِّمْنَا شَيْئًا يَنْفَعُنَا اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهِ قَالَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي وَلَوْ أَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَوَجْهُكَ إِلَيْهِ مُنْبَسِطٌ وَإِيَّاكَ وَتَسْبِيلَ الْإِزَارِ فَإِنَّهُ مِنْ الْخُيَلَاءِ وَالْخُيَلَاءُ لَا يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ امْرُؤٌ سَبَّكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تَسُبَّهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَى مَنْ قَالَهُ

Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang berasal dari pedalaman, maka ajarkanlah kepada kami sesuatu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala akan memberikan manfaat kepada kami dengannya."

Maka beliau bersabda, "Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air, sekalipun dengan engkau berbicara kepada saudaramu dengan wajah berseri-seri, dan berhati-hatilah engkau dari menurunkan kain di bawah kedua mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong dan Allah 'Azza wa Jalla tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang mencelamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah engkau balas mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui tentang dia, karena itu akan menjadi pahala bagimu dan menjadi dosa baginya."

(diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 522, Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 20110, Al-Mundziri dalam At-Targhib Wat-Tarhib 3/366, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Di dalam hadits di atas terdapat pelajaran yang agung yang hendaknya kita petik sebagai bekal dalam kehidupan kita. Pertama, tentang semangat para sahabat dalam menuntut ilmu. Mereka jauh-jauh datang dari pedalaman menuju Kota Madinah hanya untuk bertemu Rasulullah, meminta pengajaran langsung dari beliau. Inilah bentuk keseriusan mereka dalam mencari ilmu yang menjadi sebab bertambah tingginya derajat mereka.

يَرْ‌فَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَ‌جَاتٍ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ‌

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggikan suatu kaum dengan ilmu dan merendahkan suatu kaum karena ilmu pula. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَ‌فَعْنَاهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْ‌ضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُ‌كْهُ يَلْهَث

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Andaikata Kami menghendaki, sesungguhnya akan Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)." (QS. Al-A'raf: 175-176)

Karena berpegang dengan ilmu dan apa yang diturunkan kepadanya (berupa ayat-ayat-Nya) akan mengangkat derajatnya, akan tetapi apabila ia tetap berpaling, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya pula.

Juga dalam hadits 'Umar Ibnul Khaththab radiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللهَ يرفعُ بهذا الكتابِ أقوامًا ويضعُ به آخرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena kitab ini (Al-Qur'an) dan merendahkan kaum lainnya dengannya."[1]

Oleh karena itulah sebab yang paling utama dalam memperbaiki keadaan dan mencapai kejayaan umat ini adalah dengan mempelajari ilmu agama dengan penuh keseriusan dan kecintaan dalam mempelajarinya. Hal ini bisa dilihat dari keseriusan kita dalam mendatangi majelis-majelis ilmu, mempelajari Al-Qur'an dan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidaklah cukup seseorang itu dikatakan penuntut ilmu bila sekedar memakai jubah yang bagus, memakai peci dan imamah yang indah akan tetapi tidak terlihat padanya keseriusan dalam mencari ilmu.

Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi radhiallahu 'anhu, dia rela datang dari pedalaman, tampak padanya keseriusan dan semangat mencari ilmu demi meraih kebaikan negeri akhirat. Karena menuntut ilmu adalah jalan menuju surga. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له طريقا إلى الجنة

"Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."[2]

Faidah selanjutnya dalam hadits ini, terdapat pengajaran dan wasiat dari Rasulullah, yang pertama tentang perkataan beliau,

ﻻ تحقرن من المعروف شيئًا

"Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun."

Inilah kaidah yang beliau ajarkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, bahwa kebaikan apapun itu tidak boleh diremehkan oleh seorang hamba, walaupun hal itu sepele dan remeh baginya. Rasulullah memberikan dua contoh di dalam hadits ini. Seseorang mengambil/menimba air dari sumur kemudian ia tuangkan ke dalam bejana orang yang membutuhkan air, ini adalah sesuatu hal yang biasa akan tetapi dihitung sebagai suatu kebaikan yang sangat bernilai. Demikian pula ketika seseorang berjumpa dengan orang lain, ia menampakkan wajah yang berseri-seri sehingga ada ikatan hati yang baik antara orang yang melihatnya dengan yang dilihat. Ini merupakan bagian dari akhlak yang ma'ruf yang masuk di dalamnya kaidah laa tahqiranna minal ma'rufi syai-an.

Banyak sekali sesuatu hal dalam kehidupan kita yang terlihat remeh namun itu adalah sesuatu yang ma'ruf. Semisal ketika ia masuk ke dalam masjid dan menemukan kotoran, maka ia pun membersihkannya. Ketika ia sedang berjalan dan mendapati duri, maka ia pun menyingkirkannya. Ketika di dalam rumah ia menjumpai makanan sisa yang masih bisa disimpan, maka ia menyimpannya dengan baik karena hal itu merupakan bentuk penghargaan terhadap nikmat dan setiap nikmat akan ditanyakan di hari kiamat di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan (yang kamu peroleh)." (QS. At-Takatsur: 8)

Apalagi bila perkara-perkara kebaikan itu sesuatu yang besar di dalam agama. Seperti kewajiban menuntut ilmu, beramal dengannya, kewajiban saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah dari hal yang munkar, mengajarkan ilmu kepada manusia, dan selainnya dari pokok-pokok agama. Maka tentu hal ini sangat tidak pantas untuk diremehkan apalagi ditelantarkan oleh seorang hamba.

Kemudian beliau melanjutkan wasiatnya,

وإياك وتسبيل الإزار فإنه من الخيلاء والخيلاء لا يحبها الله عز وجل

"Dan berhati-hatilah engkau dari menurunkan kain di bawah kedua mata kaki (isbal) karena ia bagian dari sifat sombong dan Allah 'Azza wa Jalla tidak menyukai kesombongan."

Isbal adalah seseorang memakai pakaian -apakah itu baju yang bersambung sampai bawah semisal jubah ataupun baju dengan memakai celana atau sarung atau yang semisal dengannya- sampai melewati mata kakinya.[3]

Hadits tersebut menjelaskan bahwa menurunkan pakaian di bawah mata kaki adalah suatu keharaman yang bersifat mutlak karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari kesombongan dan tidaklah dihitung dari niat seseorang, sebagaimana perkataan sebagian orang, "Saya memakainya karena ingin terlihat rapi, bukan karena sombong." Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapnya sebagai bagian dari kesombongan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورً‌ا

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan akan bahayanya kesombongan yang menyebabkan seorang hamba terhalang untuk masuk ke dalam surga. Beliau bersabda,

لا يدخل الجنّة من كان فى قلبه مثقال ذرّة من كبر

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan."[4]

Telah jelas pula ancaman yang keras dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bagi mereka yang isbal. Di antaranya hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

"Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dilihat, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah yang dusta."[5]

Juga dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

"Kain yang panjangnya di bawah kedua mata kaki tempatnya adalah neraka."[6]

Bahkan dalam kitab-kitab para ulama disebutkan bahwa isbal termasuk deretan al-kabair (dosa-dosa besar). Dan tidaklah dosa-dosa besar itu akan diampuni kecuali dengan taubat nashuha kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Di akhir hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat,

وإن امرؤ سبك بما يعلم فيك فلا تسبه بما تعلم فيه فإن أجره لك و وباله على من قاله

"Jika ada seseorang yang mencelamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah engkau balas mencelanya dengan sesuatu yang engkau ketahui tentang dia, karena itu akan menjadi pahala bagimu dan menjadi dosa baginya."

Ini merupakan salah satu akhlak yang sangat agung yang diajarkan oleh Rasulullah. Ketika ada orang lain yang berbuat buruk kepadanya, ia tidak membalasnya dengan keburukan pula, akan tetapi ia memaafkannya dan membalasnya dengan berbuat baik. Apabila ada orang yang mencelanya, maka ia balas dengan memujinya. Apabila ada orang yang mengghibahinya, ia tidak membalas dengan mengghibahi orang tersebut.

Dikatakan dalam sebuah sya'ir,

كن كالنخيل عن الأحقاد مرتفعاً *** بالطوبِ يُرمى فيرمي أطيب الثمر

Jadilah engkau bagaikan pohon kurma yang menjulang tinggi jauh dari dendam
Saat dilempar dengan batu, ia pun membalas dengan kebaikan buahnya

Karena itu barangsiapa yang mampu bersabar dan menahan diri maka dijamin baginya pahala yang besar. Adapun perkataan yang jelek maka itu akan ditanggung dosanya bagi orang yang mengucapkannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada kita semua, menganugerahkan kepada kita akhlak yang baik, dan menjauhkan kita dari akhlak yang jelek. Wa billahit taufiq.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Manhaji ” Mewaspadai Bahaya Gerakan Syiah “


Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?
Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.
1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syiah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)
2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (yakni Syiah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)
3. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orangorang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)
4. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)
5. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ) itu orang Islam.” (as- Sunnah karya al-Khallal 1/493)
6. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)
Bisa jadi, Anda berkata, “Itu kan versi ulama Sunni! Bagaimanakah keterangan ulama ahlul bait tentang mereka?” Baiklah, kalau begitu simaklah keterangan berikut ini.
1. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syiah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka dari itu, gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku…” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)
2. Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah! Menurutku, Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syiah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syiah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)
3. Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syiah) kehidupan hingga saat ini, porakporandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syiah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta untuk membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab terbunuhnya kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy- Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)
4. Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin rahimahullahberkata, “Mereka (Syiah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
5. Al-Imam Muhammad al-Baqir rahimahullah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syiah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
6. Al-Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala berlepas diri dari orang-orang yang membenci Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi 6/260) Bisa jadi, Anda heran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syiah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda. Jawaban ringkasnya, karena Syiah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini.

Kedekatan Syiah dengan Yahudi
Syiah sangat dekat dengan Yahudi. Kedekatan itu setidaknya dalam dua hal yang sangat prinsip:
1. Pendirinya
2. Prinsip keyakinannya (akidahnya).
Pendiri agama Syiah adalah seorang peranakan Yahudi kota Shan’a, Yaman. Dia bernama Abdullah bin Saba’ al- Yahudi al-Himyari.2 Ibunya seorang wanita yang berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda’ (putra seorang wanita yang berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba’ berkarakter buruk, licik, dan penuh makar terhadap Islam dan umat Islam. Dia menyusup di tengah-tengah umat Islam untuk merusak tatanan agama dan masyarakat. Awal kemunculannya di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah) dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan di tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu hingga terbunuhlah beliau.
Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia menampakkan kecintaan dan loyalitas yang tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai syi’atu Ali (para pengikut Ali). Dengan kedok kecintaan dan loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlul bait itulah agama Syiah terus menggurita di tengah umat. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 8/479, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 490, dan Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 123)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Para ulama menyebutkan bahwa latar belakang Rafdh (Syiah) adalah dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba’) yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan identitas Yahudinya. Dia berupaya merusak Islam sebagaimana Paulus (seorang Yahudi, -pen.) yang menampakkan diri sebagai seorang kristiani untuk merusak agama Kristen.” (Majmu’ Fatawa 28/483)
Adapun prinsip keyakinan (akidah) Syiah, banyak kesamaannya dengan prinsip keyakinan (akidah) Yahudi. Hal ini tentu tidak aneh, sebab pendirinya adalah seorang Yahudi. Di antara prinsip keyakinan (akidah) mereka yang sama dengan Yahudi adalah sebagai berikut.
1. Tentang washiy
Washiy adalah seseorang yang mendapat wasiat untuk melanjutkan tugas atau misi si pemberi wasiat. Dalam agama Yahudi, adanya washiy adalah satu keharusan. Demikian pula dalam agama Syiah. Kalau washiy dalam agama Yahudi adalah Yusya’ bin Nun yang didaulat sebagai pengganti Nabi Musa ‘Alaihissalam, maka washiy dalam agama Syiah adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, dalam prinsip keyakinan (akidah) Syiah, para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib rahimahullah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman g adalah perampas kekuasaan dan mereka telah kafir. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/169—197)
2. Tentang kepemimpinan umat
Dalam agama Yahudi, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Nabi Dawud q. Dalam agama Syiah, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Demikianlah kondisi 12 imam mereka yang diyakini ma’shum (terlindungi dari dosa), termasuk Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/201—224)
3. Tentang raj’ah
Raj’ah adalah hidup kembali setelah mati sebelum hari kiamat. Dalam agama Yahudi, orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Demikian pula menurut agama Syiah. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati dan tinggi keimanannya akan dihidupkan kembali di masa Imam Mahdi (akhir zaman) untuk dimuliakan. Demikian pula orang-orang yang sudah mati dan tinggi tingkat kejahatannya akan dihidupkan kembali untuk dihinakan. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/275—312)
4. Tentang al-bada’
Al-bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam agama Yahudi, al-bada’ terjadi pada Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula menurut agama Syiah. Bahkan, mereka menjadikannya bagian dari tauhid. Berbeda halnya dengan agama Islam, ilmu Allah Subhanahu wata’ala sangat luas, tak dibatasi oleh sesuatu pun. Ilmu Allah Subhanahu wata’ala bersifat azali (tak bermula dan berakhir). Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari ilmu- Nya. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al- Jumaili 1/317—352)
5. Tentang mengubah Kitab Suci
Mengubah Kitab Suci adalah sifat tercela yang melekat pada ulama Yahudi, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah l dalam banyak ayat-Nya. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengubah al-Qur’an hingga berlipat jumlah ayatnya. Anehnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islamlah yang telah mengalami pengubahan. Wallahul musta’an. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/355—438)
6. Tentang kecintaan dan kebencian
Kaum Yahudi berlebihan dalam hal mencintai sebagian nabi mereka dan membenci sebagian yang lainnya. Demikian pula sikap mereka terhadap para ulama yang membimbing mereka. Kaum Syiah tak jauh berbeda. Mereka berlebihan mencintai para imam mereka, bahkan memosisikan mereka di atas para malaikat dan para nabi. Di sisi lain, mereka membenci para sahabat , bahkan mengafirkan mereka. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/443—513)
7. Tentang pengagungan diri mereka
Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka adalah manusia terbaik, bahkan mereka mengklaim sebagai anak-anak Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengklaim sebagai orang-orang pilihan Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Kaum Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina.
Demikian pula halnya dengan kaum Syiah, mereka mengklaim sebagai manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/517—554)
8. Tentang pengafiran selain mereka
Kaum Yahudi memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. Demikian pula halnya kaum Syiah, memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/559—597)
9. Tentang kedustaan yang ada pada mereka
Sifat dusta sudah menjadi karakter kaum Yahudi, baik dalam kehidupan beragama maupun keseharian. Tak beda jauh dengan kaum Syiah, mereka menjalankan kehidupan beragama dengan kedustaan yang mereka sebut dengan taqiyah. Oleh karena itu, al-Imam asy-Syafi’I rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam hal persaksian palsu.” (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al Jumaili 2/631—669)
Patut dicatat di sini bahwa semua yang telah disebutkan tentang kesamaan agama Syiah dengan agama Yahudi di atas, tak didapati pada umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab, mereka meyakini kewajiban menyelisihi kaum Yahudi dalam kehidupan ini, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Anehnya, seiring dengan banyaknya kesamaan antara agama Syiah dengan agama Yahudi, sebanyak itu pula perbedaannya dengan agama Islam. Perbedaan itu bukan dalam hal yang kecil, melainkan dalam hal mendasar yang merupakan prinsip dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan! Al-Qur’an mereka berbeda dengan al-Qur’an umat Islam, azan dan iqamat mereka berbeda dengan azan dan iqamat umat Islam, tata cara berwudhu mereka berbeda dengan tata cara berwudhu umat Islam, kaifiyah shalat mereka berbeda dengan kaifiyah shalat umat Islam, dan hari wukuf mereka di Arafah (ketika berhaji) pun berbeda dengan hari wukuf umat Islam. (Lihat VCD Bahaya Kesesatan Syiah dan VCD Ada Syiah di Indonesia)
Syiah Merobohkan Tiga Pilar Utama Umat Islam
Ada tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah). Bagaimanakah upaya Syiah merobohkan tiga pilar itu? Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya. Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (ada) 17.000 ayat.”
Disebutkan juga dari Abu Abdillah ( 1 / 2 3 9 — 2 4 0 ) , dia berkata , “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.” Abu Bashir bertanya, “Apa mushaf Fatimah itu?” Dia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf yang isinya tiga kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi zhahir, hlm. 31—32)
Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath- Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah terjadi pengubahan dan penyimpangan. Adapun terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya:
1. Mengklaim bahwa para istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan. Disebutkan dalam kitab mereka, Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya ath-Thusi (hlm. 57—60), dinukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)
2. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Tentu saja, dengan dikafirkannya para sahabat berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan melalui mereka. Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian dia menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy- Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)
Adapun sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka cela dan laknat. Bahkan, mereka berlepas diri dari keduanya adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا
“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…. (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al- ‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)
Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mmampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)
Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasul bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka (Syiah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)
Lebih dari itu, dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa pun akan kesulitan untuk memahami agama Islam dengan baik dan benar. Sebab, melalui merekalah ilmu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diwariskan dan melalui mereka pula pemahaman yang benar tentang agama ini didapatkan. Tanpa itu, kesesatanlah kesudahannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)
Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al- Andalusi rahimahullah berkata, “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah Subhanahu wata’ala (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi pertama dari umat ini.” (al-Marqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 36—37)
Pengkhianatan Syiah Terhadap Umat Islam
Syiah tercatat kerap melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. (Lihat ungkapan kekecewaan mereka pada pembahasan sebelumnya)
Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami, yang beragama Syiah. Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.
Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama. Selama 40 hari pembantaian terus menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam. Sementara itu, sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya. Wallahul musta’an. (Untuk lebih rincinya, silakan membaca al- Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335)
Demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin….

http://asysyariah.com/manhaji-mewaspadai-bahaya-gerakan-syiah/

Tujuan diciptakannya manusia


Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.
_____
APA TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA?
Jawab:
Sebelum saya menjawab soal ini, saya senang untuk memberikan penegasan terhadap kaedah umum pada apa yang diciptakan dan disyariatkan oleh Allah, dan kaedah ini diambil dari firman Allah Ta’ala:
إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Sesunguhnya Dialah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf : 83),
dan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ahzab : 1),
dan selain keduanya dari ayat-ayat yang sangat banyak yang menunjukkan pentepan hikmah bagi Allah pada apa yang diciptakan dan disyariatkan-nya, yakni: pada hukum-hukum-Nya yang bersifat kauniyyah dan syar’iyyah, karena tidak ada sesuatupun yang dicptakan oleh Allah kecuali mempunyai hikmah, apakah hal tersebut pada diadakannya sesuatu atau ditiadakannya, dan tidak ada sesuatupun yang disyariatkan oleh Allah kecuali mempunyai hikmah, apakah hal tersebut pada diwajibkannya sesuatu atau diharamkannya atau diperbolehkannya.
Akan tetapi hikmah-hikmah yang dikandung oleh hukum Allah yang bersifat kauni dan syar’i ini kadang diketahui oleh kita dan kadang tidak diketahui, dan kadang diketahui oleh sebagian manusia tanpa yang lain, sesuai dengan apa yang Allah berikan kepada mereka berupa ilmu dan pemahaman.
Apabila hal ini telah dipahami, maka kami katakan:
”Sesungguhnya Allah telah menciptakan jin dan manusia karena suatu hikmah yang besar dan tujuan yang terpuji yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” ( Adz-Dzariyaat : 56)
dan firman Allah:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
”Apakah kalian mengira bahwa kami menciptakan kalian begitu saja, dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami.” (Al-Mu’minun : 115)
dan firman Allah:
أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
”Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja.” (Al-Qiyaamah : 36),
dan sealin dari itu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memilikihikmahyang dalam pada penciptaan jin dan manusia, yaitu beribadah kepada Allah.
Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan dengan melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan apa yang disyariatkan, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
”Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan )agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah : 5).
Maka inilah hikmah dari penciptaan jin dan manusia, oleh karena itu, barangsiapa yang durhaka terhadap Rabbnya dan sombong dari beribadah kepada-Nya, maka dia telah menyelisihi hikmah yang dengannya Allah menciptakan seluruh hamba, dan perbuatannya menjadi saksi bahwa Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sia-sia dan percuma walaupun dia tidak menyebutkan hal tersebut terang-terangan, akan tetapi ini adalah keharusan dari kedurhakaan dan kesombongannya dari mentaati Rabbnya.
Baca selengkapnya :
Tujuan Penciptaan Manusia – http://www.salafybone.com/tujuan-penciptaan-manusia/

www.salafy.or.id

Antara madu Indo dan Madu Arab


Cukup lama terpendam dalam benak kami sebuah pertanyaan, mengapa istri kedua atau istri lain dinamakan “madu”? Apakah karena manisnya? Karena jawabannya bukanlah sesuatu yang penting maka kami biarkan saja pertanyaan itu tak pernah terungkapkan dengan kata-kata, tidak pula berusaha mencari jawabnya.
Sampai suatu ketika, di majelis salah seorang guru kami -semoga Allah ta’ala menjaga beliau-, pada akhir-akhir Ramadhan 1433 H, di sela-sela pembahasan kitab Haadyl Arwah ilaa Bilaadil Afraah, karya Al-Imam Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah, beliau menjelaskan sebuah faidah, ternyata “madu” itu berasal dari kata “memadukan,” dinamakan demikian sebab seorang suami telah memadukan antara dua istri atau lebih. Inilah makna “madu” dalam Bahasa Indonesia.
Lain halnya dalam Bahasa Arab, kata yang digunakan untuk istri kedua atau istri lain adalah Dhorrah [ضَرَّةٌ] yang artinya secara bahasa adalah wanita yang membahayakan, dinamakan demikian karena adanya persaingan diantara para istri yang dapat membahayakan. [Selesai faidah dari beliau hafizhahullah]
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kata “madu” dalam Bahasa Indonesia akar makna bahasanya lebih baik dan lebih tepat dari kata “madu” dalam Bahasa Arab. Karena memang demikianlah menurut syari’at yang mulia ini, hakikat istri-istri yang dimiliki seseorang adalah akhawat mukminat, para wanita beriman yang bersaudara, sehingga haruslah terjadi perpaduan yang baik antara mereka. Sebagaimana seorang suami haruslah berusaha memadukan antara mereka.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan, kasih sayang dan kelembutan di antara mereka bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” [HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu]
Demikianlah seharusnya para istri yang beriman, hendaklah mereka berusaha mengamalkan sifat-sifat kaum mukminin antara satu dengan yang lainnya dan bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Terlebih para istri Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya lagi istri-istri para du’at yang harus menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat, dalam kondisi musuh-musuh Islam dan orang-orang awam yang termakan dengan syubhat-syubhat mereka terus berusaha untuk menjelek-jelekan sunnah poligami dan menghantam Ahlus Sunnah karena hal tersebut.
Kecemburuan Antara Para Istri dalam Kondisi Kurang Akal dan Agama
Cemburu adalah hal yang wajar dalam diri seorang wanita, akan tetapi hal itu tidaklah membenarkan perbuatan dosa dan kezaliman terhadap saudarinya, apalagi terhadap suaminya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Janganlah kalian saling dengki, janganlah saling melakukan najasy (menawar suatu barang dengan harga yang tinggi padahal dia tidak niat membelinya tetapi hanya untuk memancing orang lain agar menawar dengan harga yang lebih tinggi), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka janganlah dia menzaliminya, janganlah menghinanya, (dalam riwayat At-Tirmidzi: janganlah mengkhianatinya dan janganlah berdusta kepadanya) dan janganlah merendahkannya.
Ketakwaan itu di sini, seraya beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek apabila dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” [HR. Al-Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Oleh karena itu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membiarkan ghibah yang dilakukan oleh istri tercintanya, Aisyah radhiyallahu’anha terhadap istri lainnya, Shafiyah radhiyallahu’anha. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,
قُلْتُ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ تَعْنِى قَصِيرَةً فَقَالَ لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Aku berkata kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, cukuplah bagimu Shofiyyah itu begini dan begitu.” Berkata rawi, ucapan yang tidak baik, yaitu Shafiyah itu pendek. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, andaikan kalimat itu dicampur ke air laut, niscaya laut itu akan tercemar.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Shahihut Targhib, no. 2834]
Sebagaimana beliau tidak membiarkan istri tercintanya, Hafshah radhiyallahu’anha mencela istrinya yang lain, Shafiyyah radhiyallahu’anha. Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menuturkan,
بلغ صفية أن حفصة قالت بنت يهودي فبكت فدخل عليها النبي صلى الله عليه و سلم وهي تبكي فقال ما يبكيك فقالت قالت لي حفصة إني ابنة يهودي فقال النبي صلى الله عليه و سلم إنك لابنة نبي وإن عمك لنبي وإنك لتحت نبي ففيم تفخر عليك ثم قال اتقي الله يا حفصة
“Sampai kepada Shofiyyah bahwa Hafshah mengatakan, Shofiyyah adalah anak seorang Yahudi, maka ia pun menangis. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menemuinya dalam keadaan ia sedang menangis, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Apa yang membuat engkau menangis?’ Ia menjawab, ‘Hafshah berkata kepadaku, sesungguhnya aku anak seorang Yahudi.’ Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya engkau adalah anak seorang Nabi dan sungguh pamanmu juga seorang Nabi (yakni dari keturunan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam) dan suamimu juga seorang Nabi, maka apa yang membuatnya berbangga atasmu.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah’.” [HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Tirmidzi, no. 3055]
Di sisi lain, seorang suami juga harus memahami bahwa cemburu antara para istri adalah sifat dasar mereka, dan itu masih ditambah dengan kekurangan akal dan agama mereka, tak terkecuali para istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga seorang suami dituntut untuk bersikap sabar dan meneladani Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam menghadapi “pergolakan” di antara para istri. Di sinilah pentingnya ilmu dalam rumah tangga, inilah kesempatan emas untuk mempraktekan salah satu prinsip emas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah sampai menyebutkan dalam Shahih beliau sebuah bab yang berjudul, “Bab Tentang Kecemburuan” [باب الْغَيْرَةِ] dan lebih khusus lagi “Bab Kecemburuan Wanita dan Kemarahan Mereka (Karena Cemburu)” [باب غيرة النساء ووجدهن]. Beliau rahimahullah meriwayatkan,
عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ فَجَمَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِلَقَ الصَّحْفَةِ ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ غَارَتْ أُمُّكُمْ ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا وَأَمْسَكَ الْمَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah besama salah satu istri beliau, lalu salah seorang ummahatul mukminin, istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan kepada beliau, maka istri yang lagi bersama beliau di rumahnya itu memukul tangan pembantu (yang membawa makanan itu), maka piringnya pun jatuh hingga pecah, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan-pecahan piring itu dan juga mengumpulkan makanan yang jatuh, dan beliau bersabda, “Ibu kamu sedang cemburu.” Kemudian beliau menahan pembantu tersebut sampai beliau mengganti piring yang pecah itu dengan piring yang berasal dari rumah istri yang memecahkannya. Maka beliau membayar dengan piring yang bagus untuk mengganti piring yang pecah, dan beliau menahan piring yang pecah di rumah istri yang memecahkannya.” [HR. Al-Imam Al-Bukhari]
Faedah Hadits Terkait Pembahasan:
1. Kesabaran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam menghadapi kecemburuan dan kemarahan istri-istri beliau.
2. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memaklumi kecemburuan istrinya dan kemarahannya yang timbul karena kecemburuan itu.
3. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak memarahi atau membentak istrinya. Al-Imam Ibnu Batthal rahimahullah berkata,
وفى حديث القصعة الصبر للنساء على أخلاقهن وعوجهن لأنه عليه السلام لم يوبخها على ذلك ولا لامها ولا زاد على قوله غارت أمكم
“Dalam hadits tentang piring pecah ini terdapat pelajaran sabar dalam menghadapi para istri atas akhlak mereka dan kebengkokan mereka, karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak menjelek-jelekan istri beliau disebabkan perbuatannya itu, tidak pula mencelanya dan tidak pula menambah ucapannya selain, ‘Ibu kamu sedang cemburu’.” [Syarhu Shahih Al-Bukhari, 7/351]
4. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memafkan dan tidak memberikan hukuman terhadap istrinya tersebut. Sampai seluruh ulama yang menjelaskan hadits ini berkata,
فيه إشارة إلى عدم مؤاخذة الغيراء بما يصدر منها لأنها في تلك الحالة يكون عقلها محجوبا بشدة الغضب الذي اثارته الغيرة
“Dalam hadits ini terdapat isyarat akan tidak bolehnya menghukum wanita-wanita yang sedang cemburu ketika ia melakukan suatu kesalahan, sebab dalam keadaan itu akalnya sedang tertutup karena besarnya kemarahan yang dibakar oleh kecemburuan.” [Fathul Bari, 9/325]
5. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mendidik istrinya yang bersalah dengan mengganti piring yang dipecahkannya dari miliknya.
6. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membiarkan kemungkaran yang dilakukan oleh istrinya, namun beliau menasihatinya dengan kelembutan.
7. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menunaikan hak istri yang dizalimi dengan mengganti piringnya yang rusak dari milik istri yang merusaknya.
8. Seorang suami haruslah bersikap dewasa dan matang dalam menghadapi istri-istrinya, sebab yang ia hadapi adalah makhluk “halus” yang mudah pecah seperti “kaca” yang bengkok lagi tidak sempurna akal dan agamanya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Aku tidak melihat wanita-wanita yang kurang akal dan agama namun sanggup menghilangkan akal sehat seorang laki-laki cerdas melebihi seorang dari kalian (para wanita).” [HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma]
9. Seorang suami haruslah menasihati istri-istrinya secara terus menerus dengan penuh kelembutan. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاء
“Berilah nasihat kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk (yang bengkok), dan tulang rusuk yang paling bengkok itu adalah bagian paling atasnya, jika engkau memaksa untuk meluruskannya engkau akan mematahkannya, namun jika engkau biarkan ia akan tetap bengkok,  maka nasihatilah para wanita.” [HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
10. Pentingnya ilmu dalam rumah tangga. Inilah sesungguhnya diantara sisi yang paling penting dalam meneladani rumah tangga Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bukan sekedar semangat belaka. Masalah apapun dalam rumah tangga, insya Allah ta’ala akan terpecahkan dengan baik jika masing-masing dari suami dan istri mau kembali kepada ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai pemahaman Salaful Ummah.
Nasihat ringkas ini semoga bermanfaat bagi para suami dalam membimbing istri-istrinya dan menjadikan mereka “madu-madu” yang baik lagi manis. Wallahul Musta’an.
Artikel Terkait:
Link: http://sofyanruray.info/antara-madu-dan-madu/

PERINGATAN KERAS dari 'BAHAYA SYIAH'


Sekedar mengingatkan.....

Apakah peristiwa 'berdarah' di Suriah setelah itu 'pembantaian' di Yaman tidak menjadi pelajaran bagi kita???
Berapa banyak masyaikh di Yaman???
Berapa banyak markaz ilmu di sana??? dan
Berapa banyak ahlussunnah di negeri Yaman???

jawabannya : Banyak sekali...

Tapi kenapa negeri itu sekarang dikuasai Syiah? para masyaikhnya mengungsi di Saudi dan tempat lainnya?...
Masjid-masjid dan markaz-markaz ahlussunnah dikuasai mereka?...
Ahlussunnah banyak yang ditangkap pihak mereka?...
dan berapa banyak lagi yang dibantai mereka?....
Apakah kita masih menganggap Syiah itu kecil?...
meremehkan bahaya mereka?...

Memang kita tidak boleh takut kepada mereka... tapi apakah kita tidak boleh mewaspadai mereka dan memperingatkan kaum muslimin atas bahayanya?

Sedangkan sejarah mereka selalu 'dilumuri' darah ahlussunnah... sampai hari ini... sampai detik  ini....
Apakah kita tidak boleh mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kebiadaban mereka???...
sedangkan Allah telah memerintahkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi orang-orang kafir....

dan Syiah lebih berbahaya dibandingkan dengan orang kafir asli...

Atau menunggu leher kita 'digorok' oleh mereka....

atau menunggu belas kasihan orang lain untuk menolong kita ..?

Ambillah pelajaran dari apa yang terjadi... wahai orang-orang yang berakal

Lawan syiah.... Sadarkan kaum muslimin dari bahaya mereka....

dan jika pintu jihad telah terbuka,,, bersiaplah untuk menghadapi mereka.. dan tidak ada pilhan lain kecuali hidup dengan kemuliaan atau mati syahid...

Sadarlah kaum muslimin... SYIAH BUKAN ISLAM...


Cilacap, 08 November 2014

Abu Abdillah hafidz

Minggu, 07 Desember 2014

Dakwah Salafiyyah Dakwah Haq



Oleh : Ustadz Alfian
Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengajak untuk berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang diimani, dipahami, dan diterapkan oleh para Salafush Shalih. Para juru dakwah/da’i Dakwah Salafiyyah mengambil ilmu dari para ‘ulama Dakwah Salafiyyah pada setiap zaman. Mereka berguru kepada para ‘ulama rabbani Setiap dakwah yang tidak tegak di atas prinsip ini maka itu adalah dakwah yang menyimpang dari jalan yang benar dan lurus.
Apa itu as-Salafiyyah?
Sebagian pihak memaknakan salafiyyah adalah nisbah kepada salaf yang maknanya adalah terdahulu. Yang berarti nisbah kepada zaman yang terdahulu, atau tempo dulu, atau tradisional. Sehingga sering dijumpai pesantren salafiyyah artinya pesantren yang masih menerapkan cara pengajaran tradisional. Lawannya adalah pesantren modern. Ini adalah pengertian salafiyyah yang salah kaprah.
Apa makna yang benar?
Berikut kita tinjau bagaimana penjelasan para ‘ulama dalam hal ini. Dalam kamus “Lisanul ‘Arab” dijelaskan sebagai berikut :
“Salaf adalah orang-orang yang mendahuluimu, baik ayah dan kakek-kakekmu ataupun karib kerabat yang mereka itu di atasmu dalam umur dan keutamaan.” (lihat Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur IX/158)
Dalam salah satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda kepada Fathimah Az-Zahra putri beliau:
“Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) adalah aku untukmu.” (HR. Muslim).
Itulah makna kata Salaf secara pengertian bahasa (etimologi). Adapun secara terminology (istilah), makna Salaf adalah sebagaimana diterangkan oleh para ‘ulama berikut :
Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, I/55).
Al-Qalsyani berkata:
“as-Salafush Shalih adalah generasi pertama (umat ini) yang mendalam keilmuannya, berpegang kepada hidayah (bimbingan) Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, menjaga sunnah beliau, yang Allah pilih mereka untuk menjadi shahabat nabi-Nya, Allah pilih mereka untuk menjadi para penegak agama-Nya, Allah ridha mereka sebagai para imam bagi umat ini. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, mencurahkan segala upaya untuk memperbaiki dan memberikan kebaikan untuk umat, bahkan mereka siap mempertaruhkan jiwa mereka demi meraih ridho-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه}
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah (At Taubah:100)
Al-Bajuri berkata :
“Salaf adalah generasi yang hidup pada masa tiga abad yang utama, yaitu para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.” Merekalah yang disebut sebagai as-Salafush Shalih
Adapun As-Salafy adalah nisbah kepada para ‘ulama dari kalangan as-Salafush Shalih tersebut.
As-Sam’ani (w. 562) dalam kitabnya Al-Ansab (III/273) mengatakan:
“As-Salafy adalah nisbah kepada generasi Salaf, dan berkeyakinan dengan metodologi mereka.”
Adz-Dzahabi juga mengatakan:
“As-Salafy adalah seorang yang berjalan di atas metodologi Salaf.”
Maka Dakwah As-Salafiyyah merupakan dakwah yang mengajak untuk berpegang kepada manhaj salaf. Yang tidak lain adalah dakwah yang mengajak untuk kembali kepada kemurnian Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana diyakini dan diamalkan oleh para ‘ulama dari kalangan as-Salafush Shalih. Dakwah As-Salafiyyah tidak lain merupakan dakwah yang mengajak kepada apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya :

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
Apa yang aku dan para shahabatku ada di atasnya. )
Sehingga Salafy tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang berpegang teguh terhadap Al-Quran dan As-Sunnah dan bersatu di atasnya dengan menjadikan para as-Salafush Shalih sebagai rujukan utama dalam memahami dan menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut. Kata Salaf atau Salafy bukankah kata yang muncul baru-baru ini saja, sebagaimana dipahami atau dikesankan oleh sebagian pihak. Kata ini sangat akrab dalam kitab-kitab para ‘ulama.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) – penulis kitab Shahih Al-Bukhari yang disepakati sebagai salah satu kitab rujukan utama oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah – menyebutkan dalam kitab Shahih-nya tersebut :

باب الركوب على الدابة الصعبة والفحولة من الخيل وقال راشد بن سعد كان السلف يستحبون الفحولة لأنها أجرى وأجسر
Bab tentang Mengendarai Hewan Yang Kuat dan Kuda Jantan. Rasyid bin Sa’d berkata, “Dahulu para Salaf menyukai kuda jantan yang ia lebih tangkas dan lebih cepat. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah – salah seorang ‘ulama besar dari kalangan Syafi’iyyah – menjelaskan makna Salaf pada perkataan Rasyid bin Sa’d di atas, “yaitu dari kalangan para shahabat dan para ‘ulama setelahnya.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah juga berkata :

باب ما كان السلف يدخرون في بيوتهم وأسفارهم من الطعام واللحم وغيره
Bab Bahwa Salaf dulu menyimpan makanan, daging, dan lainnya dalam rumah-rumah mereka atau dalam safarnya.
Al-Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (w. 181 H) – salah seorang ‘ulama besar dari kalangan tabi’it tabi’in – juga pernah berkata di hadapan khalayak ramai, “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena sesungguhnya dia telah mencela salaf.” (lihat Muqaddimah Shahih Muslim)
Kata Salafy juga akrab dan banyak disandang oleh para ‘ulama besar dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah. Di antaranya apabila kita buka kitab Siyar A’lamin Nubala’ atau lainnya, kita dapati :
- Adz-Dzahabi mengatakan dalam biografi Ya’qub Al-Fasawi :”Tidaklah aku ketahui Ya’qub Al-Fasawi kecuali dia itu seorang salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XIII/183).
- Dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani:”Dia adalah seorang yang kuat beragama, baik, dan seorang salafi.” (Mu’jam Asy-Syuyukh II/280).
- dalam biografi Ahmad bin Ahmad bin Na’mah Al-Maqdisi : “Dia berjalan di atas aqidah salaf.” (Mu’jam Asy-Syuyukh I/34).
- dalam biografi Ibnush Shalah, :”Beliau adalah seorang salafi, baik aqidahnya, tidak terjatuh dalam ta’wilnya para ahli kalam.” (Tadzkiratul Huffazh IV/1431)
- Dalam biografi ‘Utsman bin Kharzad Ath-Thabari :”yang diperlukan oleh seorang “Al-Hafizh” adalah hendaknya ia menjadi seorang yang bertaqwa, cerdas, ahli nahwu, ahli  bahasa, bersih jiwanya, pemalu, dan salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XIII/380).
- Dalam biografi Az-Zubaidi :”Dia seorang yang hanif (bertauhid), dan seorang salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/317).
- Dalam biografi Ibnu Hubairah, :”Dia seorang yang sangat mengerti madzhab, bahasa ‘arabi, ilmu syair, dan seorang salafi, atsari (pengikut atsar/hadits).” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/426).
- Dalam biografi Ibnu Al-Majd :”Dia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabt (kuat hafalannya), cerdas, salafi, dan bertaqwa.” (Siyar A’lamin Nubala’ XXIII/118).
- Dalam biografi Yahya bin Ishaq, “Dia adalah seorang yang sangat mengerti berbagai madzhab, orang yang baik, tawadhu’, salafi, …. .” (Mu’jam Asy-Syuyukh no. 957).
Sehingga penggunaan kata salaf atau salafi sebenarnya sudah banyak dipakai dan disebutkan oleh para ‘ulama besar ahlus sunnah dalam kitab-kitab induk ahlus sunnah, dan banyak disandang oleh para ‘ulama ahlus sunnah. Sehingga sebenarnya tidak ada masalah dengan kata “salaf” atau “salafi”; karena kata tersebut sebenarnya merupakan padanan dari kata “ahlus sunnah wal jama’ah”. Maka sangat disayangkan, muncul di negeri ini kelompok atau pihak yang mengklaim diri sebagai “ahlus sunnah” yang paling sah justru mempersoalkan kata tersebut, atau menjelek-jelekkannya.
Para pembaca yang budiman, ….
Dari penjelasan di atas, jelaslah Salafy atau Ahlus Sunnah tidak lain dan tidak bukan terdiri dari para ‘ulama besar, yang mereka berjalan di atas manhaj salaf, atau manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yakni manhaj yang Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para shahabatnya berjalan di atasnya. Mereka adalah ath-thaifah al-manshurah yang diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلىَ الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ
Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang (thaifah) yang selalu tampak di atas Al Haq, tidak akan menyusahkan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mau menolong) mereka sampai datang keputusan Allah (hari kiamat). [HR. Al Bukhari – Muslim]
Musa bin Harun rahimahullah : Aku telah mendengar Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya tentang hadits yang berlafazh (artinya) :
‘umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan…’
beliau mengatakan : “Jika yang dimaksud bukanlah ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa mereka.”
Dalam riwayat lain dengan lafazh :“Jika Ath-Thaifah Al-Manshurah ini bukan Ash-habul Hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.” )
Dalam riwayat lain : “Mereka adalah ahlul ‘ilmi dan ahlul atsar.” )
Berkata Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah:“Menurutku mereka adalah para ‘ulama Ahlul Hadits.” )
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah dalam Shahih-nya berkata : Bab : Sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam :
“Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran dan mereka berperang”
Al-Bukhari berkata : “Dan mereka adalah para ‘ulama.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menerangkan pernyataan Al-Bukhari [Mereka adalah para ‘ulama] : “Ini adalah penegasan Al-Imam Al-Bukhari, dan telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi hadits tentang masalah ini. Kata beliau : “Aku mendengar Muhammad bin Isma’il – yakni Al-Bukhari – berkata : Aku mendengar Ali bin Al-Madini berkata : “Mereka adalah ash-habul hadits.”
Ketahuilah bahwa para ‘ulama sepakat menyatakan bahwa Ath-Thaifah al Manshurah itu adalah Al-Firqatun Najiyah yang keduanya itu adalah ahlul hadits. Di antara para ‘ulama yang menyatakan itu antara lain :
1. ‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah wafat th. 181 H.
2. ‘Ali bin Al Madini rahimahullah wafat th. 234 H
3. Ahmad bin Hanbal rahimahullah wafat th. 241 H
4. Ahmad bin Sinan rahimahullah wafat th. 256 H
5. Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari rahimahullah wafat th. 256 H
6. ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah rahimahullah wafat th. 267 H
7. Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah wafat th. 276 H
8. Muhammad bin Hibban rahimahullah wafat th. 354 H
9. Muhammad bin Al Husain Al-Ajurri rahimahullah wafat th. 390 H
10. Muhammad bin Abdullah Al-Hakim An-Naisaburi rahimahullah wafat th. 405 H
11. Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah wafat th. 463 H
12. Al Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah wafat, th. 516 H
13. ‘Abdurrahman bin Al-Jauzy rahimahullah wafat th. 597 H
14. Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah wafat th. 676 H
15. Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah Syaikhul Islam rahimahullah wafat th. 728 H
16. Ishaq bin Ibrahim Asy-Syathibi rahimahullah wafat th. 790 H
17. Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah wafat th. 852 H
Perhatikan penegasan Al-Imam Ahmad rahimahullah, “Jika mereka Ath-Thaifah Al-Manshurah itu bukan ahlul hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.”
Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan, “Maksud Al-Imam Ahmad adalah bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah dan orang-orang yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.” (Fathul Bari I/164)
Jadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Al-Firqatun Najiyah, mereka adalah Ath-Thaifah Al-Manshurah, mereka adalah Ahlul Hadits, mereka adalah Salafy.


Hukum Shalat Sunnah/Nafilah pada hari Rabu di pengujung bulan Shafar


Soal ke empat dari fatwa no.1619
Soal 4: Sesungguhnya sebagian Ulama di negeri kami mereka menyatakan bahwasanya dalam Agama Islam ada shalat nafilah yang dikerjakan pada hari rabu di pengujung bulan Shafar, tepatnya di waktu shalat dhuha caranya shalat 4 raka’at dengan satu kali salam. Dibaca pada setiap raka’at itu Fatihatulkitab dan surat Al Kautsar  17 kali, dan surat Al Ikhlash 50 kali, dan Mu’awidzatain (Al Falaq&An Nas) satu kali, satu kali. Yang demikian itu dikerjakan pada setiap kali raka’at dan salam.  Dan ketika salam disyariatkan untuk membaca:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS Yusuf 12:21] 360 kali, dan Jauharotul Kamal 3 kali, dan ditutup dengan bacaan:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Dan bersedekah roti  untuk diberikan kepada orang faqir. Dan keistimewaan ayat-ayat ini adalah guna menolak bala (malapetaka) yang turun pada hari rabu dipengujung bulan shafar. Dan perkataan mereka: “Sesungguhnya diturunkan pada setiap tahun 320.000 bala, dan semua itu terjadi pada hari rabu terakhir dari bulan Shafar, maka jadilah hari itu sebagai hari terberat yang ada pada setiap tahun. Oleh karenanya, barangsiapa yang melakukan shalat dengan tata cara tersebut, maka Allah dengan kemuliaanNya akan menjaga dia dari seluruh bala (malapetaka) yang turun pada hari itu dan tidak akan sial bagi lingkungan sekitarnya, karena hal itu akan menjadi penyapu yang bisa diserap daripadanya oleh orang-orang yang tidak mampu menunaikan ritual tata cara tersebut seperti anak-anak.”
Dan apakah hal ini boleh atau tidak?

Jawab 4:
Shalat Nafilah/Sunnah ini yang telah disebutkan dalam soal, kami tidak mengetahui padanya memiliki asal landasannya dari Al Kitab dan tidak pula As Sunnah. Dan tidak ada secara tsabit/pasti  pada pengetahuan kami bahwasanya ada salah seorang Salaf (pendahulu) umat ini dan orang-orang shalih setelahnya yang mengerjakan shalat nafilah semacam ini, bahkan itu adalah bid’ah yang munkar. Dan sungguh telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam bahwasanya Beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya  perintah kami, maka amalan itu tertolak.”
Dan juga:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka perkara itu tertolak.”
Dan barangsiapa yang menyandarkan shalat semacam ini dan apa saja yang telah disebutkan beriringan dengannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam atau menyandarkannya kepada salah seorang dari kalangan Shahabat radhiallahu ‘anhum, maka sungguh dia telah berbuat kejahatan dusta terbesar, dan hukuman atasnya adalah dari Allah, hukuman yang sesuai dari berbagai macam akibat untuk para pendusta.
Wabillahi taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wasallam.
Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsil ilmiyah wal ifta
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil ketua: Abdurrazaq Afifi
Anggota: Abdullah Ghudayan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud

Alih Bahasa: Miftahudin bin Ahmad Nur Asbani
Senin, 1 Shafar 1436 H

Sumber : www.mahad-ibnulqoyyim.com
Ponpes Ibnul Qoyyim Cireong Rawajaya Bantarsari Cilacap





 

Blogger news

Blogroll

About