BTemplates.com

Pages

Minggu, 14 Desember 2014

MARI ULURKAN TANGAN KITA UNTUK MEMBANTU SAUDARA KITA DI BANJARNEGARA [NEW INFO]



Bismillahirrahmaanirrahiim
Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para shahabatnya, dan seluruh pengikutnya sampai hari kiamat. Aamiin

Innaalillahi wainnaa ilaihi roji’un…….
Sebagaimana telah diberitakan di berbagai media massa, salah satunya di : http://regional.kompas.com/read/2014/12/13/14502861/Foto-foto.Bencana.Longsor.di.Banjarnegara bahwa saudara-saudara kita kaum muslimin di wilayah Banjarnegara tepatnya di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karang kobar, Kabupaten Banjarnegara (Lokasi tersebut berjarak + 4 km dari rumah orang tua Al Ustadz Abu Bakar Al Banjary –hafidzahullah- yang beliau menjadi Mudir/Pimpinan Ponpes utsman bin Affan Rawajaya Bantarsari cilacap), yang mereka sedang mengalami musibah bencana tanah longsor pada hari Jumat sore tanggal 12 Desember 2014 dengan kondisi sebagai berikut :
- 27 jiwa korban meninggal (info sampai hari ini ahad, 14 desember 2014)
- 81 orang masih dicari
- 592 warga mengungsi
- Puluhan rumah hancur dan tertimbun longsor (sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141214_update_banjarnegara
Maka kami dari Pondok Pesantren Utsman bin Affan Rawajaya, Bantarsari Cilacap merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudara kita di Banjarnegara yang sedang tertimpa musibah dengan beberapa tahapan :
1. PENGGALANGAN DANA
2. TERJUN KE LOKASI ( Untuk menyerahkan dana bantuan dan tausiyah).
Bantuan Anda dapat disalurkan melalui rekening :
BRI 6673 01 009597 532 AN. TEGUH WALUYO
 
BNI 0258200700 AN. DIDIN SUPRIADI
Mohon untuk konfirmasi bantuan Anda ke Nomor : 085223346334 Al Ustadz Abu Bakar /
085647710225 Teguh Waluyo

Insya Allah BANTUAN ANDA KAMI SALURKAN TEPAT SASARAN ke korban bencana
dan akan kami laporkan melalui website ini.... 
Jazakumullahu khaira atas kepedulian Anda, semoga menjadi timbangan amal sholeh di akhirat nanti…


Selasa, 09 Desember 2014

LOGO MA'HAD UTSMAN BIN AFFAN

Bismillahirrahmaanirrahiim

Logo Ma'had Utsman bin Affan Rawajaya Bantarsari Cilacap









Senin, 08 Desember 2014

JAGA KEMULIAANMU YAA IKHWAN DAN AKHWAT


(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)
Pamer aurat, tabarruj1, khalwat2, dan ikhtilath3 menjadi sesuatu yang dianggap biasa oleh para wanita zaman sekarang. Seakan-akan semua itu bukanlah suatu dosa. Ditambah embusan-embusan beracun dari para hidung belang dan perusak tentang gambaran wanita yang “maju”, yang menjadi dambaan dan idola, jadilah para wanita semakin bersemangat dan saling berlomba mencapai kemajuan semu yang hendak digapainya. Tentu, dengan tidak lupa memoles wajah dan menata busananya saat tampil di hadapan orang banyak.
Berbincang, bergurau, dan tertawa dengan lawan jenis yang bukan apa-apanya sudah dianggap kelaziman dalam bersosialisasi. Yang menyedihkan, wanita-wanita berkerudung tidak mau ketinggalan. Mereka turut berlomba dengan wanita kebanyakan dalam hal meraih “kemajuan”, peduli busana indah, dan penampilan memikat. Muncullah model-model busana muslimah tabarruj plus kerudung yang amat jauh dari tuntunan syariat. Alih-alih menutup aurat dari pandangan lelaki ajnabi, ia malah memamerkan keindahan kerudung dan pakaian yang dikenakannya. Jatuhlah diri ke dalam dosa, dalam keadaan merasa telah menunaikan kewajiban agama sebagai perempuan.
Para muslimah yang berjilbab (baca: berkerudung) ini pun tidak mau ketinggalan dalam hal berinteraksi “bebas” atau “bebas terbatas” dengan lawan jenis, baik dengan dalih teman sekolah, rekan sekerja, kawan semajelis taklim, saudara, maupun alasan lainnya.
Sungguh, ini adalah sebuah musibah. Petaka pasti menjadi buahnya. Sungguh, Islam telah memberikan aturan yang agung, bagaimana seharusnya seorang wanita bertingkah laku agar tidak menjadi sebab kerusakan di masyarakat, yang akhirnya mengundang kemurkaan Rabbul Alamin.
Islam menuntunkan agar kaum wanita, terkhusus para muslimah, menjaga kemuliaan diri serta tidak merendahkan harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, seseorang yang melepaskan diri dari aturan Islam tidak akan beroleh kemuliaan hakiki. Justru kehinaan dan kerendahan yang akan menyertainya, walaupun manusia memandang sebaliknya. Seorang wanita yang pamer aurat di depan kamera atau di atas catwalk—karena profesinya sebagai artis/fotomodel atau peragawati—sesungguhnya dia adalah wanita yang hina dan rendah walau manusia yang jahil mengelu-elukannya sebagai bintang atau selebritas yang menjadi idola.
Dengan demikian, apabila seorang wanita ingin mulia, hendaknya ia tidak mengikuti selera orang-orang rendahan. Ikutilah aturan Islam yang diturunkan oleh Rabbul Alamin, Dzat yang paling tahu urusan yang memberi kemaslahatan kepada para hamba.
Asy-Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam bukunya Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, pada bagian yang kesepuluh, menyebutkan beberapa hal yang berperan dalam hal menjaga kemuliaan diri dan kehormatan seorang wanita. Di antaranya bisa kita ringkas sebagai berikut.
1. Sebagaimana halnya lelaki, wanita juga diperintahkan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.
Allah l berfirman,
Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mukminin, “Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Memberitakan apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada kaum mukminat, “Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka….” (an-Nur: 30—31)
Asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi t, guru asy-Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah, dalam tafsirnya Adhwa’ul Bayan mengatakan, “Allah l memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari berbuat zina, liwath (homoseksual), dan lesbian. Di samping itu juga menjaga kemaluan agar tidak sampai terlihat oleh manusia (yang tidak halal melihatnya, -penerj.) dan tidak membukanya….”
Hingga ucapan beliau, “Allah l menjanjikan bagi orang yang melaksanakan perintah-Nya dalam ayat ini, dari kalangan lelaki dan perempuan, akan beroleh ampunan dan pahala yang besar, apabila bersamaan dengan itu ia juga melakukan hal-hal yang disebutkan dalam surat al-Ahzab, yaitu pada firman-Nya,
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya (menjaga kemaluan mereka), laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah (berzikir), Allah telah siapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35) (Adhwa’ul Bayan, 6/186—187)
Al-Allamah Ibnul Qayyim t berkata dalam al-Jawabul Kafi (hlm. 232—233) tentang menundukkan pandangan, “Pandangan yang tiba-tiba (tanpa disengaja) merupakan penunjuk syahwat dan utusannya. Menjaganya merupakan pokok/landasan penjagaan kemaluan. Maka dari itu, siapa yang mengumbar pandangannya berarti ia telah menggiring jiwanya ke tempat kebinasaan. Nabi n bersabda kepada Ali bin Abi Thalib z,
لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّمَا لَكَ الْأُوْلَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْأُخْرَى
“Janganlah engkau mengikuti satu pandangan (yang tiba-tiba tanpa disengaja -penerj.) dengan pandangan berikutnya. Yang menjadi milikmu hanyalah yang awal, sedangkan yang berikutnya bukan untukmu.” (HR Abu Dawud no. 1865, at-Tirmidzi no. 2777, dan Ahmad 5/353, 357. Dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud, Shahih at-Tirmidzi, dan Hijabul Mar’ah hlm. 34)
Beliau t juga mengatakan, “Pandangan mata adalah asal seluruh kejadian yang menimpa manusia. Hal ini karena pandangan itu menghasilkan lintasan/betikan hati, yang kemudian membuahkan pikiran, lalu memunculkan syahwat. Syahwat kemudian mendorong adanya keinginan. Keinginan itu bertambah kuat hingga membulatkan tekad kokoh yang akhirnya mengantarkannya kepada perbuatan. Ini adalah satu hal yang pasti terjadi apabila tidak ada sesuatu yang menghalangi. Oleh karena itu, dinyatakan, “Bersabar untuk menundukkan pandangan itu lebih ringan daripada bersabar menanggung penderitaan yang datang setelahnya.” (hlm. 234)
Maka dari itu, sepantasnya Anda, wahai muslimah, menundukkan pandangan dengan tidak memandang lelaki ajnabi. Jangan pula Anda melihat gambar-gambar yang mengundang godaan yang ditampilkan oleh majalah tertentu, atau yang ditayangkan layar televisi dan film. Selamatkan diri Anda dari akibat yang buruk. Betapa banyak pandangan mata mengakibatkan penyesalan pada pelakunya. Ketahuilah, api yang besar itu berawal dari percikan api yang kecil.
2. Termasuk upaya menjaga kemaluan adalah menghindari mendengarkan musik dan nyanyian.
Al-Imam al-Allamah Ibnul Qayyim t menyatakan, “Termasuk tipu daya setan yang menimpa orang yang sedikit ilmu, akal, dan agamanya, serta menjerat hati orang yang bodoh dan batil, adalah mendengarkan siulan, tepuk tangan, dan nyanyian dengan alat-alat musik yang diharamkan. Hal-hal ini semua memalingkan hati dari al-Qur’an. Ia menjadikan hati itu berdiam tekun dalam kefasikan dan maksiat. Nyanyian ini adalah qur’an setan, hijab (tirai penghalang) tebal yang menghalangi dari ar-Rahman. Nyanyian adalah ruqyah/jampi-jampi liwath (homoseksual) dan zina.” (Ighatsatul Lahafan, 1/242—248, 264—265)
Ibnul Qayyim t juga mengatakan, “Mendengarkan nyanyian dari seorang wanita atau anak lelaki yang belum tumbuh kumis/jenggotnya termasuk perkara yang sangat haram dan paling dahsyat kerusakannya terhadap agama….”
Hingga ucapan beliau, “Tidaklah diragukan, setiap orang yang punya kecemburuan akan menjauhkan istrinya dari mendengar nyanyian, sebagaimana halnya ia menjauhkan mereka dari sebab-sebab yang membuat keraguan terhadap kehormatan mereka.”
Maka dari itu, wahai muslimah, berhati-hatilah Anda dari penyakit berbahaya ini, yang sangat disayangkan justru laris di kalangan kaum muslimin dengan berbagai sarana dan beragam cara. Seolah-olah tidak bisa terbayang hidup tanpa musik dan lagu.
3. Termasuk upaya penjagaan terhadap kemaluan adalah mencegah wanita melakukan safar melainkan jika disertai mahramnya yang akan menjaga dan melindunginya dari keinginan jelek orang-orang fasik.
Abu Hurairah z berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ عَلَيْهَا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar sehari semalam kecuali bersama mahramnya.” (HR. al-Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 3255)
Apabila ada yang menyatakan, mahram si wanita mengantarkannya sampai naik ke dalam pesawat setelah itu meninggalkannya, dan nanti ketika sampai ke negeri atau kota yang dituju maka mahramnya yang lain akan menjemputnya di bandara. Toh, pesawat terbang aman, menurut anggapan mereka. Di dalamnya banyak penumpang, baik pria maupun wanita.
Kita jawab, hal itu tidak benar. Justru pesawat lebih besar bahayanya daripada kendaraan lain karena para penumpang bercampur baur di dalamnya. Bisa jadi, si wanita harus duduk bersebelahan dengan lelaki ajnabi (asing, bukan mahram). Bisa jadi pula, ada sesuatu yang menghalangi penerbangan pesawat tersebut ke tempat yang hendak dituju sehingga pesawat harus mendarat di bandara lain. Tentu si wanita tidak akan menemui orang yang menjemputnya sehingga ia pun berhadapan dengan bahaya. Apa kiranya yang akan diperbuat oleh seorang wanita di sebuah negeri/kota yang tidak dikenalnya dan tidak ada mahramnya di tempat tersebut?
4. Termasuk yang bisa menjaga kemaluan adalah melarang khalwat antara wanita dan lelaki yang bukan mahramnya.
Rasulullah n bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali ia berduaan dengan wanita yang tidak ada mahram bersamanya, karena yang ketiganya adalah setan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Al-Imam asy-Syaukani t berkata, “Khalwat dengan wanita yang bukan mahram adalah masalah yang disepakati keharamannya. Hal ini dihikayatkan oleh al-Hafizh t dalam Fathul Bari. Alasan pengharamannya adalah apa yang disebutkan dalam hadits di atas, yaitu pihak yang ketiga dari keduanya adalah setan. Tentu kehadiran setan akan menjerumuskan keduanya ke dalam maksiat. Adapun apabila bersama keduanya ada mahram si wanita, dibolehkan karena terhalanginya maksiat dengan kehadirannya. (Nailul Authar hlm. 64—68)
Inilah beberapa hal yang bisa ditempuh untuk menjaga kemuliaan, kehormatan, dan harga diri seorang wanita, yang disebutkan oleh asy-Syaikh Shalih Fauzan. Semoga Allah l membalas beliau dengan kebaikan yang banyak. Semoga pula Allah l memberi hidayah kepada semuanya menuju jalan-Nya yang lurus.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Catatan Kaki:
1 Menampakkan perhiasan, keindahan, dan kecantikan diri di hadapan lelaki ajnabi/bukan mahram.
2 Bersepi-sepi atau berdua-duaan dengan lelaki ajnabi tanpa ada mahram atau orang ketiga.
3 Bercampur baur tanpa hijab/penghalang antara lelaki dan wanita.

http://asysyariah.com/menjaga-kemuliaan-diri/

Menangkal Perzinaan


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)
Allah l menciptakan manusia berpasang-pasangan sebagaimana halnya makhluk yang lain. Hal ini mengandung hikmah bahwa manusia itu membutuhkannya. Kebutuhan akan hal itu termasuk dalam kebutuhan biologis yang sangat besar dan mendasar. Dengan penciptaaan manusia berpasang-pasangan inilah lahir hikmah-hikmah besar di baliknya, seperti saling mencintai, menyayangi, mengasihi, saling mengenal, dan berlangsungnya keturunan manusia.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat: 13)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Untuk mewujudkan cinta dan kasih sayang yang lurus, Allah l meletakkan sebuah aturan dalam hidup yaitu agar pertemuan lawan jenis tersebut tidak melahirkan dosa dan kemaksiatan, namun justru sebaliknya yaitu mendatangkan pahala bila dijadikan sebagai ladang ibadah. Melalui tali pernikahan, sesungguhnya banyak hikmah yang akan bisa dipetik, di antaranya:
– Terjaganya pandangan dan kemaluan sehingga diletakkan pada jalan yang halal
– Terpeliharanya kehormatan
– Terwujudnya keturunan yang sah
– Mengetahui nasab
– Terjaganya sendi waris-mewarisi
– Tegaknya syariat agama, dan sebagainya.
Wanita, Godaan Syahwat Terbesar
Pembaca yang budiman, kerusakan moral dan kehancuran budi pekerti yang menimpa umat ini sesungguhnya diakibatkan karena pergaulan bebas yang tiada batas, adanya tuntutan kemerdekaan bagi kaum wanita untuk tidak mau lagi terikat dengan norma-norma agama dan menuntut adanya persamaan hak dengan kaum lelaki dalam segala bidang, tuntutan perubahan terhadap undang-undang agama yang mengikat dan membatasi gerak mereka, serta anggapan bahwa agama sebagai pengekang kebebasan, kemerdekaan, dan perampas hak-hak kaum wanita. Sosialisasi budaya jahiliah sedang disuarakan oleh para setan untuk segera menjadi aturan dalam kehidupan, dan suara-suara kebebasan wanita pun sedang gencar dikampanyekan di mana-mana. Sejarah kehidupan jahiliah akan terulang kembali kendatipun simbol-simbol yang dipakai adalah berbeda. Itulah agama kekufuran.
Semuanya ini terjadi karena jauhnya kaum muslimin dari pengajaran agama yang benar dan berkuasanya ideologi-ideologi Barat yang tidak bisa dibendung lagi oleh kaum muslimin, lebih-lebih ideologi-ideologi tersebut menjajah sistem pendidikan kaum muslimin. Di samping itu, terdapatnya kepincangan pendidikan, aturan, pengawasan, perhatian dari kedua orang tua sebagai peletak pertama dan pencetak utama kepribadian anak. Dengan kepincangan ini semua, mendorong anak untuk menjadi hidup merdeka serta lepas dari aturan agama dan aturan rumah tangga. Rasulullah n telah mengisyaratkan:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan fitnah (godaan) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada godaan kaum wanita.” (HR. al-Bukhari 5096 dan Muslim 2740 dari Usamah bin Zaid c)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Di dalam hadits tersebut terkandung penjelasan bahwa fitnah (godaan) kaum wanita lebih berbahaya daripada godaan lainnya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah l yang maknanya:
ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ
‘Telah dihiasi kepada manusia kecintaan terhadap syahwat pada kaum wanita.’ (Ali ‘Imran: 14)
Allah l menjadikannya termasuk dalam cinta syahwat dan Allah l memulai dengan kaum wanita sebelum yang lain. Ini mengisyaratkan bahwa kaum wanita merupakan pangkal kecintaan syahwat.
Sebagian ahli hikmah berkata, ‘Wanita tersebut semuanya buruk dan akibatnya yang paling jelek yaitu seseorang tidak pernah merasa puas dari mereka. Di samping itu, kaum wanita kurang akal dan kurang agamanya yang akan menyeret kaum lelaki untuk melakukan sesuatu sebagai dampak kurang akal dan kurang agama, seperti tersibukkan dalam hal mencari dunia hingga lalai mencari ilmu agama dan menyeretnya menuju kebinasaan. Ini adalah bentuk kerusakan yang paling besar’.” (Fathul Bari 9/138)
Al-Mubarak Furi dalam syarahnya terhadap Sunan at-Tirmidzi berkata, “Kecenderungan tabiat manusia kepada kaum wanita ini sering menyebabkannya terjatuh dalam keharaman. Bahkan, berakibat terjadinya pertikaian, dan munculnya permusuhan. Akibat yang paling ringan adalah dia menjadi rakus terhadap dunia karena wanita. Lantas, adakah kerusakan yang lebih besar dari ini semua?” (Tuhfatul Ahwadzi 15/74)
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu adalah manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah l menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya untuk melihat apa yang kalian perbuat. Oleh karena itu, berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita, karena sesungguhnya fitnah (ujian) pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita. Artinya, berhati-hatilah kalian dari godaan dunia dan godaan kaum wanita. Masuk dalam lafadz wanita adalah para istri dan selain mereka. Yang paling banyak godaannya adalah para istri, karena godaannya terus-menerus.
Nabi n bersabda:
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf kaum lelaki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang; dan sebaik-baik shaf kaum wanita adalah yang paling belakang dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440)
Hal tersebut karena shaf yang paling belakang bagi kaum wanita adalah yang paling jauh dari kaum lelaki, sehingga wanita mendapatkan kebaikan tersebut karena jauh dari kaum lelaki. Ini merupakan dalil bahwa jauhnya kaum wanita dari kaum lelaki dan sebaliknya, termasuk maqashid (tujuan-tujuan) syariat karena akan menutup pintu kejahatan yang banyak. (Lihat Ifadatis Syar’iyyah fii Ba’dhi al-Masail at-Thibbiyyah hlm. 7)
Tersebarnya Perzinaan, Tanda-Tanda Kiamat
Dari Anas z, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, menyebarnya kejahilan, diminumnya khamr, dan perzinaan menjadi tampak.” (HR. al-Bukhari no. 80 dan Muslim no. 2671 dari Anas z)
Dalam riwayat yang lain, Anas z, berkata tatkala ajal beliau telah dekat:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللهِ n، لَا يُحَدِّثُكُمْ بِهِ أَحَدٌ عَنْهُ بَعْدِي؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِnيَقُولُ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ -أَوْ قَال: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ- أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَفْشُوَ الزِّنَا، وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ ، وَيَبْقَى النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.
“Maukah aku sampaikan satu hadits dari Rasulullah n dan tidak ada seorang pun yang akan menyampaikannya kepada kalian sepeninggalku? Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Tidak akan terjadi hari kiamat atau termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, diminumnya khamr, menebarnya perzinaan, hilangnya (menurunnya populasi) kaum lelaki, dan tetapnya kaum wanita sehingga lima puluh wanita dipimpin oleh seorang lelaki.”
Dalam riwayat yang lain:
يَظْهَرُ الزِّنَا، وَيَقِلُّ الرِّجَالُ، وَيَكْثُرُ النِّسَاءُ
“Munculnya perzinaan, sedikitnya kaum lelaki, dan banyaknya kaum wanita.”
Terjadinya perzinaan di mana-mana karena godaan wanita adalah jerat-jerat setan. Bersamaan dengan itu, mereka adalah makhluk yang kurang akalnya dan kurang pula agamanya.
Menyebarnya perbuatan zina juga merupakan sinyalemen empat belas abad yang silam melalui lisan Rasulullah n:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أَمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Benar-benar akan muncul satu kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. al-Bukhari no. 5268)

http://asysyariah.com/menangkal-perzinaan/

Akhlak ” Bahaya yang Mengancam Keharmonisan Rumah Tangga “



Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc.
Sesungguhnya di antara doa seorang mukmin yang diabadikan Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an adalah,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
 “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)
Menurut penafsiran salaf, maksud penyejuk mata di sini bukanlah bagusnya fisik, melainkan tumbuhnya mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menyebabkan mata sejuk memandangnya di dunia dan di akhirat. Al-Hasan al- Bashri rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim ketaatan istri, saudara, dan temannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.  Sungguh, demi Allah, tiada sesuatu yang menyejukkan mata seorang muslim yang melebihi melihat anak, cucu, saudara, atau temannya taat kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/342)
Kehidupan rumah tangga termasuk salah satu sisi kehidupan terpenting yang dilalui oleh pria dan wanita karena telah mengambil bagian yang terbesar dalam kehidupan mereka. Karena itu, apabila rumah tangga ini dibangun di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta yang sejati, kecocokan yang sempurna dan saling adanya pengertian, niscaya kehidupan mereka akan bahagia.
Ketenteraman dan cinta kasih akan senantiasa menaungi kehidupan mereka. Ini artinya bahwa suami istri sedang membangun sebuah generasi yang tahu tentang arti kehidupan. Anak-anak mereka akan tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang kondusif dan dipenuhi cinta kasih.
Rumah Tangga Bahagia
Pernikahan bukan sekadar bersenangsenang menyalurkan kebutuhan biologis. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengan pernikahan, jenis manusia terus berlanjut keberadaannya untuk memakmurkan bumi ini sampai batas waktu yang Dia  tentukan.
Dengan pernikahan pula, seseorang akan mendapatkan ketenteraman batin dan terhindar dari penyimpangan seksual, dengan seizin Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
 “Di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Pernikahan sebagai tali ikatan cinta yang suci antara pria dan wanita menuntut masing-masing pihak untuk menunaikan kewajibannya terhadap yang lain. Setiap pihak menjalankan tugasnya dan mampu memainkan perannya demi terwujudnya keharmonisan rumah tangga yang didambakan.
Suami, sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan bimbingan agama kepada istrinya serta mencukupi nafkah lahir dan batin. Adapun istri, sebagai orang yang ditugasi mengurusi rumah, diharuskan menjaga harta suami, menaatinya dalam perkara kebaikan, serta mengurusi anak dan mendidiknya. Apabila suami istri tulus menjalankan tugasnya, pahala dari Allah Subhanahu wata’ala telah menunggunya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya, tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah Subhanahu wata’ala  kecuali engkau diberi pahala atasnya, sampaipun makanan dan minuman yang engkau suapkan untuk mulut istrimu.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda,
إِذَاصَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَاوَصَامَتْ شَهْرَهَا
وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا:
ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan’.” (HR. Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)
Di antara suami istri hendaknya ada saling pengertian dan tidak bersikap egois. Ketika melihat ada kekurangan dari pihak lain, janganlah hal ini dijadikan sebagai sebab untuk menanam kebencian kepadanya yang nantinya akan mengganggu keharmonisan. Ia hendaknya melihat banyak sisi kebaikannya dan kelebihan yang disandangnya. Namun, tentu tak ada masalah apabila dia berusaha memperbaiki kekurangannya dengan cara yang bijak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
لَا يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخِرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Apabila ia tidak menyukai suatu perangai pada dirinya, ia akan suka darinya perangai yang lain.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, “Bimbingan dari Nabi n bagi suami dalam hal bergaul dengan istrinya ini adalah faktor terbesar untuk (mewujudkan) hubungan rumah tangga yang harmonis. Di sini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang mukmin (suami) dari pergaulan yang jelek terhadap istrinya.
Tentunya, larangan terhadap sesuatu (mengandung) perintah untuk melakukan yang sebaliknya. Beliau memerintah suami untuk memerhatikan apa yang dimiliki oleh istrinya, berupa perangai yang indah dan hal yang sesuai dengan dirinya, lalu ia jadikan hal ini sebagai pembanding terhadap perangai istrinya yang tidak dia sukai….
Seorang yang adil akan menutup mata dari kekurangan (istrinya) karena telah lebur dalam kebaikannya yang banyak. Dengan demikian, hubungan akan tetap langgeng. Akan tertunaikan pula hakhaknya yang wajib dan yang sunnah. Boleh jadi, (dengan sikap seperti ini) seorang istri akan berusaha memperbaiki apa yang tidak disukai oleh suaminya. Adapun orang yang menutup mata dari kebaikan istrinya dan (hanya) melihat kejelekannya walaupun kecil, hal ini tentu bukan sikap yang adil. Orang seperti ini kecil kemungkinannya akan bisa hidup harmonis bersama istrinya.” (Bahjah  Qulubil Abrar hlm. 101)
Demikian pula sikap seorang istri ketika melihat kekurangan yang ada pada suaminya. Adapun menuntut penampilan yang selalu prima dan pelayanan yang selalu sempurna tentu sulit, bahkan hampir-hampir mustahil.
Badai Rumah Tangga
Kadang ketenteraman rumah tangga terusik dengan adanya problem yang berasal dari pribadi suami atau istri. Hal ini membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang tepat agar bahtera rumah tangga tetap terkendali. Apabila kita telusuri, banyak sekali faktor yang memicu munculnya problem.
Dari pihak suami, misalnya, terkadang ia tidak perhatian terhadap istrinya dari sisi pemberian nafkah, pembagian giliran bermalam yang tidak adil bagi yang beristri lebih dari satu, hubungan ranjang yang tidak memuaskan (egois), kasar dan kakunya perangai terhadap istri, anak, atau mertuanya, serta kurang memedulikan kebutuhan istri dan anakanaknya berupa perasaan aman dan nyaman.
Adapun dari pihak istri, terkadang seorang suami merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari istrinya. Terkadang seorang istri sibuk dengan aktivitas di luar rumah sehingga kebutuhan suaminya kurang terpenuhi. Demikian pula pendidikan terhadap anak kurang maksimal. Bisa juga karena perangai istri yang buruk dan tidak tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadap suaminya.
Intinya, apa pun faktor pemicu ketidakharmonisan tersebut sangat membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Mereka yang sedang dilanda masalah keluarga harusnya menyadari butuhnya mempelajari kembali kewajibankewajiban yang harus ditunaikan terhadap yang lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan agama dan nasihat orang yang berilmu. Seorang suami hendaknya ingat firman Allah Subhanahu wata’ala,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisa: 19)
Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ
“Cukup seseorang dikatakan berdosa manakala ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam Riyadhush Shalihin)
Seorang suami yang baik akan menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya. Dia akan membuang sikap egois dan siap menjadi suami yang perhatian terhadap istrinya, sekaligus bapak yang sayang terhadap anakanaknya dan tahu kebutuhan mereka. Seorang istri yang salehah akan selalu ingat besarnya hak suami atasnya sebagaimana sabda Nabi n yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ يَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintah seorang untuk sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dan selainnya)
Dia juga tidak melakukan suatu aktivitas yang sifatnya tidak mendesak yang menyebabkan suaminya terhalangi mengungkapkan gejolak cinta yang terpendam dalam hatinya atau setidaknya mengurangi kenikmatannya. Istri salehah teringat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,
لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa padahal suaminya hadir (ada di sisinya) kecuali dengan seizinnya dan tidak boleh ia memberi izin (seorang memasuki) rumahnya kecuali dengan seizin suami.” ( HR. al-Bukhari dari jalan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Istri yang salehah juga siap mengoreksi diri demi tergapainya kebahagiaan rumah tangga. Sudah saatnya bagi suami istri untuk mempelajari agama ini secara umum dan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dalam berumah tangga secara khusus, lalu mempraktikkannya dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Suami istri juga perlu selalu membangun komunikasi yang baik. Dengan demikian, ketegangan dalam rumah tangga akan hilang, setidaknya bisa diminimalisir mudaratnya.
Mewaspadai Bahaya dari Luar
Keharmonisan hidup berumah tangga adalah nikmat yang besar. Dan, setiap merasakan nikmat duniawi pasti akan selalu ada orang yang tidak menyenanginya. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Kehidupan rumah tangga beliau yang harmonis sempat diguncang oleh dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh orang-orang munafik.
Alkisah, Rasulullah n dan para sahabat dalam perjalanan pulang ke Madinah. Beliau waktu itu juga membawa istrinya. Di tengah perjalanan, istri beliau, Aisyah, ingin buang hajat. Rombongan pun berhenti menunggu Aisyah. Setelah selesai hajatnya, Aisyah kembali ke tengah rombongan dan naik di atas sekedupnya.
Tetapi, ia ingat bahwa kalungnya tertinggal. Dia pun turun kembali dan mencarinya. Setelah kembali lagi, ia dapatkan rombongan telah pergi jauh tak terkejar. Aisyah memutuskan untuk tetap di situ. Secara kebetulan, lewatlah sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiyallahu ‘anhuma yang tertinggal di belakang rombongan karena suatu keperluan. Ia pun melihat seorang wanita yang tertinggal dari rombongan.
Setelah mendekat ia pun tahu bahwa ia adalah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Shafwan mendudukkan kendaraannya lalu Aisyah menaikinya. Shafwan lantas menuntun kendaraannya hingga masuk kota Madinah tanpa ada pembicaraan antara keduanya. Orang-orang munafik memanfaatkan kejadian ini untuk menebarkan isu miring bahwa Aisyah berbuat yang tidak baik dengan Shafwan. Keharmonisan rumah tangga Nabi n pun terguncang dalam beberapa hari dan para sahabat pun ikut bersedih karenanya. Lalu Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat yang menegaskan kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha dari apa yang dituduhkan kepadanya. (Lihat Tahdzib Sirah Ibni Hisyam hlm. 109—195)
Dari kisah tersebut kita bisa mengambil faedah, di antaranya bahwa keharmonisan rumah tangga bisa terancam karena adanya faktor dari luar. Berikut di antara faktor tersebut:
1. Setan
Kedengkian setan terhadap manusia yang sudah tertanam semenjak Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Adam di hadapan para malaikat terus muncul dari waktu ke waktu. Di antara bukti nyatanya sebagaimana tersebut dalam hadits (yang artinya),
“Setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi ia (berusaha) untuk mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)
Juga disebutkan dalam hadits riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda (yang artinya),
“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu ia mengutus pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dari iblis adalah yang paling besar upaya menggodanya. Salah satu pasukannya datang (kepada iblis) lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Kamu belum berbuat apa-apa.’ Datang (lagi) salah satu dari mereka lalu berkata, ‘Aku tidak tinggalkan ia (manusia) hingga aku memisahkan antara ia dan istrinya.’ Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Kamu bagus’.” ( HR. Ahmad 3/314 dan Muslim)
Tujuan Iblis terbesar adalah memutuskan keturunan manusia sehingga lenyap keberadaannya dan menjatuhkan manusia ke dalam perzinaan yang merupakan dosa besar yang paling jahat. (Faidhul Qadir 2/517)
Oleh karena itu, hendaknya seseorang senantiasa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari godaan setan.
2. Orang yang iri dan tidak suka melihat keharmonisan rumah tangga orang lain
Rasa iri orang semacam ini terkadang semata-mata ingin agar suami istri itu ribut dan bercerai. Ada pula orang yang sifat irinya diikuti keinginan untuk terjadinya perceraian lalu ia akan menikah dengan salah satunya. Orang yang iri terkadang tega melakukan cara-cara yang bengis dan keji, seperti pembunuhan atau menyampaikan berita dusta kepada salah satu dari suami istri, sehingga timbul percekcokan yang berujung perceraian padahal berita itu belum ditelusuri kebenarannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
مَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوْكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa merusak istri seseorang atau budaknya, ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 325)
Semoga Allah Subhanahu wata’ala melindungi kita dari kejahatan orang yang hasad/iri dengki.
3. Bermudah-mudah dengan ipar
Tidak sedikit suami bermudah-mudah dengan saudara perempuan istrinya, demikian pula seorang istri dengan saudara laki-laki suaminya. Terkadang mereka masuk kepada yang lain berduaan saja padahal bukan mahramnya. Dalam benak sebagian orang, hal itu dianggap perkara lumrah dan tidak akan terjadi apa-apa, toh itu hanya ipar. Kenyataannya, tidak sedikit keharmonisan keluarga menjadi hancur berantakan karena sikap bermudah-mudah yang seperti ini.
Bahkan, dalam kondisi tertentu sampai terjadi pertumpahan darah karenanya dan terputusnya tali silaturahmi. Ini semua akibat melanggar tuntunan agama. Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang lelaki besepisepian dengan seorang wanita kecuali bersama wanita itu ada mahramnya.” (Muttafaqun ’alaihi)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda (yang artinya),
“Hati-hatilah kalian dari masuk kepada para wanita!” Ada seorang lelaki dari Anshar bertanya, “Apa pendapat Anda tentang al-hamwu (ipar dan kerabat suami)?” Nabi bersabda, “Al-hamwu itu maut.” (Muttafaqun ’alaihi)
Maksudnya, masuknya ipar atau kerabat suami kepada wanita itu seperti maut, yaitu membinasakan.
Al – Munawi rahimahullah berkata ,“Diserupakan dengan maut dari sisi sama kejelekannya dan merusaknya sehingga hal ini sangat diharamkan…. Masuknya ipar kepada wanita akan mengantarkan kepada kematian agama atau kematian (berakhirnya) wanita itu karena diceraikan saat suaminya cemburu atau dirajamnya ia apabila berzina dengan ipar.” (Faidhul Qadir 3/160)
4. Mertua
Terkadang seorang mertua mendengar problem anaknya dengan suami/istrinya. Tidak jarang, seorang mertua memberikan pembelaan terhadap anaknya tanpa melihat yang benar. Karena campur tangan mertua yang tidak mencarikan solusi yang terbaik, permasalahan semakin melebar dan perselisihan semakin tajam. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh mertua adalah mencari jalan agar suasana menjadi sejuk.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada suatu hari marah kepada istrinya, Fathimah, putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Ali keluar menuju masjid dan berbaring dengan bersandar ke tembok masjid. Nabi n datang menemui Ali yang saat itu punggungnya penuh dengan debu. Rasulullah n mengusap debu dari punggung Ali dan memintanya untuk duduk. (lihat Shahih al-Bukhari no. 6204)
Seperti inilah seorang mertua yang bijak, berusaha untuk memadamkan api kemarahan dan mendinginkan suasana.
5. Pergaulan yang tidak selektif
Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman bergaul karena ada jenis manusia yang memiliki perangai jahat. Sementara itu, agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sepergaulannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang mengikuti agama (perangai) teman sepergaulannya, maka hendaknya seorang dari kalian melihat orang yang ia jadikan teman.” ( HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Asy- Syaikh al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)
Parahnya, seorang lelaki terkadang menjalin pertemanan dengan perempuan yang bukan mahram, demikian pula sebaliknya. Terkadang juga mereka bercerita/curhat tentang problem rumah tangga masing-masing. Akibatnya, seorang wanita berani bersikap kasar terhadap suaminya dan seorang suami sudah tidak peduli lagi dengan istrinya. Bahkan, ada yang sampai terjadi perzinaan dengan teman curhatnya. Wal ‘iyadzu billah.
Sungguh, ketika keimanan telah menipis dan nyaris hilang serta sifat malu menjadi suatu yang langka, sudah semestinya seseorang berhati-hati demi keselamatan agamanya dan keharmonisan rumah tangganya. Jangan menjadi orang yang latah dan hanya ikut-ikutan.
Waspadalah dari bahaya yang mengancam, seperti bergabung dengan situs jejaring sosial yang kadang dimanfaatkan untuk kejahatan. Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik kepada seluruh muslimin baik rakyat maupun penguasanya untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa.
Wallahu a’lam.

http://asysyariah.com/akhlak-bahaya-yang-mengancam-keharmonisan-rumah-tangga/

Maukah Engkau Mengambil Sesuatu yang Rendah Sebagai Pengganti yang Baik?

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Qur'an banyak sekali mengisahkan kisah-kisah umat terdahulu. Di antaranya adalah kisah Nabi Musa bersama kaumnya, yaitu Bani Israil. Suatu kaum yang Allah turunkan pada mereka cahaya petunjuk, namun mereka lebih memilih jalan kegelapan. Allah menjadikan kisah mereka sebagai pelajaran bagi kita semua, namun kebanyakan manusia tidak memahaminya. Hingga mereka pun terjatuh ke dalam lubang yang Bani Israil terjatuh di dalamnya. Yaitu mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang jelek dan rendah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisahkan,
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ اْلأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَ قِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ الْمَسْكَنَةُ وَبَآءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika kalian (Bani Israil) berkata, "Wahai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami, apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya."

Musa berkata, "Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kalian ke suatu kota, pastilah kalian memperoleh apa yang kalian minta."

Lalu ditimpakan kenistaan dan kehinaan kepada mereka, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." (QS. Al-Baqarah: 61)

Allah telah menganugerahkan kepada mereka makanan yang baik-baik dan lebih bernilai berupa madu dan salwa, akan tetapi mereka justru memilih makanan yang lebih rendah kualitasnya. Mereka memilih sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik. Maka Allah turunkan kenistaan dan kehinaan kepada mereka disebabkan karena perbuatan mereka yang selalu menentang Allah dan Rasul-Nya.

فَلْيَحْذَرِ‌ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِ‌هِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih."(QS. An-Nur: 63)

Pertanyaan Nabi Musa tersebut akan menjadi inti dalam pembahasan kali ini. Pertanyaan yang muncul karena sikap keras kepalanya Bani Israil. Ketika diajak kepada petunjuk, mereka lebih memilih untuk berpaling. Ketika diajak untuk memasuki Baitul Maqdis, mereka tidak mau melakukannya. Ketika diperintah untuk menyembelih anak sapi, mereka enggan melaksanakannya. Mereka mengganti hal-hal yang baik dengan perkara yang jelek.

Inilah suatu keadaan yang mengubah manusia menjadi rendah derajatnya. Keadaan yang menjadi sebab turunnya musibah dan petaka. Hal inilah yang juga menjadi sebab terjadinya banyak musibah di zaman sekarang, ketika kaum muslimin enggan dan berpaling dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ اللَّـهَ لَا يُغَيِّرُ‌ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُ‌وا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Allah menurunkan kehinaan kepada suatu kaum dikarenakan perbuatan mereka sendiri, dan Allah tidak akan mengubahnya menjadi baik kecuali bila mereka mau memperbaiki keadaan mereka sendiri.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرً‌ا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُ‌وا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Al-Anfal: 85)

Di antara keindahan agama ini, agama ini mengandung petunjuk dan cahaya.

اللَّـهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِ‌جُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ‌

"Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya." (QS. Al-Baqarah: 257)

Tapi bersamaan dengan itu, banyak sekali manusia yang lebih mencintai kegelapan.

وَالَّذِينَ كَفَرُ‌وا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِ‌جُونَهُم مِّنَ النُّورِ‌ إِلَى الظُّلُمَاتِ

"Dan orang-orang yang kafir, wali-walinya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan." (QS. Al-Baqarah: 257)

Di antara keindahan lainnya di dalam agama ini, agama ini adalah ruh dari kehidupan.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُ‌وحًا مِّنْ أَمْرِ‌نَا

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami." (QS. Asy-Syura: 52)

Tapi banyak manusia yang justru mencabut ruh-ruhnya. Hingga mereka melakukan aktivitas namun hakikatnya tidak hidup, menjadi mayat yang berjalan di atas muka bumi.

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورً‌ا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِ‌جٍ مِّنْهَا

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?" (QS. Al-An'am: 122)

Demikian pula, Allah menyediakan negeri akhirat bagi hamba-hambanya. Tapi banyak dari mereka yang lebih memilih kehidupan dunia yang rendah.

فَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَمَا عِندَ اللَّـهِ خَيْرٌ‌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَ‌بِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia. Dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal." (QS. Asy-Syura: 36)

بَلْ تُؤْثِرُ‌ونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَ‌ةُ خَيْرٌ‌ وَأَبْقَىٰ

"Tetapi kalian lebih memilih kehidupan dunia. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16-17)

Allah juga membentangkan jalan bagi hamba-hambanya untuk mendapatkan rezeki yang halal.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15)

Tapi bersamaan dengan itu, banyak dari manusia justru mencari dunia dengan cara yang haram. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan,

يأتي على الناس زمان لا يبالي المرء ما أخذ منه أمن الحلال أم من الحرام

"Akan datang kepada manusia suatu zaman yang seseorang tidak peduli apa yang dia ambil. Apakah dari hasil yang halal atau yang haram."[1]

Kemudian, di antara bentuk mengganti sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik adalah seorang hamba memiliki Rabb yang ia ibadahi. Sudah semestinya ia bergantung dan berharap hanya kepada-Nya dengan begitu Allah pasti akan menjaminnya.

أَلَيْسَ اللَّـهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

"Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?" (QS. Az-Zumar: 36)

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّـهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya." (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tapi banyak dari manusia ketika terjadi kesusahan dan kesempitan justru tawakkalnya kepada manusia yang lain.

Sebagian salaf berkata ketika melihat seseorang mengadukan kesulitannya kepada orang lain,

يا هذا والله ما زدت على أن شكوت من يرحمك الى من لا يرحمك

"Wahai kamu -demi Allah- engkau tidaklah menambah apa pun selain mengeluhkan yang mengasihimu (Allah) kepada yang tak mengasihimu."

Dikatakan dalam sebuah sya'ir,

إذا شكوت إلى ابن آدم إنما *** تشكو الرحيم إلى الذي لا يرحم

Bila engkau mengadu kepada anak Adam. Engkau hanyalah mengeluhkan yang Pengasih (Allah) kepada yang tak mengasihi (manusia).[2]

Demikian pula di antara keindahan agama ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Islam sebagai agama yang dengannya kita bersatu di atas kebenaran, di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah, di atas Al-Jama'ah. Al-Jama'ah di sini memiliki dua makna. Al-Jama'ah dalam arti mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai jalannya para sahabat radhiallahu 'anhum walaupun seorang diri. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu,

الجماعة ما وافق الحق ولو كنت وحدك

"Al-Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri."[3]

Al-Imam Al-Baihaqi berkata,

إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ

"Ketika Al-Jama'ah (kaum muslimin) telah rusak maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al-Jama'ah."[4]

Kedua, Al-Jama'ah dalam arti ta'at dan patuh kepada pemimpin kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّ‌سُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ‌ مِنكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian." (QS. An-Nisa: 59)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية

"Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati seperti matinya jahiliyah."[5]

Bentuk mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik adalah seseorang lebih suka mengambil pendapatnya sendiri dalam beragama. Ketika ditunjukkan kepadanya hujjah berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, dia lebih memilih pendapatnya sendiri atau pendapat kelompoknya.

Juga, mengganti yang baik dengan sesuatu yang rendah adalah dengan keluarnya ia dari ketaatan kepada penguasa/pemerintah walaupun penguasa tersebut berbuat zhalim/fasiq.[6] Mereka melakukan kudeta, demonstrasi, sibuk mencari aib penguasa, dan mencelanya di hadapan manusia.[7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

ستون سنة من سلطان ظالم خير من ليلة واحدة بلا سلطان

"Enam puluh tahun di bawah penguasa yang zhalim itu lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa."

Keadaan manusia yang tadinya di atas kebaikan kemudian mereka keluar dari ketaatan penguasa pasti akan mendatangkan baebagai akibat yang buruk. Bisa kita lihat kejadian-kejadian yang telah berlalu di negeri ini maupun di negeri-negeri kaum muslimin yang lain dari orang-orang yang suka mengganggu dan memprovokasi, maka terlahirlah dibelakangnya berbagai kerusakan dan pelanggaran. Inilah bentuk mengganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang rendah. Namun kebanyakan manusia tidak memahaminya.

لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَ‌ةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّـهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Maidah: 100)

Semoga kita semua senantiasa menanamkan dalam diri masing-masing bahwa mempelajari ilmu agama berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar dan mengamalkannya sebagai bentuk nikmat dari Allah yang harus terus kita jaga. Jangan sampai tergantikan dengan susuatu yang lebih rendah dan lebih hina dari itu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq kepada kita semuanya untuk tetap istiqomah di atas Al-Quran dan As-Sunnah dan memberikan kesudahan yang baik.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم


Surakarta, 14 November 2014

Rizky Tulus

Catatan kaki:
[1] diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 2059
[2] dinukil dari Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid hal. 87
[3] diriwayatkan oleh Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlissunnah wal Jama'ah 1/122 no. 160
[4] dinukil dari Muhammad Abdurrauf Al-Manawi dalam Faidul Qadhir 4/99 no. 4672
[5] diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 7054
[6] dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 1847,  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس

"Akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan ada pula di tengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia."

Hudzaifah bertanya,

كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك

"Apa yang harus saya lakukan, wahai Rasulullah, jika saya menjumpai hal itu?"

Maka Rasulullah menjawab,

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

"Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat."

[7] dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/403 no. 15369, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ، ولكن يأخذ بيده فيخلوا به ، فإن قبل منه فذاك ، وإلا كان قد أدى الذي عليه

"Barang siapa ingin menasihati pemimpin, janganlah menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya ia membawanya lalu menyendiri dengannya (untuk menasihatinya). Jika diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajiban yang ditanggungnya."

Sumber: http://www.ashfiya.com/2014/11/maukah-engkau-mengambil-sesuatu-yang-rendah.html#ixzz3LG1KIvO8

Sudah Bertahun-Tahun 'Ngaji' Tapi Tak Ada Perubahan

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagai pembukaan saya ingin menuliskan sedikit nasehat dari Al-Ustadz Al-Fadhil Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi hafizhahullah. Beliau menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu akan tampak perbedaannya dengan orang yang tidak menuntut ilmu. Seperti cara dia berbicara, bersikap, berpikir, menghadapi masalah, dan selainnya. Maka ilmu itu harus diamalkan dan dijadikan sebagai kepribadiannya, karena ilmu yang bermanfaat akan tampak pada kehidupannya.

Ketika sudah bertahun-tahun menuntut ilmu dari satu majelis ke majelis yang lain, namun setelah ilmu itu kita dapatkan ternyata tidak tampak pada kehidupan kita, maka perlu diwaspadai. Bisa jadi itu adalah ilmu yang tidak bermanfaat dikarenakan niat yang salah dalam menuntut ilmu atau kemaksiatan yang menutupi jalannya ilmu untuk sampai kepada kita.

Ilmu yang bermanfaat itu memiliki beberapa tanda, ketika semua tanda itu tidak terkumpul pada diri kita maka ilmu itu belum bisa memberikan manfaat kepada pemiliknya. Ilmu itu menjadi sesuatu yang tidak memiliki nilai guna sebagaimana bisa disifati dengan,

لا يسمن ولا يغني من جوع

"Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar." (QS. Al-Ghasyiyah: 7)

Ya, mungkin di antara kita ada yang sudah lama mengenal yang namanya “ngaji”.
Kita sudah lama mengenal bahasa Arab…
Atau…
Kita sudah lama membaca Al-Qur’an…
Kita sudah lama membaca hadits-hadits nabi…
Kita sudah lama mendengar nasehat ulama…
Kita sudah lama mengikuti majelis ta’lim…
Namun…
Mungkin di antara kita masih terasa kering hatinya…
Air mata kita tak mampu meleleh di saat kalamullah diperdengarkan…
Tubuh ini masih terasa capai untuk menegakkan shalat malam…
Lisan ini masih diam ketika melihat kemungkaran…
Tangan ini masih tak bergerak di kala orang-orang yang kita kenal bermaksiat…
Ya…
Mungkin banyak di antara kita sudah lama “ngaji”, tetapi kita belum merasakan manisnya ilmu…[1]

Maka kita perlu instrospeksi, dari sisi manakah kesalahan dalam menuntut ilmu ini karena begitu banyak rintangan yang menyebabkan kita gagal dalam menuntut ilmu. Beberapa poin berikut ini merupakan faidah yang saya dapatkan dari Al-Ustadz Khaliful Hadi hafizhahullah yang kemudian sedikit saya kembangkan penjelasannya.

Tanda pertama ilmu yang bermanfaat adalah al-'amalu bihi, ilmu itu bisa diamalkan. Ketika kita mendapatkan ilmu kemudian bisa kita amalkan, maka itu adalah ilmu yang bermanfaat. Kita menanam pohon itu supaya bisa dipetik buahnya. Maka sebagaimana ilmu, kita mencari ilmu supaya mendapatkan buahnya berupa amalan shalih.

 Abu Darda radhiallahu 'anhu berkata,

لا تكون عالماً حتى تكون متعالماً ، ولا تكون بالعلم عالماً حتى تتكون به عاملاً

"Tidaklah seorang berlimu sampai ia belajar (sebelumnya), tidaklah seorang berilmu terhadap suatu ilmu sampai ia mengamalkannya."[2]

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

لا يزال العالم جاهلاً بما علم حتى يعمل به ، فإذا عمل به كان عالماً

"Seorang 'Alim (berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar 'Alim (berilmu)."[3]

Kita tahu keutamaan shalat malam misalnya, ternyata enggan dan sulit untuk shalat malam. Maka ilmu itu tidak bermanfaat. Sudah mengetahui keutamaan amalan ini dan itu tapi enggan untuk mengamalkannya, maka itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata,

ليس العلم بكثرة الرواية ولكن العلم الخشية

"Ilmu itu bukan dengan banyaknya hafalan riwayat, melainkan ilmu itu rasa takut (kepada Allah)."[4]

Kalau kita belajar, lisan kita malah semakin tajam tak ada rasa takutnya kepada Allah. Maka perlu dipertanyakan ilmu yang kita dapatkan itu.

Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata,

كفى بخشية الله علما ، وكفى بالاغترار بالله جهلا
"Siapa yang takut kepada Allah maka dia adalah orang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh."[5]
Selanjutnya yang kedua, termasuk tanda ilmu yang bermanfaat adalah tidak suka dengan pujian. Kalau ada seseorang memberikan pujian dengan mengatakan, "Antum ini masyaAllah, cerdas, hafal hadits, kadza wa kadza..." Langsung senang dan gembira, maka perlu diingat pujian itu sebenarnya untuk apa? Apakah tujuan kita belajar untuk mencari pujian manusia? Sedangkan tujuan kita mencari ilmu itu supaya takut kepada Allah. Apa yang hendak dibanggakan? Ini yang perlu dipertanyakan, apa tujuan kita dalam belajar.

Pujian manusia itu sama sekali bukan jaminan kita untuk masuk surga. Karena yang menjadi sebab masuknya kita ke dalam surga adalah amalan-amalan kita untuk mendapatkan ridha Allah bukan ridha manusia. Walaupun banyak orang yang memuji sedangkan amalan kita tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah maka tidak bermanfaat pujian itu.

Asy-Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafizhahullah memberikan nasehat,

العاقل لا يلتفت إلى ثناء الناس عليه وإطرائهم له، فهو أدرى بظلم نفسه وتقصيرها وتفريطها منهم، فلا يدع يقين ما عنده من معرفةٍ بحال نفسه لظن الناس فيه

"Orang yang berakal tidak akan merasa senang dengan pujian manusia kepadanya karena ia sadar dengan kedzaliman dirinya, kekurangannya, dan sikap bermudah-mudahan yang ada padanya. Maka janganlah merasa senang dengan sanjungan manusia karena setiap diri lebih mengetahui keadaan dirinya sendiri (dibanding orang lain)."[6]

Ketiga, tanda ilmu yang bermanfaat itu semakin tinggi ilmunya maka semakin dia tawadhu'. Akan tetapi apabila semakin tinggi ilmunya dia menjadi semakin sombong dan merendahkan orang lain maka ilmu itu tidak bermanfaat baginya.

Wahb bin Munabih rahimahullah berkata,

إن للعلم طغيانا كطغيان المال

"Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta."[7]

Abu Wahb Al-Marwazi rahimahullah berkata,

سألت ابن المبارك, عن الكِبْرِ, فقال: أن تزدريَ الناس, وسألته عن العُجب؛ فقال: أن ترى أنّ عندك شيئاً, ليس عند غيرك

"Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang kesombongan. Beliau menjawab, 'Kesombongan adalah engkau meremehkan dan merendahkan manusia.' Kemudian aku bertanya kepadanya mengenai ujub. Beliau menjawab, 'Ujub adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak ada pada selainmu."[8]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,

العلم ثلاثة أشبار، من دخل في الشبر الأول تكبر، ومن دخل في الشبر الثانى تواضع، ومن دخل في الشبر الثالث علم أنه ما يعلم

"Ilmu itu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk jengkal pertama maka ia menjadi sombong, barangsiapa yang masuk jengkal kedua maka ia menjadi tawadhu’, dan barangsiapa yang masuk jengkal ketiga maka ia baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu."[9]

Keempat, tanda ilmu yang bermanfaat itu menjadikan dirinya lari menjauhi popularitas dan jabatan. Karena orientasi mencari ilmu adalah supaya menambah rasa takut kepada Allah bukan mencari kedudukan. Bukan supaya jadi pemimpin/ketua, didengarkan omongan-omongannya di hadapan manusia, atau supaya orang lain bisa tunduk dan menghormatinya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

فلهذا كان من علامات أهل العلم النافع : أنهم لا يرون لأنفسهم حالا ولا مقاما ويكرهون بقلوبهم التزكية والمدح ولا يتكبرون على أحد

"Di antara tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah ia tidak melihat dirinya memiliki status maupun kedudukan khusus. Hatinya membenci rekomendasi dan sanjungan orang lain. Ia juga tidak takabbur di hadapan orang lain."[10]

Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata,

اعلم أن أصل الجاه هو حب انتشار الصيت والاشتهار، وذلك خطر عظيم، والسلامة في الخمول. وأهل العلم لم يقصدوا الشهرة، ولم يتعرضوا لها ولا لأسبابها، فإن وقعت من قبل الله تعالى، فروا عنها، وكانوا يؤثرون الخمول

"Ketahuilah, pondasi dari suatu kedudukan adalah senang tersebarnya reputasi, cinta ketenaran, dan kemasyhuran, padahal itu merupakan bahaya yang sangat besar. Adapun keselamatan itu terdapat pada lawannya, yakni menjauhi ketenaran. Para ulama tidak bertujuan mencari kemasyhuran. Tidak pula mereka menampakkan dan menawarkan diri untuk tujuan tersebut. Mereka juga tidak menempuh sebab-sebab yang menyampaikan ke arah sana. Apabila ternyata kemasyhuran tersebut datang dari sisi Allah Ta'ala, mereka berusaha melarikan diri darinya. Mereka lebih mengutamakan ketidaktenaran."[11]
رحم الله تعالى عبداً أخمل ذكره

"Semoga Allah Ta'ala merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya tenar/dikenal." (Al-Fudhail bin Iyadh)

Kelima, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu dia selalu berprasangka jelek kepada dirinya sendiri dan berprasangka baik kepada orang lain demi menjaga kehormatan orang lain. Dia khawatir apabila menjatuhkan harga diri orang lain.

Ini bukan suatu hal yang mudah, karena sifat manusia itu suka mencari-cari kesalahan orang lain dan lupa dengan kesalahan diri sendiri bahkan menganggap lebih baik dibanding orang lain. Tujuan kita mencari ilmu itu untuk memperbaiki kesalahan kita, maka tuntunlah diri kita masing-masing dengan ilmu yang telah kita peroleh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث، ولا تحسسوا، ولا تجسسوا، ولا تحاسدوا، ولا تدابروا، ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانًا

"Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."[12]

لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يكذبه، ولا يحقره، التقوى ها هنا، ويشير إلى صدره ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم، كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

"Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia mendzaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Taqwa itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan baginya darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya." [13]

Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu berkata,

لا تظن بكلمة خرجت من أخيك المؤمن شراًً وأنت تجد لها في الخير محملاً

"Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang diucapkan saudaramu sedang engkau masih menemukan kemungkinan makna yang baik dalam ucapannya itu."[14]

Keenam, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat itu meninggalkan ucapan, "Saya memiliki ini dan itu, saya telah berhasil dalam ini dan itu" dan yang semisalnya dengan berbangga diri. Karena ini merupakan indikasi bentuk kesombongan sedangkan ilmu itu adalah memerangi kesombongan.

Masruq rahimahullah berkata,

بحسب الرجل من العلم أن يخشى الله عز وجل , وبحسب الرجل من الجهل أن يعجب بعلمه

"Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dan cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya."[15]

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,

من أفضل أداب العالم تواضعه وترك الإعجاب بعلمه ونبذ حب الرئاسة عنه

"Di antara adab seorang yang berilmu yang paling utama adalah bersikap tawadhu' dan tidak ujub, yaitu merasa sombong, bangga, dan terkagum-kagum terhadap ilmu yang dimilikinya. Adab berikutnya, ia berusaha menjauhi kecintaan akan kepemimpinan dengan sebab ilmunya."[16]

اللهم اجعل عملي كله صالحا واجعله لوجهك خالصا ولا تجعل لأحد فيه شيئا

"Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amalan yang shalih, jadikanlah amalanku ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun (selain Engkau)." (Umar bin Khattab)
Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi penulis secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Wa billahit taufiq.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
 

Blogger news

Blogroll

About