BTemplates.com

Pages

Minggu, 03 Mei 2015

SILSILAH WASIAT TERAKHIR MUFTI AHLUS SUNNAH YAMAN ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH AL-WALID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL-WUSHOBI RAHIMAHULLAH [1]

  SILSILAH WASIAT TERAKHIR MUFTI AHLUS SUNNAH YAMAN ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH AL-WALID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL-WUSHOBI RAHIMAHULLAH [1]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
** WASIAT KEPADA **
PARA AHLUS SUNNAH
         DI YAMAN
             *****
1⃣ aku mewasiatkan kepada ahlus sunnah di Yaman hendaknya mereka mengetahui kadar serta kedudukan para syaikh mereka dan para ulama mereka, dan mereka adalah :
1. Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Abdullah Al-Imam
2. Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Yahya Al-Buro'i
3. Asy-Syaikh Al-Mubarok Muhammad bin Sholih As-Saumali
4. Asy-Syaikh Ad-Da'iyah Al-Mubarok Abdullah bin Utsman Adz-Dzamari
5. Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdurrahman bin Mar'i Al-Adeni
6. Asy-Syaikh Al-'Allamah Utsman As-Salimi
7. Asy-Syaikh Al-Fadil Abdullah bin Mar'i
maka merujuklah kalian kepada mereka dan hendaklah kalian mengambil faidah dari pengarahan-pengarahan mereka dan nasehat-nasehat mereka yang diberkahi, dan diambil faidah dari ilmu mereka dengan memberikan hasungan untuk hadir di pondok-pondok pesantren mereka, sungguh sekian umat telah mendapat manfaat dengan keberadaan pondok-pondok tersebut yang tak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah subhanahu wa ta'ala.
maka ambil lah faidah dari pondok-pondok tersebut dan hasunglah orang lain kepada pondok-pondok tersebut, pondok-pondok tersebut merupakan pembuka kebaikan dan penutup kejelekan, dan ditahdzir / diperingati orang-orang yang mentahdzir darinya.
2⃣ sebagaimana aku juga menasehatkan kepada ahlus sunnah dengan kesabaran dan tidak tergesa-gesa dan sikap berhati-hati setiap terjadi suatu perkara yang baru.
dan hendaklah tidak mendahului para ahli ilmu, bahkan sepatutnya untuk bersikap tenang dan bersabar hingga para ulama mengutarakan pendapat mereka dan hingga dikeluarkan pengarahan-pengarahan mereka, dan apa yang telah berlalu dari fitnah-fitnah merupakan sebuah pelajaran yang mencukupi untuk tidak mendahului ahli ilmu dalam hukum terhadap suatu permasalahan dan suatu kejadian.
nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
" sikap kehati-hatian itu dari Allah dan sikap ketergesa-gesaan itu dari syaithon "
Allah ta'ala berfirman :
" apabila datang suatu perkara dari rasa aman ataupun rasa ketakutan serta merta mereka menyiarkannya, seandainya mereka mengembalikan perkaranya kepada rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentu akan mengetahuinya orang-orang yang mengambil pelajaran darinya "
dan nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
" keberkahan itu ada bersama para pembesar kalian "
3⃣ aku wasiatkan semoga Allah memberi taufiq kepada kalian semua untuk saling bersatu dan berkasih sayang karena Allah dan mengetahui bagi ulama mereka kadar serta kedudukan mereka dalam pandangan syariat yang adil tanpa disertai sikap ghuluw atau meremehkan hak mereka atau kaku dalam bermuamalah terhadap mereka dan mendo'akan bagi mereka dengan taufiq dan kekokohan dalam keadaan susah maupun lapang.
4⃣ dan aku mewasiatkan kepada mereka untuk saling berkunjung dan bermusyawarah di antara mereka dikarenakan sesungguhnya yang demikian itu terdapat padanya faidah yang agung serta bimbingan yang kokoh, mengisyaratkan kepada rihlah ilmiah menuntut hadits yang bermanfaat.
sungguh nabi Allah Musa telah melakukan rihlah / safar kepada Al-Khodir dan Jabir bin Abdillah telah melakukan rihlah ke negeri Mesir hanya karena menuntut sebuah hadits dan Ahmad bin Hanbal rihlah ke negeri Yaman, dan kitab Ar-Rihlah karya Al-Khothib Al-Baghdadi tidaklah asing oleh kalian.
dan senantiasa sunnah tersebut tegak sampai hari kiamat yaitu saling berkunjung karena Allah dan melakukan rihlah dalam rangka menuntut ilmu.
📝 sumber : [ lembaran wasiat al-wushobi hal 10-12 ]
_______________________
📜 وصيتي لأهل السنة في اليمن
===================
فبالإضافة إلى تلك الوصايا العامة أوصيهم بالآتي :
1⃣ أن يعرفوا لمشايخهم وعلمائهم قدرهم و مكانتهم، وهم :
1. الشيخ العلامة محمد بن عبد الله الإمام
2. الشيخ العلامة عبد العزيز بن يحيى البرعي
3. الشيخ المبارك محمد بن صالح الصوملي
4. الشيخ الداعية المبارك عبد الله بن عثمان الذماري
5. الشيخ العلامة عبد الرحمن بن مرعي العدني
6. الشيخ العلامة عثمان السالمي
7. الشيخ الفاضل عبد الله بن مرعي
فيرجعوا إليهم و يستفيدوا من توجيهاتهم و نصائحهم المباركة و يستفاد من علمهم بالحث على الحضور إلى مراكزهم التي نفع الله بها أمما لا يحصيها إلا هو -سبحانه- قاستفيدوا منها و حثوا غيركم إليها، فهذه المراكز مفاتيح للخير و مغاليق للشر و يحذر ممن يحذر منها.
2⃣ كما أوصيهم بالصبر و التمهل و التأني كلما جد جديد و ألا يتقدموا بين بدي أهل العلم بل يتريثوا و يصبروا حتى يقول العلماء كلمتهم و تصدر توجيهاتهم، وما مر من الفتن دروس كافية في عدم مسابقة أهل العلم في الحكم على القضايا و الأحداث.
قال صلى الله عليه و سلم :
" التأني من الله و العجلة من الشيطان "
وقال تعالى { وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به و لو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم }
وقال عليه الصلاة و السلام :
" البركة مع أكابركم "
3⃣ أوصيهم وفقهم الله بالتآلف و التحابب في الله و أن يعرف لعلمائهم قدرهم و مكانتهم الشرعية العادلة دون غلو أو إجحاف لحقهم أو جفاء في معاملتهم و الدعاء لهم بالتوفيق و السداد في الشدة و الرخاء.
4⃣ و أوصيهم بالتزاور و التشاور فيما بينهم فإن في ذلك فوائد عظيمة و إرشادات سديدة واحيا للرحلات العلمية الحديثية المفيدة، فقد رحل نبي الله موسى إلى الخضير و رحل جابر بن عبد الله إلى مصر من أجل حديث و رحل أحمد بن حنبل إلى اليمن و كتاب الرحلة للخطيب البغدادي ليس عنكم ببعيد.
ولا تزال هذه السنة قائمة إلى قيام الساعة أي التزاور في الله و الرحلة لطلب العلم.

Tanya Jawab Seputar Permasalahan Jarh dan Ta’dil dan Penerapannya di Masa ini Bersama Prof. Dr. Asy-Syaikh Washiyyullah Abaas


Penanya:
Bismillaahir rahmaanir rahiim, pertanyaan pertama syaikh kami, ketika salah seorang da’i terjatuh dalam beberapa kesalahan yang berkaitan dengan pribadinya, misalkan memiliki akhlak yang buruk atau terjatuh dalam kemaksiatan. Apakah diperbolehkan menjatuhkan da’i tersebut dan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di antara manusia? Apakah kesalahan-kesalahan tersebut mengeluarkannya dari as-salafiyyah? Perlu diketahui bahwa masalah seperti ini banyak terjadi di negeri kami
Asy-Syaikh Washiyyullah Abbas:
Bismillahir rahmanir rahiim, segala puji milik Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik makhluk-Nya Muhammad, keluarganya, serta seluruh sahabatnya.
Tidak diragukan lagi bahwa manusia memiliki banyak kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat. Apabila ada dari salah seorang ikhwan, ia memiliki aqidah yang benar, ia terjatuh dalam kesalahan, berbuat maksiat, kemudian bertaubat dari kesalahannya, maka tidak diperbolehkan menyebarkan kesalahannya, bahkan kesalahan itu wajib ditutupi. Tidak diperbolehkan menyebarkan kesalahannya, wajib dijaga kepribadiannya, disampaikan nasehat kepadanya sampai ia menjauh dari maksiat insya Allah.
Demikian pula seandainya ia adalah seorang yang terus-menerus berbuat maksiat yang sangat  jelas. Dalam kasus pertama, apabila ia bertaubat, maka hal itu tidak mengeluarkannya (dari as-salafiyyah), sebagaima seorang muslim (yang berbuat maksiat) tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Sama halnya dengan maksiat yang disertai taubat, hal itu tidak mengeluarkannya dari as-salafiyyah dalam keadaan apapun.
Para sahabat dahulu terjatuh dalam maksiat, apakah maksiat tersebut mengeluarkan mereka dari sebutan sahabat? atau berakibat mereka tidak memperoleh keutamaan sahabat? tentu tidak, apalagi jika mereka telah bertaubat. Adapun apabila seorang terus-menerus berbuat maksiat tanpa takwil (anggapan keliru), terkadang ia memiliki takwil, hal ini juga tidak mengeluarkan dari as-salafiyyah.
Apabila takwil tersebut tidak bisa diterima, dalam keadaan ini, iya. Terkadang di sana terdapat sebagian orang yang menyatakan “orang ini mumayyi’ (bermanhaj lembek), keluarkan orang ini (dari as-salafiyyah), ia hizbi” atau ungkapan yang semisal. Saya berharap kepada saudara-saudaraku agar tidak mengeluarkan perkataan-perkataan semisal ini, kecuali apabila ia menampakkan perbuatan maksiatnya dan bersikap ta’ashub terhadap pendapat yang batil. Inilah yang menyelisihi manhaj salaf. Akhak yang seperti ini mengeluarkannya dari as-salafiyyah. Adapun pada kasus pertama, tidak sampai mengeluarkannya insya Allah. Saudara-saudaranya wajib menutup dan melembutkan hatinya, bukan malah semakin menjauhkannya dari kebenaran.
Penanya:
Pertanyaan kedua, apakah seorang penuntut ilmu disyaratkan harus memperoleh izin dari sebagian da’i tertentu agar ia diperbolehkan untuk berdakwah menyeru kepada Allah dan menyampaikan ilmu di hadapan manusia? Perlu diketahui bahwa kenyataan yang terjadi di negeri kami demikian. Apabila belum memperoleh izin, maka manusia dilarang hadir di majelisnya.
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Pertanyaan Anda, apabila ia belum memperoleh tazkiyyah dari para da’i yang ada di sana, kemudian ia tidak diperbolehkan untuk menyampaikan ilmu dan berdakwah, pada hakikatnya ini adalah kesalahan. Orang-orang yang meremehkan syaikh tersebut (da’i), semestinya ia merasa malu dari kelakuannya itu.
Apabila diketahui ada seorang yang -insya Allah- memiliki aqidah yang benar, memiliki akhlak, riwayat hidup dan kepribadian yang baik atau ia lulus dari salah satu fakultas di Universitas Islam (bermanhaj salaf), bahkan meskipun ia belum lulus dari kuliah, hanya menimba ilmu di pondok pesantren atau selainnya, (ia boleh berdakwah). Apakah mereka lupa dengan perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat”
Kami menyatakan, hendaklah ia berdakwah sesuai kadar ilmu yang Allah tabaraka wata’ala anugrahkan kepadanya, tidak masuk dalam permasalahan fatwa, serta tidak masuk dalam masalah-masalah yang detail. Apabila ia telah menimba ilmu di ma’had lughah, mempelajari kitab At-Tauhid atau mempelajari salah satu kitab-kitab fiqih semisal Bulughul Maram atau kitab yang lain, atau ia telah mengetahui beberapa pembahasan ilmu, maka ia wajib mengajarkan ilmu kepada manusia dan duduk mengajar di majelis ilmu, membacakan (suatu kitab) kepada mereka dan memberikan penjelasan kitab tersebut, namun ia tidak perlu masuk dalam ilmu-ilmu yang berat.
Tidak disyaratkan mendapatkan izin dahulu, apakah izin dari masyayikh di sini atau izin dari para da’i di sana, insya Allah manusia akan memberikan tanggapan baik kepadanya. Apabila ia memiliki kesalahan-kesalahan, maka orang-orang  yang menampilkan dirinya sebagai orang yang besar (ustadz kibar), hendaklah meluruskan kesalahan-kesalahannya, selama ia berjalan di atas jalan istiqamah, tidak memiliki penyimpangan aqidah maupun fiqih yang ia ajarkan kepada manusia, kenapa ia dilarang untuk mengajarkan ilmu? 
Sebagian sahabat duduk (menuntut ilmu) bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selama dua puluh hari, kemudian beliau shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ajarkanlah kepada orang-orang di belakang kalian”
Manusia wajib memahami permasalahan ini, namun jika ia adalah seorang yang bodoh bisa dilihat dari tingkah lakunya, manusia juga bisa menilai kebodohannya, tidak dikenal pernah menuntut ilmu,  tidak pula duduk bersama ulama atau selainnya, maka model orang yang seperti ini dilarang untuk berdakwah, jika telah nampak terjatuh dalam kesalahan, iya.
Penanya:
Pertanyaan ketiga, apa perbedaan antara nasihat dan tahdzir? Apakah disyaratkan menasehati sebelum memberikan tahdzir?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Wajib memberikan nasehat sebelumnya, kita mencoba untuk menasehatinya, termasuk menutup aibnya. Termasuk juga dalam hal ini sikap hikmah, lembut dan nasehat. Adapun kebalikannya, apa yang tadi Anda katakan?
Penanya:
Tahdzir
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Tahdzir tidaklah diberikan kecuali kepada orang-orang yang terus-menerus berada di atas kebatilan, setelah Anda menyampaikan nasehat kepadanya, Anda wajib menyampaikan nasehat, barangkali ia belum memahami, maka kita membuatnya faham dan duduk bersamanya. Apabila ia memang tidak mau faham dan terus-menerus berada di atas kebatilan, maka dalam keadaan ini kita memberikan tahdzir kepadanya. Wahai ikhwan, ilmu tidak diambil dari orang-orang semacam ini, karena orang itu tidak memiliki aqidah yang benar, mungkin ia meyakini aqidah yang batil atau meyakini aqidah-aqidah yang jelas-jelas menyelisihi As-Sunnah, seperti aqidah Asy’ariyyah, Maturidiyyah dan lainnya.
Demikian pula apabila ilmu yang ia miliki bukan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, ia berfatwa sekehendaknya, dalam keadaan ini tahdzir hukumnya wajib setelah Anda menyampaikan nasehat kepadanya. Apabila nasehat itu tidak diterima, barulah keluar tahdzir. Namun jika ia menerima nasehat tersebut, tidak boleh menyebarkan nasehat itu di antara manusia, sebagaimana dinyatakan para ulama: “Nasehat bukanlah membongkar aib”
Nasehat pun tidak disampaikan di hadapan manusia, harus dilakukan dengan hikmah, Anda menyendiri bersamanya, kemudian katakanlah kami melihat atau mendengar demikian dan demikian, insya Allah Anda akan meninggalkan kesalahan tersebut? Apabila ia menyatakan iya, kemudian mengakui kesalahannya insya Allah hal itu merupakan tanda kebaikan. Adapun jika ia terus-menerus di atas kebatilan dengan menyatakan, siapa Anda? Ada urusan apa Anda memberikan nasehat kepadaku? Anda… Anda… Orang semacam ini pantas ditahdzir.
Penanya:
Pertanyaan keempat, apakah jarh dan ta’dil termasuk permasalahan ijthadiyyah? Bagaimana penerapan jarh dan ta’dil di masa ini?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Permasalahan jarh dan ta’dil memiliki kaidah-kaidah, dan setiap kaidah membutuhkan ijtihad dalam penerapannya. Masalah ijtihadiyyah di sini bukanlah maknanya seorang boleh mengambil pendapat mana yang ia sukai. Bukan pula yang dimaksud ijtihadiyyah, masalah ini tidak memiliki kaidah-kaidah yang pasti. Kita memiliki kaidah-kaidah yang pasti.
Apabila kami memberikan jarh kepada Anda sekarang, tentu kami harus memiliki ilmu yang menjadi alasan untuk memberikan jarh kepada Anda. Apakah kami boleh memberikan jarh dengan alasan mengatasnamakan as-salafiyyah? aku tidak memaksudkan orang tertentu. Ini bukanlah jarh, kita harus mengetahui sebab jarh yang menjadikan seseorang di-jarh, sebagaimana hal ini telah diketahui dari seorang Syaikh, beliau memiliki kitab dalam permasalahan ini.
Seorang harus mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil. Apabila seorang di-jarh, jangan kalian mengambil ilmu darinya misalkan, apa alasannya? apabila pertanyaan ini ditanyakan, kemudian ia tidak menjawab, maka jarh tersebut tertolak. Namun apabila kenyataannya, orang yang di-jarh tersebut tidak pernah menuntut ilmu di negeri mana pun, kemudian ia tampil di antara manusia, padahal ia tidak dikenal memiliki ilmu dan riwayat menuntut ilmu, maka jarh yang semacam ini tepat dan diletakkan pada tempatnya, karena kita telah mengatahui sebab jarh.
Namun jarh yang tanpa dijelaskan sebabnya, jangan dekati fulan. Apabila seorang penuntut ilmu bertanya, apa sebabnya? Kemudian ia menjawab: “Saya hanya bisa menyatakan demikian kepada Anda”, maka jarh semacam ini tidak diterima.
Permasalahan jarh dan ta’dil tidak diragukan lagi memiliki kaidah-kaidah, seorang ulama berijtihad dalam menerapkan kaidah-kaidah tersebut. Permasalahan jarh dan ta’dil bukan ijtihadiyyah, jika yang dimaksud seorang boleh memilih pendapat sesuka hatinya. Ia harus berjalan sesuai kaidah-kaidah jarh dan taldil dan berijtihad dalam menerapkan kaidah tadi terhadap orang yang diperbincangkan. Apabila (ulama) memberikan ta’dil kepadanya, apakah memberikan ta’dil dengan ilmu atau dengn kebodohan? Setiap masalah ini memiliki syarat-syarat di sisi para ulama.
Penanya:
Benarkah pernyataan ini wahai syaikh “apabila seorang ulama memberikan jarh kepada seseorang, maka wajib mengambil jarh tersebut, karena hal ini termasuk dalam pembahasan menerima khabar tsiqah?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Iya, apabila ulama tersebut menjelaskan sebab jarh-nya kepada kita saat kita bertanya, jarh dalam keadaan ini sangat pantas diterima. Namun terkadang manusia menyampaikan berita kepadanya dengan menyatakan “seorang yang tsiqah menyampaikan kepadaku, dari fulan atau fulan berkata”. Pernyataan-pernyataan ini tidak semestinya terucap, karena kita diperintahkan untuk tatsabbut dalam segala sesuatu, meskipun berasal dari ulama besar. Karena terkadang berita yang disampaikan kepada ulama tersebut adalah kedustaan. Ulama  menyatakan sesuai apa yang Anda katakan. Apabila Anda jujur dalam menyampaikan, maka orang yang di-jarh tersebut memang tidak pantas diambi ilmunya. Namun terkadang kenyataannya tidak demikian. Meskipun ia seorang ulama besar, terkadang berita yang disampaikan manusia tidak sesuai hakikatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi oleh kaum munafik yang mengaku sebagai muslim, dan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermuamalah kepada mereka sebagaimana beliau bermuamalah bersama kaum muslimin, demikian pula seorang syaikh.
Lihatlah Malik rahimahullah, ulama menyatakan bahwa beliau (Malik) memberikan ta’dil (pujian) kepada sebagian perawi yang dha’if seperti Abdul Karim bin Abil Makhariq. Ulama berkata: “Malik tertipu oleh keindahan akhlaknya”. Oleh karena itu, wajib untuk diteliti kebenarannya, meskipun (jarh tersebut) berasal dari ulama besar. Apakah Anda mendengar berita langsung dari syaikh? Aku dengar demikian. Jelaskan padaku apa sebab jarh ulama kepada fulan? Bukan merupakan keharusan, menerima perkataan setiap orang. Jika demikian keadaannya, maka kita telah terjatuh dalam taklid, ini tidak diperbolehkan.
Penanya:
Bagaimana kita bermuamalah dalam perselisihan yang terjadi di antara ulama terkait fiqih jarh dan ta’dil?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Penggunaan istilah jarh dan ta’dil dalam menshahihkan dan melemahkan suatu hadits tidaklah dipakai kecuali di ruang kelas atau sekolah-sekolah. Namun jarh dan ta’dil yang Anda tanyakan, yang dimaksud adalah jarh terhadap fulan, jangan mengambil ilmu darinya, atau ta’dil terhadap fulan, ambillah ilmu darinya, inilah jarh dan ta’dil. Apa pertanyaan Anda?
Penanya:
Bagaimana bermuamalah dalam perselisihan yang ada?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Iya, perselisihan itu sendiri kita menimbangnya dengan timbangan keadilan, kita berbicara dengan perkataan yang adil, Paham? Kita harus menyatakan apabila fulan di-jarh, apa sebabnya? sama seperti penjelasan yang telah lalu. Kita tidak menerima semua perkataan yang berasal dari seseorang. Tidak pula kita menyatakan “seandainya jarh tersebut berasal dari ulama pun, kita tidak menerimanya”. Kita harus meneliti, apabila nampak kepadamu bahwa Asy-Syaikh Fulan memberikan jarh kepada fulan, namun Anda memiliki suatu (yang belum diketahui), sampaikan kepada Asy-Syaikh. Apabila jarh tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, kita harus menyampaikannya kepada Asy-Syaikh. Demikianlah cara bermuamalah dalam perselisihan yang terjadi saat ini.
Adapun Anda menyatakan “Kami tidak menerima perkataan Asy-Syaikh”, ungkapan ini pun keliru secara mutlak. Bisa jadi Asy-Syaikh memiliki ilmu (yang tidak Anda ketahui). Tidak pula kita menerima perkataan Asy-Syaikh dalam segala keadaan, meskipun terkadang Asy-Syaikh tertipu sebagaimana Malik rahimahullah tertipu. Permasahan ini harus diteliti dan tatsabbut dalam mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil, serta penerapan kaidah-kaidah yang ada.
Penanya:
Iya Asy-Syaikh, apa nasehat Anda terkait dengan pemaksaan-pemaksaan pendapat yang ada?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Pemaksaan pendapat?
Penanya:
Iya
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, seandainya ada orang-orang yang memaksaku untuk meyakini kebenaran yang terang, aku akan mengikutinya, baik ia memaksaku atau tidak. Apabila ia memaksaku untuk mengikuti pendapat pribadinya, (misalkan ia berkata) “jika Anda tidak menerima pendapatku, maka saya akan menjatuhkan Anda atau saya akan memerintahkan manusia untuk memboikot Anda.” Maka  hanya bisa menyatakan “Cukuplah Allah sebagai sebaik-baik pelindung”.
Penanya:
Apa kita boleh menyatakan bahwa yang dipahami dari firman Allah ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah, (dikhawatirkan) kalian akan menimpakan kebodohan kepada suatu kaum, kemudian kalian akan menyesali perbuatan kalian”.
Bisa dipahami bahwa apabila sorang tsiqah datang kepada kita, misalkan membawa berita, apakah kita wajib menerimanya dan tidak perlu diteliti lagi?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Tidak,….
Penanya:
Permasalahan tahdzir, vonis mubtadi’ dan hajr secara berantai wahai syaikh? Misalkan apabila seorang (ulama) memberikan jarh kepada seseorang, kemudian ada orang lain yang tidak menerima jarh-nya, maka orang yang kedua (yang tidak menerima jarh tersebut) divonis mubtadi’.
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, kami mengingatkan mereka agar takut kepada Allah ‘azza wajalla. Tidaklah ada perkataan yang terucap, melainkan di sisinya terdapat malaikat yang dekat dan mencatat amalannya. Anda menyatakan padaku bahwa aku mubtadi’? Anda telah mencelaku. Seandainya di sana terdapat negeri yang menegakkan Islam, kami akan mengeluh kepada hakim, kenapa Anda memberikan vonis mubtadi’ kepada saya…
Adapun semua orang harus taklid, apabila salah seorang ulama memvonis mubtadi’, maka ini adalah hizbiyyah tersembunyi. Jadilah hal itu sebagai taklid buta. As-Salafiyyah tidak mengenal taklid buta maupun sikap hizbiyyah 
Penanya:
Tahdzir berantai wahai syaikh, mereka berpendapat bahwa barangsiapa yang tidak memvonis mubtadi’ orang yang telah divonis mubtadi’, maka ia juga mubtadi’?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Ini juga merupakan kesalahan. Kami menyatakan insya Allah hal ini bukan sebuah keharusan. Mungkin nampak di sisi Anda bahwa orang ini adalah mubtadi’, kemudian aku mengamatinya, ternyata ia memiliki udzur sehingga menurutku ia bukan mubtadi’ insya Allah. Tidak ada keharusan (untuk mengikuti pendapat Anda). Demikian pula sejak masa salaf, tidak ada keharusan demikian saat mereka berselisih. Ulama ini menilai tsiqah, sedangkan yang lain memberikan jarh. Ulama yang men-jarh tidak menyatakan (kepada yang ulama men-ta’dil) jika Anda tidak memberikan jarh kepadanya, Anda adalah seorang yang majruuh. Tidak demikian..
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai syaikh
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Barakallahufiik, silahkan
Penanya:
Pertanyaan dari ikhwah Indonesia, mereka meminta arahan dan nasehat dari Anda
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Terkait masalah apa?
Penanya:
Sekarang, pertanyaan tentang ma’had, terjadi pemaksaan pendapat di wilayah kami.. bagaimana sikap yang benar yang harus kami pegang berdasarkan timbangan Al-Qur’an, As-Sunnah serta manhaj as-salaf ash-shalih terkait permasalahan Al-Akh Dzulqarnain, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam dan Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Adeni, serta pemaksaan pendapat kepada manusia agar mereka menerima jarh tersebut, hingga mereka menuntut manusia untuk menulis pernyataan rujuk dan penjelasan rujuk?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Orang-orang yang memaksa manusia untuk menulis pernyataan rujuk dan penjelasan rujuk, serta tanda tangan karena tidak menvonis mubtadi’ orang-orang yang mereka vonis, ini juga merupakan kebid’ahan dan sikap zalim yang dari mereka.
Hendaknya mereka malu kepada Allah tabaraka wata’ala, mereka telah menampilkan diri mereka seperti hakim dan raja, hingga menuntut manusia untuk menulis tanda tangan, apakah mereka tidak malu? Aku menyatakan secara terang-terangan, mereka wajib diam sebagaimana kebanyakan ulama diam terhadap vonis mubtadi’ kepada Muhammad Al-Imam, Abdurrahman Al-Adeni dan selainnya. Orang-orang yang memvonis mubtadi’ tidak perlu didengar. Apabila mereka memvonis mubtadi’, kami tidak menerima vonis mereka, karena Muhammad Al-Imam memiliki udzur.
Orang-orang yang memaksa manusia, pada hakikatnya merekalah yang mubtadi’ disebabkan pemaksaan mereka agar meyakini pendapat-pendapat mereka yang rusak. Ini bukanlah termasuk manhaj salaf. Dahulu salaf tidak memaksakan pendapat mereka kepada yang lain, karena ulama lain pun memiliki pendapat sendiri yang berlandaskan dengan dalil. Pada hakikatnya mereka telah keluar dari manhaj salaf, jika mereka terus-menerus melakukan pemaksaan.
Penanya:
Apa nasehat Anda kepada seorang yang telah menuruti paksaan mereka, ia telah menandatangani surat pernyataan dan membacakannya di hadapan manusia?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Apabila ia seorang lemah yang ingin menepis tuduhan dan berlepas diri dengan menyatakan: “aku berlepas diri” kemudian mengikuti apa yang mereka maukan, maka orang ini lemah. Orang berjiwa lemah lah yang bersedia menerima pemaksaan itu, … ia memiliki udzur. Menyepakati mereka bukan merupakan keharusan, namun jika ia mengikuti mereka dalam masalah ini, berjalan bersama mereka.
Kami katakan setiap orang tidak diharuskan menerima paksaan dari orang lain, ini jika mereka  tetap memaksa. Oleh karena itu, kami katakan, hendaklah mereka merasa malu, janganlah mempersempit hamba-hamba Allah ta’ala. Janganlah mereka memposisikan diri mereka seperti qadhi atau seperti hakim.
Penanya:
Pertanyaan terakhir wahai syaikh, tentang Sururiyyah, apa hakikat Sururiyyah, kapan seseorang dikatakan Sururiy?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, Sururiyyah yang aku pahami, aku tidak tahu banyak tentang masalah ini. Namun yang aku ketahui, nama Sururiyyah disandarkan kepada Surur bin Zainal Abidin. Ia dulu belajar di Qashim, kemudian setelah itu, ia lancang membicarakan masyayikh dan pemerintah. Ia memprovokasi para penuntut ilmu untuk ikut berbicara dan melakukan demonstrasi atau semisalnya, hingga ia pergi menuju negeri kafir dan menetap di sana sekarang.
Sururiyyah dekat dengan orang-orang yang  suka membuat kekacauan, pemberontakan dan demonstrasi, tidak lebih dari ini. Awal mulanya, mereka menyatakan ia seorang yang berakal dan mendakwahkan sunnah. Akan tetapi subhanallah, hatinya dibolak-balikkan. Sekarang ia mendakwahkan kekacauan, pemberontakan dan demonstrasi, sementara ia tinggal jauh dari negeri Islam, menetap di negara Barat. Karena mereka tahu dan mewajibkan terjun dalam kancah politik.
Mereka akan melakukan segala sesuatu yang dapat mendatangkan keridhaan negara kafir, agar terus-menerus mendapatkan rizki (uang). Mereka harus berdusta, inilah akhir kondisi Zainal Abidin, ia menjadi seorang yang miskin, demikian pula salah seorang dari Mesir. Mereka sekarang saling bersekutu, iya.
Hayyakumullah, barakallahufikum, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, keluarganya, serta para sahabatnya.
Redaksi fatwa Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
أسئلة وأجوبة حول قضية الجرح والتعديل وتطبيقه في عصرنا الحاضر مع صاحب الفضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ وصي الله عباس –حفظه الله تعالى-
السائل:بسم الله الرحمن الرحيم. السؤال الأول يا شيخنا, إذا وقع أحد الدعاة في أخطاء تتعلق بشخصيته مثل القصور في جانب الأخلاق أو الوقوع في المعاصي. فهل يجوز إسقاطه ونشر أخطائه بين الناس؟ وهل هذه الأخطاء تخرجه عن السلفية؟ علما بأن مثل هذا كثر وقوعه في بلادنا.
الشيخ وصي الله عباس: بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
لا شك أن الإنسان خطاء وخير الخطائين التوابون. فإذا كان أحد من الإخوان  وهو صاحب عقيدة سليمة أخطأ فيه, وقع في معصية. ثم تاب منه فلا يجوز فلا يجوز نشره بل يجب ستر أمره. لا يجوز نشره بل يجب ستر شخصيته, ونصحه حتى يبتعد عن المعاصي –إن شاء الله-. كذلك إذا فرضنا أنه الشخص مصر على المعصية واضحة جدا, ففي الصورة الأولى إذا تاب لاتخرجه, كما أن المسلم لا يخرج من الإسلام. كذلك مع المعصية ثم التوبة لا يخرجه من السلفية بحال من الأحوال.
الصحابة وقع في المعاصي. هل أخرجه أحد من الصحابة (....كلمة غير واضحة)؟  لا, بعد ما حصل التوبة. أما إذا كان مصرا على المعصية بدون تأويل, قد يكون هناك تأويل فهذا أيضا لا يخرجه من السلفية, لا يخرج. إذا كان التأويل غير مقبول ففي هذه الحالة, نعم. قد يكون هناك ناس يقولون: هذا مميع, وهذا أخرجوه, وهذا حزبي أو شيء من هذا النوع. فأرجو من الإخوان أن لا يسمحوا مثل هذا الكلام, إلا إذا ظهر له بالفعل على المعصية واتعصب لرأي خاص, هذا مخالف لمنهج السلف, فتخرجه هذا هنا هذه الأخلاق من السلفية. أما الحالة الأولى ما تخرجه –إن شاء الله-. ويجب على الإخوان الستر وتأليف القلب وليس إبعاده عن الجماعة.
السؤال الثاني: هل يشترط لطالب العلم أن يحصل على الإذن من بعض الدعاة المعينين حتى يسمح له للدعوة إلى الله وتعليم الناس؟ علما بأن الواقع عندنا هكذا, حيث لا يسمح لأحد أن يعلم الناس الدين حتى يكون لديه إذن وتزكية من بعض الدعاة المعينين في تلك المنطقة, وإلا فيمنع الناس عن الحضور مجلسه.
الشيخ: سؤالك أنت أنه إذا لم يكن تزكية من أحد من الدعاة الموجودين هناك, فلا يسمح له الكلام والدعوة. هذا خطأ في الحقيقة, والذين يحتقرون هذا الشيخ في الحقيقة ينبغي أن يستحيوا من مثل هذا, إذا عرف أن الشخص –إن شاء الله – كان سليم العقيدة, سليم الخلق, وحسن السيرة والسلوك,  في الجامعة الإسلامية وتخرج في الجامعة من إحدى الكليات, فلو لم يكن تخرج من الكلية, يكون درسوا المعهد وغيره. فأين يذهب قوله صلى الله عليه وسلم: بلغوا عني ولو آية؟.
فنقول : يقوم بالدعوة على قدر ما علمه الله تبارك وتعالى, لا يدخل في الفتاوى, ولا يدخل في التفاصيل, لكن إذا درس معهد اللغة ودرس فيه كتاب التوحيد أو درس فيه أي كتاب من كتب الفقه, بلوغ المرام وغيره, وعرف المسائل, لا بد أن يعلم الناس وجلس ويعلم الناس, يقرأ عليهم ويشرح لهم, لا يدخل في أمهات المسائل, ولا يشترط أن يكون إذن سواء كان من هنا من المشايخ أو من الدعاة هناك –إن شاء الله- الناس يشهدون له بخير. غاية ما فيه إذا كان هناك أخطاء, فهؤلاء الكبار الذين تصدروا أو تصدروا لأنفسهم أنهم كبار, يفهموه في أخطاءه, لكن ما دام – الحمد لله- يمشي على خط المستقيم, وليست يحصل منه أخطاء عقدية ولا فقهية الذي يعلم الناس, فلماذا يمنع من التعليم؟
النبي صلى الله عليه وسلم يجلس عنده صحابة عشرين يوما ويقول: علموا من وراءكم.
فيجب على الناس أن يفهم هذا الشيء. لكن إذا كان جاهلا بالفعل, الناس يشهدون بجهله ولم يتعلم ولا ... ركبته أمام العلماء وغيرهم, فهذا يمنع بالفعل إذا ظهر أنه يخطئ. نعم.
السؤال الثالث: ما الفرق بين النصيحة والتحذير؟ وهل يشترط النصيحة قبل التحذير؟
الشيخ: لا بد النصيحة أولا, في الحقيقة أننا نحاول النصح نفسه, ويدخل فيه الستر, ويدخل فيه الحكمة, اللين, النصيحة. أما مقابله, ماذا قلت؟
السائل : التحذير
الشيخ: التحذير لا يأتي إلا من يكون مصرا على الباطل, وبعد ما بذلت النصيحة, يجب أن تبذل النصيحة, لعل الشخص لا يفهم, فنفهمه ونجلس معه. إذا كان لا يريد أن يفهم ويصر على الباطل, فهذا نحذره, يا إخوان, هذا لا تأخذوا منه العلم ,لأن الرجل ليست عقيدته سليمة, عقيدته ربما تكون باطلة أو من العقاعد التي هي مخالفة للسنة قطعا, أشعرية , ماتردية وغيرها.
كذلك العلم إذا كان هو يعني ليس بالكتاب والسنة, بل يفتي ما يشاء, هنا التحذير واجب بعد ما نصحتم. ما قبل النصح فالتحذير. ويكون النصيحة بعد ما يقبل, لا يجوز أن ينشر بين الناس. فكما قال العلماء: النصيحة لا الفضيحة. النصيحة أيضا ليس أمام الناس, لا بد أن يكون بالحكمة, وتختلي معه, رأينا وسمعنا, قيل كذا –إن شاء الله- تترك هذا؟. فإذا قال نعم واعترف –إن شاء الله- فيه خير. أما إذا استمر, من تكون أنت؟ ولماذا تنصحني؟ وأنت, وأنت, فهذا يحذر منه.
السؤال الرابع: هل الجرح والتعديل من المسائل الاجتهادية؟ و كيف نطبق الجرح والتعديل في هذا الزمان؟
الشيخ: هو الجرح والتعديل مسائل لها قواعد. وفي القواعد يكون الاجتهاد لتطبيق القواعد(....كلمة غير واضحة) ليست اجتهادية بمعنى أنه ليس هناك قواعد ثابتة, عندنا قواعد ثابتة.
الآن إذا جرحناك أنت, فلا بد أن يكون عندنا علم بالشيء الذي نجرحك به. هل يجوز لنا أن نجرح بأنه هو يدو السلفية ولا يعني الشخص الفلاني؟ هذا ليس جرحا. لا بد أن نعرف الجرح الذي يجرح به كما هو معروف من الشيخ, له كتاب أيضا, لا بد أن يكون عارفا بأسباب الجرح والتعديل. فإن جرح, هذا لا تأخذوا منه العلم. لماذا؟ إذا سئل ولم يجب, فهذا الجرح مرفوض. لكن إذا قال بالفعل. هذا لم يدرس في مكان ما, وبرز بين الناس لم يعرف بالعلم ولا التعلم. فهذا يكون الجرح في محله, وجدنا سبب الجرح. لكن بدون سبب, بيان السبب, فلان الشخص, لا تقربوا منه ! لماذا؟ طالب العلم يسأل. إذا قال : بس أنا أقول لكم هكذا. لا يقبل منه هذا.
وهي لا شك أن لها قواعد, يجتهد الإنسان في تطبيق القواعد. بس هي ليست اجتهادية بمعنى على ما يرى الإنسان. لا بد تحت القواعد ويجتهد في تطبيق القواعد على الشخص الذي يتكلم فيه. وهو يعدله أيضا, يعدله بعلم أو يعدله بجهل؟ كل هذا عند العلماء شروطها.
السائل : وما صحة هذا القول يا شيخ : إن العالم إذا جرح شخصا فيجب قبول جرحه لأنه من باب قبول خبر الثقة؟
الشيخ : نعم, إذا جرح بالفعل وسبب الجرح إذا سألنا ويبين لنا, مقبول جدا. لكن ربما يكون بلغه الناس يقولون أخبرني ثقة, وبلغني عن فلان, وقال فلان. هذا كله لا ينبغي أن يتكلم به الإنسان, لأننا أمرنا أن نتثبت في أي شيء. وإذا كان الشيخ كبير, ربما بلغه وهو كذب. يقول : على ما تقول, إذا كنت أنت صادق, فهذا لا يصلح أن يؤخذ. لكن ربم الأمر بخلاف هذا. ولذلك, الشيخ الكبير قد يلبس عليه الإنسان. النبي صلى الله عليه وسلم نفسه, كان يأتي المنافقون في صورة المسلمين, والنبي صلى الله عليه وسلم كان يعملهم معاملة المسلمين. فهكذا الشيخ نفسه. مالك رحمه الله, قالوا: إنه كان يعدل بعض الضعفاء و عبد الكريم بن أبي المخارق. قالوا: غر مالكا سمته.
فلا بد من التحقق, حتى إذا كان الشيخ كبيرا. هل سمعت أنت يا رجل من الشيخ؟ أنا سمعت. قل لي ما هو السبب لأحه جرح فلان؟
فليس بلازم أن يقبل كلام كل واحد. فهذا دخلنا في التقليد, وهذا ممنوع.
السائل : وكيف نتعامل مع الاختلاف الحاصل بين العلماء مثلا في الفقه الجرح والتعديل؟
الشيخ : إذا كان بالفعل الجرح والتعديل, لأن الجرح والتعديل ما يوجد في استعماله في تصحيح الحديث وتضعيفه إلا في الغرف والمدارس وكذا. لكن الجرح والتعديل الذي تسأل أنت, الظاهر المقصود منه جرح فلان, أنه لا تأخذوا منه العلم, أو تعديل فلان, خذوا منه العلم. هذا الجرح والتعديل. سؤالك ما هو؟
السائل : كيف نتعامل باختلاف الموجود؟
الشيخ : أيوه , فإن الاختلاف نفسه نزنه بمزان الاعتدال ونتكلم بلسان المزان. فهمت؟
لا بد أن نقول : إن كان جرح فلانا,فما سبب الجرح, نفس الشيء, يرجع إليه. ولا نقبل أي واحد يقبل في كل واحد, ولا نقول, ولو كان من العلماء لا نقبل في الحقيقة, لا بد أن نذهب, إذا ظهر لك أن الشيخ الفلاني جرح فلانا, وعندك أشياء, تخبره. وإن كان جرح وهو خلاف الواقع, لا بد أن تخبره. هذا هو تعامل الآن في مثل هذا.
أما أن تقول: لا نقبل كلامه, فهذا أيضا خطأ على الإطلاق. قد يكون شيخ عنده علم. وأما أن نقبله بكل حال, ربمما لبسوا عليه مثل ما لبس على مالك رحمه الله. فالمسألة ترجع إلى التحقق والتثبت في أسباب الجرح والتعديل وتطبيق القواعد.
السائل : نعم يا شيخ, وما نصيحتكم عن الالزامات الموجودة؟
الشيخ : الالزامات؟
السائل : نعم
الشيخ : والله إذا كان هناك ناس يلزموني بالحق الثابت فأنا ملتزم, سواء يلزمني أو لا يلزمني.وإذا كان يلزمني برأي خاص له, إن لا تقبل كلامي فأنا أسقطك, أو أنا أسلط عليك الناس. فيقول : حسبي الله ونعم الوكيل. بس.
السائل : هل نستطيع أن نقول بأن مفهوم قوله تعالى :
))يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ((
أنه إذا جاءنا ثقة, مثلا بخبر يجب قبوله ولا يحتاج إلى التبين؟
الشيخ :لا , الشيخ نفسه قد يكون –والله أعلم-, نقول إذا كان الثقة معروف. لكن ربما الشخص هو الآن القرين مثلا, أنت تخبرني عن شخص, وأنا أقول :هذا ثقة, لكن ربما أنت خفي عليك أشياء. وجاء شخص آخر يجرحه, فلا بد أن نوازن هذه الأشياء. بارك الله فيكم. لأني ما جرحت الشخص نفسه إنما أخبرني ثقة, وأخبرني ثقة خلافه. ماذا نفعل؟ الجرح مقدم على التعديل؟ نعم الجرح مقدم إذا كان سببه واضح. أما إذا كان ليس هناك خلاف بين الجرح والتعديل, فالجرح مقدم. لكن إذا كان الشخص يعدلونه, وأنت تعدل فلانا والثاني تجرح, ننظر ما هي أسباب الجرح والتعديل, ونزن بينهما ونقول أن هنا الشخص مجرح أو معدل. فلا نقبل كل من جاء وأخبر كلامه . قد يكون متوهما وقد يكون ظن شخصا آخر, أشاء كثيرة يحصل, حتى في تخريج الأحاديث والحكم على الرجال. يظن شخص أن هذا هو الفلاني وهو ثقة, في حين أنه شخص آخر. فالمسائل تدخل فيها حتى بأخبار الثقات, فيها بعض الوهم. لا بد أن ننظر إلى هذه الأشياء. وخاصة أنا أنصحكم , المشايخ الآن, إذا بلغت أنت شيئا, ربما أخذ منه وبقي عليه. يأتي شخص آخر يخالفك في هذا, ماذا على الشيخ أن يفعل؟ لا بد أن يعرف أنك ثقة وذلك ثقة. لا بد أن ينظر الثقة ويفتش الطالب والراجح فيرجح كلامه.
فالآن, الحاصل بين اللإخوان بهذه  الصيغة أن فلانا من المشايخ أخبر أحد عن بعض الطلبة. قال لا تأخذوا عنه العلم! وهل نحن نقلد كلنا ونقول لا تقبل؟ لا, طالب العلم يبحث السبب في الفعل. إذا ظهر السبب يبتعد عنه. إذا ما ظهر السبب؟ الآن, الشيخ الإمام, أنت سألت هنا. الشيخ الإمام لما جرحه كثير من المشايخ, نقول: والله , له عذر, لا نجرحه بهذا. ما تغير الرجل في عقيدته, ما تغير في تدريسه, ما تغير في خطبه. طيب, بماذا؟ لأجل أن هناك بعض الأعذار, لا تقبلون عذره؟ والنبي صلى الله عليه وسلم قبل أعذار الناس, فتقول مثل هذا. لا بد أن نوازن المسائل –إن شاء الله – المسائل, إن شاء الله نتضح لنا ما نتضح.
السائل : والمسألة التسلسل في التحذير والتبديع والهجران يا شيخ؟
مثلا, إذا جرح شخص شخصا ومن لم يقبل جرحه يبدع الثاني؟
الشيخ : والله نحن نخاف هؤلاء بالله عز وجل. ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد. وأنت تقول لي أنا مبتدع, سببتني. لو كان هناك دولة قائمة على الإسلام, نشتكي إلى القاضي, لماذا بدعتني؟ أنا لو بدعتني مثل ما بدعتني فأنا على الحق. ما هو كذا؟ لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم. نعم , بالفعل ينظر, أخبرني لماذا بدعتني؟
أما أن يقلد كلهم إذا كان واحد بدع, فهذا صر حزبية. صار تقليد محض. ليس في السلفية تقليد محض ولا حزبية....
السائل: التسلسل هذا يا شيخ, أنهم يرون من لم يبدع من بدع فهو مبتدع؟
الشيخ : هذا أيضا خطأ نفسه. نقول : ليس هذا –إن شاء الله- ليس بلازم. يظهر لك أن هذا مبتدع, أنا لاحظت أن هذا ليس مبتدع- إن شاء الله- له عذره. فليس بلازم لك , ولم يكن لازما في قديم الزمان أيضا, لم يكن لازما. هذا الإمام يوثقه وهذا يجرحه. ولم يقل: إذا لم تجرحه فأنت مجرح. ما هو كذا؟
السائل : جزاك الله خيرا يا شيخ.
الشيخ :الله يبارك فيك, تفضل
السائل : السؤال الذي يسأل الإخوة من إندونيسيا. يريدون التوجيه والنصيحة منكم.
الشيخ : في أي شيء؟
السائل : الآن , السؤال عن المعهد. حصل الالزامات بعض...
الشيخ : نقول : أنت ما الموقف الصحيح على ضوع الكتاب والسنة من منهج السلف الصالح تجاه هذه القضايا؟ أيش القضايا؟
السائل : القضايا بين هذه المسألة بين الأخ ذي القرنين والشيخ محمد الإمام والشيخ عبد الرحمن العدني, والزام الناس بقبول جرحهم حتى ألزموا الناس بكتابة الرجوع وبيان الرجوع؟
الشيخ : الذين يلزمون الناس بكتابة الرجوع وبيان الرجوع والتوبة والتوقيع على أنهم لا يبدعون من بدعوهم, فهذا أيضا بدعة. وهذا ظلم منهم.
يجب أن يستحيوا من الله تبارك وتعالى أنهم ينصبون أنفسهم مثل القاضي والملك, حتى يطلبون الناس التوقيع. هؤلاء ما يستحيون. أقول بكل صراحة, يجب عليهم أن يسكتوا مما سكت علماء كثيرون في تبديع محمد الإمام و عبد الرحمن العدني وغيرهم. لا يسمع هناك من بدع. فإذا بدعنا , ما أقبلنا تبديعه لأن (... كلمة غير واضح) له عذره.
والذين يلزمون الناس فهؤلاء في الحقيقة مبتدعة في الزامهم ليرجعهم إلى آراءس هؤلاء الفاسدة. ولم يكن هذا منهج السلف, ما كانوا يلزمون آراءهم وعند الآخر أيضا له رأيه, مدلل ولا قائم على الدليل وغيره. فهؤلاء خارجون عن منهج السلف إذا كان يلزمون في الحقيقة.
السائل : أيضا وما نصيحتكم لمن فتح على ذلك, علما بأنه قد وقع وقرأ بيانه أمام الناس؟
الشيخ : إذا كان مسكين يرد أن يبرر ساحته والتهمة, برئ نفسه فقال : أنا متبرئ, ويوافق عليه, فهذا ضعيف. إذا كان ضعيف النفس هو الذي يقبل, ما معرفته ... له عذر, ليس بلازم أن يوافقهم. لكن إذا كان يوافقهم في هذا, فذهب ما هم.
نقول: ليس بلازم أن يكون كل واحد يلزم أو كل واحد يقبل الزامه. وهذا نقول إذا كان يلزمون. فبذلك نقول : هؤلاء ينبغي أن يستحيوا ولا يضيقوا على عباد الله تعالى, ولا يصدر نفسه كأنه قضاة , كأنه حكام وهكذا.
السائل :السؤال الأخير يا شيخ, عن السرورية. ما هي حقيقة السرورية؟ ومتى يقال الرجل بأنه سروري؟
الشيخ : والله , السرورية الذي فهمت أنا, أنا ما ... بمثل هذا. لكن هي الرورية نسبة إلى سرور بن زين العابدين, كان يدرس في القصيم. ثم بعد ذلك بدأ يتكلم على المشايخ وعلى الدول, ويثير الطلبة على الكلام على المظاهرات أو كذا, حتى ذهب إلى الكفار وسكن هناك الآن.
فالسرورية هي قريب من الذين يرون الانكلابات والثروات والمظاهرات. ليس أكثر من هذا, مع أنه في أول الأمر يقولون: أنه رجل عاقل وكان يدعو إلى السنة أو كذا, لكن سبحان الله, يقلب القلوب, فالآن هو يدعو إلى مثل هذه الأشياء, وهو بعيد من بلاد المسلمين عامة, يسكن بلاد الغرب ولا بد, لأن هؤلاء يعرفون ويلزمون السياسي. فهؤلاء لابد أن يفعلوا كل يوم شيء حتى يرتضي منه الدولة ولا تقطع عنه رزقه. فلا بد أن يكذبوا , وهذا صار زين العابدين, صار هذا الفقير, كذالك واحد مصري. هؤلاء كلهم الآن شريكتهم. نعم. حياكم الله. بارك الله فيكم. وصلى الله على خير خلقه محمد وعلى آله وأصحابه.
WA Majmu'atul Ijabah - Kota Madinah.

MAUQIF PARA ULAMA DENGAN WAFATNYA SYAIKH WUSOBI ROHIMAHULLOH



Alhamdulillah barusan bisa bertanya langsung kepada syaikh Sholeh As Suhaimy hafidzhullah setelah dars ba'da subuh pagi ini di masjid Nabawi, sebelum bertanya saya minta izin untuk merekam,tapi kata syaikh:
لا، لا تسجل أي شيء خارج المسجد
"Tidak,Jangan merekam apapun di luar masjid" .
Karena pertanyaan saya tanyakan ketika syaikh sedang berjalan menuju tempat parkir.
Kemudian saya bertanya berkenaan dengan pernyataan (salah seorang ustadz Indonesia) , ana sampaikan sesuai konteks ucapannya :
" Ana harap ikhwah menahan diri jangan menukil apapun tentang kematian al-Wushabi terkait pujian dan sanjungan. Dia belum rujuk dari beberapa kesalahan, yg terakhir dari dia hanya ucapan syukur. Tunggu mauqif ulama kibar " .
Jawaban Syaikh hafidzhohullah:
هذا كلام فارغ لا يصدر إ لا من جهال
" ucapan ini adalah omong kosong, tidaklah keluar (mengucapkannya) ، kecuali dari orang-orang jahil/bodoh  ".
Kemudian syaikh mulai memuji syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab rohimahullah,bahwa beliau ulama ahlussunnah, wajib bagi kita untuk mebndoakan kebaikan kepada beliau,dan berta'ziah kepada keluarga beliau..." .
Kurang lebih demikian jawaban beliau hafidzhullah.
Madinah, Jum'at 13 rojab 1436 H / 1 mei 2015.✏MA'RUF ABU SHOLIH

 لله در الشيخ العلامة محمد بن هادي وأنا أؤيد كلامه.
المشرف العام
والذي يجدد نشر التحذير من الوصابي بمناسبة وفاته فهو سخيف وخاصة بعد ثناء الشيخ الوصابي على اولي الامر في المملكة وعلى علماء المملكة  رحمه الله.
Semoga Allah melimpahkan karunia kepada Al'allaamah Muhammad Ibn Haady dan saya menguatkan perkataannya .
Almusyrif  al'aam Almultaqa As Salafy Dunia
Asy Syaikh Prof . DR Muhammad Ibn Rabee' Almadkhaly - hafidzahullah -
Dan yang memperbaharui penyebaran tahdzir terhadap Alwushaaby diwaktu wafatnya maka dia seorang yang dungu dan terlebih lagi setelah pujian Asy Syaikh Alwushaby terhadap Pemimpin di Saudi serta terhadap Para Ulama di Saudi , rahimahullah .
🎋 Multaqa Salafy Indonesia

Pent. Muhammad RizQ

 بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وبعد
فإنه في يوم الجمعة 1436/7/12
زرنا شيخنا الوالد ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله وبارك فيه وفي عمره ..
وعزيناه في الشيخ المربي محمد بن عبدالوهاب الوصابي رحمه الله وغفر له فدعا له وأثنى على خطابه الذي فيه شكر لولاة اﻷمر  والثناء على أهل العلم ..
فجزاه الله خيرا
كتبه : أبو حسان سمير القيسي
عضو في شبكة سحاب السلفية
☝☝☝
Bismillahirrahmaanirrrahiim
Alhamdulilahirobbil'aalamiin
Waba'du
Sesungguhnya di Hari Jum'at 12 / 7 / 1436
Kami mengunjungi Al Waalid Rabee' Ibn Haady Almadkhaly - hafidzahullah wabaaraka fiih wa fi 'umrihi -
Dan kami sampaikan kepadanya duka cita terhadap kematian Asy Syaikh Almurabby Muhammad Ibn Abdil Wahaab Alwushaaby rahimahullah waghofara lahu
Sehingga Asy Syaikh Rabee' mendo'akannya serta memuji pembicaraannya yang terdapat padanya rasa terimakasih dia kepada Waliyul Amri dan pujian kepada Ahli Ilmu
Jazaahullahu Khairan
Ditulis oleh : Abu Hassaan Samir Alqaisiy
Anggota di Syabakah Shahaab Assalafiyah
🎋 Multaqa Salafy Indonesia - TAS Riau.
Pent. Muhammad RizQ.

BismiLLAH.
كلام الشيخ السحيمي في من يسأل هل يترحم على الشيخ الوصابي
الغر السفيه الذي يسأل عن عالم من علماء السنة وله ٥٠ سنة يدعو إلى السنة والتوحيد ثم يأتي من يسأل هل يترحم عليه أو لا..
ولو كان تيسر لي الذهاب إلى الرياض للصلاة عليه لذهبت.
كلام للشيخ في القاعة اليوم
☝☝☝
Tanggapan Asy Syaikh Assuhaimy terhadap seseorang yang mempertanyakan , apakah diucapkan kalimat Tarahum ( dimohonkan Rahmat Allah  ) atas Asy Syaikh Alwushaaby
☝ Hanya Orang Yang tertipu serta dungu yang bertanya tentang seorang Alim dari Ulama Sunnah , lima puluh tahun lamanya dia berdakwah kepada Sunnah dan Tauhid kemudian datang seseorang mempertanyakan apakah dimohonkan rahmat Allah atasnya atau tidak  ..
☝ Kalau seandainya dimudahkan bagiku berangkat ke Riyadh untuk menshalatkannya niscaya aku berangkat  .
Perkataan Asy Syaikh di ruang pertemuan dihari ini .
🎋 Multaqa Salafy Indonesia - TAS Riau.
Pent. Muhammad RizQ.

 غفر الله له ووالديه ولجميع المسلمين

Jumat, 01 Mei 2015

“SIAPA YANG TIDAK BERSAMA KAMI BERARTI MUSUH KAMI!”??? BETULKAH KAIDAH INI???


Pernah diajukan pertanyaan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu ta’ala:
Apa pendapat Anda tentang kaedah-kaedah berikut ini:
(1) Siapa yang tidak mengafirkan orang kafir, maka ia kafir
(2) Siapa yang tidak membidahkan mubtadi’, maka ia mubtadi’
(3) Siapa yang tidak bersama kami, maka ia musuh kami
Beliau pun menjawab:
Dari mana datang kaedah-kaedah seperti itu? Dan siapa yang membuatnya?
BUKAN SYARAT—SELAMA-LAMANYA(!)—BAHWA SIAPA SAJA MENGAFIRKAN SESEORANG DAN MENYAMPAIKAN KEPADANYA HUJJAH MAKA SEMUA ORANG HARUS BERSAMANYA DALAM MENGAFIRKAN. Sebab, barangkali, ia menakwilkan saja. Lalu, ulama yang lain melihatnya tidak boleh dikafirkan. Demikian pula dengan perkara memvonis fasik dan bid’ah. Inilah yang menjadi fitnah-fitnah di zaman ini dan termasuk ketergesa-gesaan sebagian pemuda yang mengaku berilmu.
Permasalahan ini lapang. Terkadang seorang ulama melihat suatu perkara itu hukumnya wajib, sedangkan yang lain tidak melihatnya seperti itu, sebagaimana para ulama telah berselisih pendapat dari dulu sampai sekarang.
SEBAB PERKARA IJTIHAD TIDAK DAPAT DIPAKSAKAN KEPADA ORANG-ORANG LAIN UNTUK MENGAMBIL PENDAPAT IJTIHAD-NYA. Siapa yang memaksa orang lain mengambil pendapatnya, maka orang ini hanyalah seorang yang taklid dan tidak berilmu. Ia mewajibkan dirinya untuk diikuti dengan taklid.
Adapun jika ia seorang ulama, yang ia mengafirkan atau ia memvonis fasik dan ahlul bid’ah dan ada yang lain yang tidak berpendapat seperti itu, maka ia tidak dituntut untuk mengikuti pendapat ulama tersebut. Yang jelas, ini adalah musibah yang musibah tersebut insyaallah tidak menyebar dari negeri kalian ke negeri lain.
RUJUKAN: Kaset “Silsilah Al Huda wa An Nur” no. 778, “Pertanyaan Keempat” atau  http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=148123 diakses pada tanggal 4 April 2015.

MENGGIRING MANUSIA UNTUK BERSAMA SEBAGIAN ULAMA SERAYA MENJATUHKAN SEBAGIAN ULAMA YANG LAIN (Sebuah Catatan dan Nasehat)


NASEHAT SYAIKH SHALIH AL FAUZAN HAFIZHAHULLAHU TA’ALA UNTUK PARA PENUNTUT ILMU

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah menutup pelajaran beliau, Syarh Kitab Ash Shiyam min Dalil Ath Thalib, dengan wasiat yang bermanfaat untuk para penuntut ilmu di tengah umat Islam. Kita memohon agar dengannya Allah memberikan manfaat.

Pertanyaan:
Apakah Anda dapat menyampaikan kalimat yang bermanfaat untuk mengarahkan murid-murid dan saudara-saudara Anda, para penuntut ilmu,  di tengah umat Islam seluruhnya?


Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala pun mengatakan:
Na’am. Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Terus menuntut ilmu, bersemangat di atas itu, mengamalkan ilmu yang telah Allah karuniakan kepada kalian, berdakwah kepada Allah ‘azza wa jalla, mengajarkan ilmu kepada manusia apa yang telah kalian pelajari, dan meninggalkan permusuhan yang sekarang ini terjadi di tengah para penuntut ilmu. [Meninggalkan] saling bermusuhan, saling mencela, dan membuat perpecahan di tengah mereka sampai mereka memecah-belah umat. Memecah-belah para penuntut ilmu.
“Hati-hati dari Fulan!“. “Jangan bermajelis dengan Fulan!“. “Jangan belajar kepada Fulan!“. Yang seperti ini tidak boleh. Jika Fulan memiliki kesalahan, maka nasehati ia. Antara dirimu dan dirinya saja. Adapun jika engkau sebarkan itu di tengah orang-orang, engkau peringatkan orang darinya—sedangkan ia adalah orang yang berilmu, penuntut ilmu atau seorang yang shalih tetapi ia keliru, maka tidak semestinya untuk disebarkan seperti itu.

 إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya, orang-orang yang senang tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman, untuk merekalah azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nur: 19)

Karena itu, yang wajib, saling menasehati di antara kaum muslimin. Yang wajib, saling mencintai antara kaum muslimin. Apalagi di antara para penuntut ilmu. Apalagi dengan para ulama. Menghormati para ulama.  Menghilangkan penggiringan manusia agar bersama sebagian ulama dan mengeluarkan tahdzir dari sebagian ulama yang lain. Yang seperti ini memunculkan kerusakan-kerusakan yang banyak. Menyebabkan saling bermusuhan dan saling membenci. Menyebabkan fitnah. Jauhilah oleh kalian semua perkara ini.

 Jazakumullahu khairan. Jadilah kalian seperti apa yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan.

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Dan sesungguhnya inilah umat kalian, umat yang satu.” (QS. Al Mukminun: 52)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah dan berselisih setelah datang kepada mereka petunjuk. Dan untuk mereka itulah azab yang sangat pedih.” (QS. Ali Imran: 105)

Bersungguh-sungguhlah kalian untuk saling bersaudara. Bersungguh-sungguhlah kalian untuk saling menasehati di antara kalian. Bersungguh-sungguh pulalah kalian untuk saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Jauhilah oleh kalian apa-apa yang dapat membuat perpecahan di tengah kaum muslimin, terkhusus di zaman ini.

Kaum muslimin sekarang ini sangat perlu untuk bersatu. Sangat perlu menyingkirkan perselisihan di antara mereka. Sangat perlu saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Jangan kalian jadi penolong musuh dalam membuat kaum muslimin pecah-belah dan porak-poranda. Jika terjadi perpecahan antara ulama dan para penuntut ilmu, maka siapa lagi yang tersisa untuk umat?

Orang-orang awam tidak memiliki kesungguhan. Kesungguhan itu ada pada para penuntut ilmu. Yang mereka ini memperbaiki keadaan manusia. Yang mereka ini mengajari orang-orang.

Tinggalkan oleh kalian perkara-perkara tersebut. Permusuhan-permusuhan itu. Ucapan-ucapan provokatif dan hal-hal yang tercela lainnya.

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
“Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibah sebagian yang lain. Apakah salah seorang kalian suka memakan bangkai saudara kalian?” (QS. Al Hujurat: 12)

 وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ O هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ O  مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ O
“Dan jangan engkau ikuti setiap yang bersumpah sekaligus hina. Yang banyak mencela, yang ke sana-sini menebar fitnah. Yang banyak menghalangi kebaikan, yang melampaui batas serta banyak dosanya.” (QS. Al Qalam: 10-12)

Jangan taati orang-orang itu, sehingga kalian jadi penolong setan dalam memecah-belah dan membuat lemah umat.

Siapa saja di antara kalian mendapati kesalahan saudaranya, kalian nasehati ia, jika memang betul itu. Jangan kalian benarkan desas-desus.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka periksa dulu kebenarannya oleh kalian, supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada satu kaum dengan ketidaktahuan itu yang membuat kalian menyesal nanti.” (QS. Al Hujurat:6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian pergi berperang di jalan Allah, maka periksa dulu kebenarannya. Dan jangan kalian katakan kepada orang yang mengucapkan kepada kalian, ‘Salam’, ‘Engkau bukan mukmin’.” (QS. An Nisa': 94)

Allah jalla wa ‘ala telah memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dan memerintahkan mereka untuk satu kalimat serta saling tolong-menolong dan saling nasehat-menasehati. Kita tidak mengatakan, “Biarkan kesalahan itu.” Kita katakan, “Perbaikilah kesalahan itu.” Akan tetapi, kalian perbaiki kesalahan itu dengan cara-cara yang syar’i.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada semuanya untuk melakukan apa yang Allah cintai dan ridhoi.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.

RUJUKAN: https://m.soundcloud.com/abualgareeb/brrctsjs2nyq (file audio) diakses pada tanggal 14 April 2015.

BERIKUT INI TRANSKRIP NASEHAT SYAIKH SHALIH AL FAUZAN HAFIZHAHULLAHU TA’ALA TERSEBUT:

نصيحة الشيخ صالح الفوزان –حفظه الله- لطلاب العلم

ختم الشيخ صالح بن فوزان الفوزان –حفظه الله- درسَه “شرح كتاب الصيام من دليل الطالب” بوصية نافعة لطلاب العلم في جميع الأمة الإسلامية، نسأل الله أن ينفع بها.

السؤال :
هل من كلمة مباركة توجهونها لأبنائكم وإخوانكم طلاب العلم في الأمة الإسلامية جمعاء؟

الشيخ ]صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله[
نعم، نوصيكم بتقوى الله، ومواصلة طلب العلم، والحرص على ذلك، والعمل بما علّمكم الله، والدعوة إلى الله عزّ وجلّ، وتعليم الناس ما تعلّمتم، وترك التشاحن الذي الآن حصل بين طلبة العلم، التشاحن والسباب والتحريش بينهم، حتى فرّقوا الأمة، وفرقوا طلبة العلم: احذروا من فلان، لا تجلسوا مع فلان، لا تقرؤوا على فلان! هذا ما يجوز. إذا كان فلان عنده خطأ فناصحه بينك وبينه، أما إنك تنشر هذا بين الناس، وتحذّر منه، وهو عالم أو طالب علم أو رجل صالح لكنه أخطأ، فلا يوجب هذا النشر

{إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} (النور: 19) .

فالواجب التناصح بين المسلمين، الواجب المودة بين المسلمين، ولا سيما طلبة العلم، لا سيما مع العلماء، احترام العلماء، وعدم التوصية لبعضهم والتحذير من بعضهم، هذا سبَّبَ أشرارًا كثيرة، سبَّبَ تشاحنًا وتبغاضًا، وسبَّبَ فتنة. تجنبوا هذه الأمور، جزاكم الله خيرًا، وكونوا كما أراد الله سبحانه:

{وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً} (المؤمنون: 52)

{وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} (آل عمران: 105) .

احرصوا على التآلف، احرصوا على التناصح بينكم، احرصوا على التعاون على البرّ والتقوى، واحذروا ما يفرّق بين المسلمين، خصوصًا في هذا الزمان. المسلمون الآن بحاجة إلى الاجتماع، بحاجة إلى قطع النزاع بينهم، بحاجة إلى التعاون على البرّ والتقوى، لا تصيروا عونًا للعدوّ على تشتيت المسلمين وتفريق المسلمين. إذا حصلت الفرقة بين العلماء وطلبة العلم مَن يبقى للأمة؟! العوام ما عليهم شَرْه، الشَرْه على طلبة العلم، الذين يصلحون بين الناس، الذين يعلّمون الناس.

اتركوا هذه الأمور، وهذه التشاحنات، وهذه المهاترات، وهذه الخَصْلة الذميمة،

{وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا} (الحجرات: 12)

{وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (11) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (21) } (القلم: 10- 12) .

لا تطيعوا هؤلاء فتكونوا عونًا للشيطان على تفريق الأمّة، وعلى إضعاف الأمّة.

مَن أدرتكم عليه خللاً فناصحوه، إذا ثبت هذا، لا تصدّقوا الشائعات،

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} (الحجرات: 6)

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا} (النساء: 94)

الله -جلّ وعلا- حث على اجتماع المسلمين، وعلى وحدة كلمة المسلمين، وعلى التعاون، وعلى التناصح، ما نقول: اتركوا الخطأ، نقول: أصلحوا الخطأ، لكن تصلحونه بالطرق الشرعية .

وفق الله الجميع لما يحب ويرضى، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى  آله وأصحابه أجمعين.

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN : WAFATNYA ULAMA KITA SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL WUSHOBI ROHIMAHULLAH



INNA LILLAHI WA INNA ILAYHI ROJI'UN
Biografi Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushobi
* Nama dan Nasab Beliau *
Beliau adalah Abu Ibrahim Muhammad bin Abdil Wahhab bin Ali Al Wushobi Al Abdali Al Yamani.
* Perjalanan Beliau dalam Mencari Ilmu *
Sedari kecil beliau sudah terlihat sebagai pribadi yang istiqamah. Beliau belajar baca tulis serta menghafal Al-Qur'an bersama ayahnya.
Saat beliau beranjak remaja, beliau pergi menuju Saudi Arabia. Selama di sana beliau pernah belajar di Ma'had Al-Haram Al-Makki.
Kemudian beliau pulang, mendakwahkan tauhid, menentang keras kesyirikan dan kebid'ahan serta penyakit fanatisme madzhab.
Terlebih di Yaman, mayoritas penduduknya berpegang pada Madzhab Syafi'i. Kaum Sufi berperan besar dalam menyemarakkan kesyirikan dan kebid'ahan di negara tersebut.
Sampai akhirnya dakwah Sunnah yang beliau bawa diterima masyarakat dan menyebar.
Beliau juga pernah belajar bersama Syaikh Muqbil di Dammaj selama kurang lebih 4 tahun.
Di situ pun beliau berkesempatan mengajarkan beberapa durus tertentu kepada para penuntut ilmu.
* Pindah ke Al-Hudaidah *
Kemudian Syaikh membangun sebuah masjid Sunnah di kota Al-Hudaidah. Maka pindahlah beliau ke sana, diikuti banyak sekali penuntut ilmu.
Di sana beliau berdakwah, mengajar, menulis karya ilmiyyah, serta menyebarkan Sunnah.
* Guru-Guru Beliau *
Diantaranya adalah :
- Syaikh Al-Albani
- Syaikh Bin Baz
- Syaikh Al-Utsaimin
- Syaikh Muqbil
dan lain-lain.
* Murid-Murid Beliau *
Banyak yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya :
- Syaikh Yahya Al-Hajuri
- Syaikh Jamil As-Solowi
dan thullab senior lainnya yang belajar bersama beliau selama beliau menetap di Dammaj.
Sedangkan selama beliau di Al-Hudaidah, maka beliau memiliki banyak sekali murid, diantaranya :
- Syaikh Muhammad Al-Muhammadi
- Syaikh Shadiq Al-Baidhani
- Muhammad Ba Musa
- dan lain-lain
* Karya-Karya Beliau *
Diantaranya :
1. Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid
2. Iedhahud Dilalah fi Takhrij Hadits "La i'tikafa illa fi Al-Masajid Ats-Tsalatsah"
3. Hukmu Radha'il Kabir
4. Al-Qaulul Jali fi 'Umratil Makki
5. 'Adadu Darajatil Minbar
6. Dan lain-lain
Konon karya-karya beliau mencapai lebih dari 80 karya ilmiyyah.
Tentang hal ini, Syaikh Muqbil pernah berkata,
"Beliau adalah orang yang mutqin dalam setiap tahqiqnya, tulisannya, serta ucapan beliau dalam ilmu Hadits telah mencapai derajat mutqin yang luar biasa."
* Semangat Beliau dalam Mengamalkan dan Mengajarkan Sunnah *
Dalam suatu muhadharah beliau pernah berkata : Sunnahnya yang namanya mahar itu sejumlah 500 Dirham, atau senilai 5000 Real Yaman.
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan Ahlussunnah insya Allah menjadi yang terdepan dalam mengamalkannya.
Alhamdulillah, saya telah mempraktekkan ini setiap menikahkan puteri-puteri saya, yakni mahar senilai 5000 Real, dan aku katakan : Sejumlah inilah mahar untuk anakku.
* Kezuhudan Beliau *
Beliau pernah menceritakan :
Dulu saat kami belajar di Ma'had Al-Haram, setiap hari kami hanya diberi 1 Real saja (sekitar Rp. 3500,- --ebs).
Tapi kami bersabar demi ilmu. Kalau saya punya uang segitu, saya beli sesuatu yang bisa terjangkau dan dimudahkan Allah.
Namun kalau saya tidak punya uang, saya bersabar dan berupaya untuk tidak menghutang. Seperti inilah dulu ayahku.
* Pujian Ulama Terhadap Beliau *
Diantara pujian Syaikh MuqbilMu baik terhadap beliau :
- Jika aku mati, ikutilah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab (Al-Wushobi
- Beliau adalah guru dalam bidang Tauhid, Hadits, Fiqih. Teladan dalam akhlak. Seorang yang zuhud lagi wara'. Beliau adalah seorang pendidik yang penyayang. Pemersatu barisan kaum Muslimin.
Syaikh Ahmad An-Najmi pernah berkata : Beliau adalah pecinta Sunnah dan Ahlussunnah. Nasehat-nasehat beliau lebih mahal dari untaian mutiara.
Syaikh Muhammad Al-Imam pernah berkata : Waliduna (orang tua kami) Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al-Wushobi. Semoga Allah senantiasa menjaganya.
* Wafat Beliau *
Setiap yang berjiwa akan mati, dan kematian seorang ulama merupakan musibah bagi kaum Muslimin. Karena dengan wafatnya ulama, maka terangkat (berkurang) pula ilmu.
Beliau wafat, 10 Rajab 1436 H atau 29 April 2015, di Riyadh. Rahimahullahu ta'ala.
[Disarikan dari www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=19909, dengan sedikit tambahan]

 

Blogger news

Blogroll

About