BTemplates.com

Pages

Kamis, 14 Mei 2015

DAKWAH SALAFIYYAH ANTARA MUTASYADDID DAN MUMAYYI'



[ Da'wah Salafiyah diantara Kerusakan para Mutasyaddid dan Kesia - siaan para Mumayyi' ]
Alhamdulilahi Robbil 'aalamin washalaatu wassalaamu 'ala Rosuulihi Al amin wa alihi washohbihi ajma'iin .
Amma ba'du : Sungguh da'wah Salafiyah benar - benar mengeluh dari Yang melampaui batas padanya serta Yang melalaikannya .
๐Ÿ”ท Maka Mutasyaddid adalah Yang melampaui batas terhadap da'wah ini , yang merusak penampilannya dan tidak mengasihi pemeluknya .
๐Ÿ”ถ Sedangkan Mumayyi' adalah yang melalaikan da'wah ini , bermudah - mudahan didalam mempraktekkan Landasan pokoknya
Mengasihi yang menyelisihinya sementara Mencela yang berpegang teguh dengannya .
๐Ÿ”ท Mutasyaddid tidak memperhatikan berbagai kemaslahatan serta tidak mengkhawatirkan berbagai mafsadah .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' memperluas lingkup kemaslahatan sehingga membauri yang meyelisihi sedangkan mempersempit lingkup mafsadah .
๐Ÿ”ท Mutasyaddid memperlakukan yang bersalah dari kalangan Ahli sunnah sebagaimana memperlakukan Ahli bid'ah
๐Ÿ”ถ Mumayyi' memperlakukan Ahli bid'ah sebagaimana memperlakukan Yang bersalah dari kalangan Ahli Sunnah .
๐Ÿ”ท Mutasyaddid mencela saudaranya sesama Salafiyin dengan alasan berbaur dengan orang - orang yang menyelisihi seorang Alim atau sebagian Ulama di dalam masalah kekinian yang boleh padanya berijtihad , baik salah atau benar .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' mencela saudaranya sesama Salafiyin dengan alasan diam dari mutasyaddid dan menyamaratakan kesalahan Mutasyaddid kepada Salafiyin .
๐Ÿ”ท Mutasyaddid menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan saudaranya sesama Salafiyin ( MEMATA - MATAI - MEREKAM MAJELIS YANG KHUSUS - MENGHARUSKAN YANG LEMAH DIDALAM MENULIS KEPUTUSAN - TIDAK MENERIMA TAUBAT YANG BERTAUBAT WALAU SETELAH DI INFOKAN DAN DI JELASKAN )
๐Ÿ”ถ Mumayyi' menggunakan berbagai cara untuk mengangkat kedudukan yang menyelisihi ( TIDAK MENERIMA NUKILAN TENTANG YANG MENYELISIHI WALAU DENGAN SUARANYA KARENA HAL ITU TERKADANG DI POTONG - DAN JIKA DENGAN TULISAN MAKA IA TIDAK DISEBUTKAN AWALNYA DAN SETELAHNYA - DAN YANG BERUPAYA DIDALAM HAL ITU ( dikatakan ) MEREKA ADALAH AHLUL FITAN )
๐Ÿ”ท Mutasyaddid kasar didalam wataknya dan kasar didalam pengucapannya bahkan bersama saudaranya Salafiyin .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' lunak didalam wataknya bersama Yang menyelisihi namun kasar didalam pengucapan bersama saudaranya Salafiyin .
๐Ÿ”ท Mutsyaddid tidak mementingkan dengan apa yang akan terjadi dari perselisihan serta perpecahan dikarenakan sebabnya .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' pura - pura menangis atas apa yang terjadi berupa perselisihan serta perpecahan dan menisbatkan hal itu kepada Salafiyin didalam seluruh keadaan sementara melupakan bahwa asal perpecahan dan perselisihan adalah dengan sebab Yang menyelisihi tetap berada diatas penyelisihan .
Dan pura - pura menangis diatas Tauhid dan Manhaj sedangkan da'wah kepada Tauhid serta Manhaj diterlantarkan !!
Menyeru kepada penyatuan barisan didalam melawan penyembah kubur , sekuler , liberal dan Ikhwanul muslimin ...
Seakan - akan Salafiyin meninggalkan hal itu ...dia tidak menyadari bahwa pembersihan barisan lebih utama dari pada penyatuannya padahal penyatuan barisan tidak akan terjadi melainkan setelah pembersihannya .
๐Ÿ”ท Mutasyaddid gembira dengan kesalahan Salafy lalu menyebarkan dan megeksposnya serta berupaya mengeluarkan perkataan Ahli Ilmu terhadapnya .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' selalu dan selamanya mencela saudara Salafiyin di suatu kesempatan yang sesuai atau yang tidak sesuai dan mensifatkan mereka dengan berbagai sifat yang tidak pantas itu diberikan kepada yang menyelisihi lebih utama lagi diberikan kepada Salafiyin
๐Ÿ”ท Mutasyaddid melarang pengajaran Ilmu bagi yang ahlinya kecuali dengan rekomendasi dari Ulama sekalipun disampaikan pelajaran - pelajaran itu kepada orang Awan .
๐Ÿ”ถ Mumayyi' bermudah - mudahan didalam merekomendasi yang menyelisihi dan sebuah instusi sehingga walaupun instusi tersebut pada bagiannya adalah Ikhwanul muslimin
๐Ÿ”ท Dan yang terakhir tidak ada akhirnya ketahuilah wahai Salafy bahwa Salafiyah berada pada pertengahan diantara perbuatan Mutasyaddid dan Mumayyi' . Dan Mutasyaddid apabila naik satu derajat maka jadilah ia Haddaady sedangkan Mumayyi' apabila turun satu derajat maka jadilah ia hizbiyyah ..sehingga Waspadalah dan waspadalah .
Wallahu ta'aala a'lam wa ahkam
Ditulis oleh :
Abdullah Al ahmad
๐ŸŽ‹ Faedah WA Almultaqa Assalafy Indonesia
Pent . Muhammad RizQ ๐ŸŽ‹


[ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุงู„ุณู„ููŠุฉ ุจูŠู† ุฅูุณุงุฏ ุงู„ู…ุชุดุฏุฏูŠู† ูˆุชุถูŠุน ุงู„ู…ู…ูŠุนูŠู† ]
ุงู„ุญู…ุฏู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ู‡ ุงู„ุฃู…ูŠู† ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู† .
ุฃู…ุง ุจุนุฏ: ูุฅู† ุงู„ุฏ ุนูˆุฉ ุงู„ุณู„ููŠุฉ ู„ุชุดุชูƒูŠ ู…ู† ุงู„ุบุงู„ูŠ ููŠู‡ุง ูˆุงู„ุฌุงููŠ ุนู†ู‡ุง.

๐Ÿ”นูุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ู‡ูˆ ุงู„ุบุงู„ูŠ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุงู„ุฐูŠ ุดูˆู‡ ุตูˆุฑุชู‡ุง
ูˆู„ู… ูŠุฑุญู… ุฃู‡ู„ู‡ุง .
๐Ÿ”ธูˆุงู„ู…ู…ูŠุน ู‡ูˆ ุงู„ุฌุงููŠ ุนู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุงู„ู…ุชุณุงู‡ู„ ููŠ ุชุทุจูŠู‚ ุฃุตูˆู„ู‡ุง
ุงู„ุฑุญูŠู… ุจุงู„ู…ุฎุงู„ู ู„ู‡ุง
ุงู„ุทุงุนู† ููŠ ุงู„ู…ุชู…ุณูƒ ุจู‡ุง.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ู„ุง ูŠุฑุนู‰ ู…ุตุงู„ุญ ูˆู„ุง ูŠุฎุดู‰ ู…ูุงุณุฏ.
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠูˆุณุน ุฏุงุฆุฑุฉ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ ุญุชู‰ ูŠุฎุงู„ุท ุงู„ู…ุฎุงู„ู ูˆูŠุถูŠู‚ ุฏุงุฆุฑุฉ ุงู„ู…ูุงุณุฏ.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ูŠุนุงู…ู„ ุงู„ู…ุฎุทู‰ุก ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ู…ุนุงู…ู„ุฉ ุงู„ู…ุจุชุฏุน.
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุนุงู…ู„ ุงู„ู…ุจุชุฏุน ู…ุนุงู…ู„ุฉ ุงู„ู…ุฎุทู‰ุก ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ูŠุทุนู† ููŠ ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู† ุจุญุฌุฉ ู…ุฎุงู„ุทุฉ ู…ู† ุฎุงู„ู ุนุงู„ู…ุงً ุฃูˆ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ููŠ ู…ุณุฃู„ุฉ ู†ุงุฒู„ุฉ ุณุงุบ ููŠู‡ ุงู„ุฅุฌุชู‡ุงุฏ ุณูˆุงุก ุฃุฎุทุฃ ุฃู… ุฃุตุงุจ.
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุทุนู† ููŠ ุฃุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู† ุจุญุฌุฉ ุงู„ุณูƒูˆุช ุนู† ุงู„ู…ุชุดุฏุฏูŠู† ูˆุชุนู…ูŠู… ุฎุทุฃ ุงู„ู…ุชุดุฏุฏูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ุณู„ููŠูŠู†.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ูŠุชุฎุฐ ุทุฑู‚ุงً ู„ุฅุณู‚ุงุท ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู†. ( ุงู„ุชุฌุณุณ - ุชุณุฌูŠู„ ุงู„ู…ุฌุงู„ุณ ุงู„ุฎุงุตุฉ - ุฅู„ุฒุงู… ุงู„ุถุนูุงุก ุจูƒุชุงุจุฉ ุงู„ุชู‚ุงุฑูŠุฑ - ุนุฏู… ู‚ุจูˆู„ ุชูˆุจุฉ ุงู„ุชุงุฆุจ ูˆู„ูˆ ุจุนุฏ ุงู„ุฅุนู„ุงู† ูˆุงู„ุจูŠุงู†)
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุชุฎุฐ ุทุฑู‚ุงً ู„ู„ุฑูุน ู…ู† ุดุฃู† ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ( ุนุฏู… ู‚ุจูˆู„ ุงู„ู†ู‚ู„ ููŠ ุงู„ู…ุฎุงู„ู ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุจุตูˆุชู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ู…ุจุชูˆุฑุงً - ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ูƒุชูˆุจุงً ูุฅู†ู‡ ู„ู… ูŠุฐูƒุฑ ุณุงุจู‚ู‡ ูˆู„ุงุญู‚ู‡ - ูˆุฃู† ุงู„ุณุงุนูŠ ููŠ ุฐู„ูƒ ู‡ู… ุฃู‡ู„ ุงู„ูุชู†)
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ุบู„ูŠุธ ููŠ ุทุจุงุนู‡ ู‚ุงุณูŠ ููŠ ุฃู„ูุงุธู‡ ุญุชู‰ ู…ุน ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู†.
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ู„ูŠู† ููŠ ุทุจุงุนู‡ ู…ุน ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ู‚ุงุณูŠ ููŠ ุฃู„ูุงุธู‡ ู…ุน ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู†.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ู„ุง ูŠุจุงู„ูŠ ุจู…ุง ูŠุญุตู„ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู ูˆุงู„ุฅูุชุฑุงู‚ ุงู„ุญุงุตู„ ุจุณุจุจู‡.
๐Ÿ”ธูˆุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุชุจุงูƒู‰ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠุญุตู„ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู ูˆุงู„ุฅูุชุฑุงู‚ ูˆูŠู†ุณุจ ุฐู„ูƒ ู„ู„ุณู„ููŠูŠู† ููŠ ูƒู„ ุญุงู„ ูˆูŠู†ุณู‰ ุฃู† ุฃุตู„ ุงู„ุฅูุชุฑุงู‚ ูˆุงู„ุฎู„ุงู ู‡ูˆ ุจุณุจุจ ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ุงู„ู…ุตุฑูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฎุงู„ูุฉ.
ูˆูŠุชุจุงูƒู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ูˆุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ูˆุฃู† ุงู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ูˆุงู„ู…ู†ู‡ุฌ ุนุทู„ุช !!
ูˆูŠุฏุนูˆุง ุฅู„ู‰ ุชูˆุญูŠุฏ ุงู„ุตู ุถุฏ ุงู„ู‚ุจูˆุฑูŠูŠู† ูˆุงู„ุนู„ู…ุงู†ูŠู† ูˆุงู„ู„ุจุฑุงู„ูŠูŠู† ูˆุงู„ุฅุฎูˆุงู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†..
ูˆูƒุฃู† ุงู„ุณู„ููŠูŠู† ููŠ ู…ุนุฒู„ ุนู† ุฐู„ูƒ ...
ูˆู…ุง ุนู„ู… ุฃู† ุชุตููŠุฉ ุงู„ุตู ุฃูˆู„ู‰ ู…ู† ุชูˆุญูŠุฏู‡ ูˆุฃู† ูˆุญุฏุฉ ุงู„ุตู ู„ู† ุชูƒูˆู† ุฅู„ุง ุจุนุฏ ุชุตููŠุชู‡.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ูŠูุฑุญ ุจุฎุทุฃ ุงู„ุณู„ููŠ ูˆูŠู†ุดุฑู‡ ูˆูŠุฐูŠุนู‡ ูˆูŠุญุงูˆู„ ุฃู† ูŠุตุฏุฑ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูƒู„ุงู…ุงً ููŠู‡.
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุดู†ุน ุฏุงุฆู…ุงً ูˆุฃุจุฏุงً ุนู„ู‰ ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ุณู„ููŠูŠู† ุจู…ู†ุงุณุจุฉ ูˆุจุบูŠุฑ ู…ู†ุงุณุจุฉ ูˆูŠุตูู‡ู… ุจุฃูˆุตุงู ู‚ุฏ ู„ุง ุชู„ูŠู‚ ุจุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ูุถู„ุงً ุนู† ุงู„ุณู„ููŠูŠู†.
๐Ÿ”นุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ูŠู…ู†ุน ุชุฏุฑูŠุณ ุงู„ุนู„ู… ู„ู…ู† ุชุฃู‡ู„ ู„ู‡ ุฅู„ุง ุจุงู„ุชุฒูƒูŠุงุช ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุญุชู‰ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ูŠู„ู‚ูŠ ุงู„ุฏุฑูˆุณ ุนู„ู‰ ุงู„ุนูˆุงู….
๐Ÿ”ธุงู„ู…ู…ูŠุน ูŠุชุณุงู‡ู„ ููŠ ุชุฒูƒูŠุฉ ุงู„ู…ุฎุงู„ููŠู† ูˆุงู„ุฌู…ุนูŠุงุช ุญุชู‰ ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌู…ุนูŠุฉ ุทุฑูู‡ุง ุงู„ุขุฎุฑ ุฌู…ุงุนุฉ ุฅุฎูˆุงู†ูŠุฉ.
๐Ÿ”ทูˆุฃุฎูŠุฑุงً ูˆู„ูŠุณ ุขุฎุฑุงً ุฅุนู„ู… ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุณู„ููŠ ุฃู† ุงู„ุณู„ููŠุฉ ูˆุณุท ุจูŠู† ุฃูุนุงู„ ุงู„ู…ุชุดุฏุฏูŠู† ูˆุงู„ู…ู…ูŠุนูŠู† ูˆุฃู† ุงู„ู…ุชุดุฏุฏ ุฅุฐุง ุงุฑุชู‚ู‰ ุฏุฑุฌุฉ ุฃุตุจุญ ุญุฏุงุฏูŠุงً ูˆุงู„ู…ู…ูŠุน ุฅุฐุง ู†ุฒู„ ุฏุฑุฌุฉ ุฃุตุจุญ ุญุฒุจูŠุงً ูุงู„ุญุฐุฑ ุงู„ุญุฐุฑ.
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู… ูˆุฃุญูƒู….
ูƒุชุจู‡
ุนุจุฏุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฃุญู…ุฏ
_______________________

KAMI MEMBELA SUNNAH, BUKAN MEMBELA DIRI SENDIRI







๐Ÿ”ธBerkata Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy -rahimahullahu- :
๐Ÿ”ฐ✔Kami membela SUNNAH dan tidaklah kami membela atas DIRI-DIRI KAMI.
๐Ÿ”‡Kami mendengar ada orang yang mencela kami, maka kami tidak membalas mereka.
⏰๐Ÿ’ฅKami tidak punya waktu untuk membela diri-diri kami. Adapun untuk membela sunnah, sekalipun harus menggigit dengan gigi geraham yg kuat.
✔๐Ÿ”ชMaka kami tidak akan membiarkan seorangpun mencela SUNNAH RASULULLAH -Shalallahu 'alaihi wassalam-, baik itu dari kalangan Syi'ah, shufi atau pun ikhwanul muslimin.
๐Ÿ”ฐMaka kami sebagai tebusan (tentara) SUNNAH, dan kehormatan kami tebusan untuk sunnah.
๐Ÿ“™Sumber: an Nashaih wal Fadhaih (hal. 154-155)

NASEHAT UNTUK MEREKA YANG SUKA DUDUK BERMAJELIS DAN BERDEBAT DENGAN AHLUL AHWA`



----------------------------------
๐Ÿ”ฌ Oleh:
Asy-Syaikh Al-'Allaamah Al-Mujahid Robi' bin Hadiy Al-Madkholiy -hafizhohullah-
                                  ✹✹✹
๐Ÿ“ž P E R T A N Y A A N :
Apa nasehat Anda wahai Syaikh untuk seseorang yang :
๐Ÿ’ฅPergi ke Majelis-majelis Ahlul ahwa dan hadir di ceramah-ceramah mereka,
๐Ÿ’ฅMengucapkan salam kepada mereka untuk memastikan tentang apa yang mereka ucapkan,
๐Ÿ’ฅdan mendebat mereka?
๐Ÿ”“ J A W A B A N :
ู‡ู€ุฐุง ุบู€ู€ุงู„ุจุง ูŠุฐู‡ุจ ูŠุตุจุญ ุญุฒุจูŠ ุฅู…ู€ู€ุง ู„ู„ุชุจู„ูŠุบ ุฃูˆ ุทุงุฆูู€ู€ุฉ ุตู€ู€ูˆููŠุฉ ุฃูˆ ุทู€ู€ุงุฆูุฉ ุฑุงูุถูŠุฉ ุฃูˆ ุฌู‡ู…ูŠุฉ, ู„ุงุจุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ุตู†ู ูŠุนู€ู€ุงู‚ุจู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู€ู€ู„ ู„ุฃู†ู‡ู… ุฎุงู„ููˆุง ู‡ุฏูŠ ู…ุญู…ุฏ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ูˆุชูˆุฌูŠู‡ุงุชู‡ ูˆุฎู€ู€ุงู„ููˆุง ู‡ุฏูŠ ุงู„ุณู„ู ูˆุบุงู…ู€ู€ู€ุฑูˆุง ุจุฏูŠู†ู‡ู…..
๐Ÿ”„ Orang ini pada umumnya AKAN MENJADI SEORANG HIZBY. Baik (pengikut firqoh) tabligh atau kelompok Shufiyyah atau kelompok Rofidhoh atau Jahmiyah.
๐Ÿ”‘Kelompok ini yang  Alloh 'Azza wa Jalla mesti menimpakan hukuman kepada mereka KARENA mereka telah menyelisihi petunjuk dan tuntunan Muhammad ๏ทบ . Mereka telah menyelisihi bimbingan Salafus shalih dan menghadapkan bahaya terhadap agama mereka..
ูู‡ุคู„ุงุก ุบู€ู€ู€ุงู„ุจุง ู…ู€ู€ู€ุง ูŠุถูŠุนูˆู† ูˆูŠู„ุชุญู‚ูˆู† ุจุฃุญู€ู€ุฒุงุจ ุงู„ุดุฑ..
๐Ÿ‘‰SEHINGGA mereka seringnya akan binasa dan bergabung dengan kelompok-kelompok jelek.
=========================
๐ŸŒ‚(Sebagai contoh:)
◾Ibnu 'Aqil adalah (ibarat) gunung dari gunung-gunung dalam (puncak) kecerdasan, keluasan, dan ilmu.
❗Mereka (ulama sezaman dengannya) telah menasehati dirinya untuk tidak mendatangi kelompok mu'tazilah. Dia tetap pergi menemui mereka maka JADILAH dia seorang berpemahaman mu'tazilah.
◾Abu Dzar salahsatu murid Ad-Daruquthni dahulunya seorang imam dalam sunnah. Dia mendengarkan satu kalimat (dari ahlul hawa) yang menyambarnya sehingga menjadi seorang beraqidah Asy'ariyah.
◾Abdurrozzaq (ash-Shon'aniy) bermajelis dengan Ja'far bin Sulaiman Ad-Dhuba'i. Dia bermajelis bersamanya yang terpengaruh pemahaman Syi'ah maka Abdurrozzaq beralih; berpendapat dan berpaling kepada tasyayyu' (paham Syi'ah).
❗Si miskin ini pun menjadi bagian kaum Syi'ah. Walaupun tasyayyu'nya tidaklah sangat, kita tidak akan menzholiminya, TETAPI ia telah terjatuh dan terpengaruh.
=========================
ูุงู„ู€ู€ุฐูŠ ูŠุฌู€ู€ุงู„ุณ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุงุทู€ู€ู„ ู„ุง ุจุฏّ ุฃู† ูŠุชุฃุซุฑ ุฑุบู… ุฃู†ูู€ู€ู€ู‡, ู…ู‡ู…ู€ู€ุง ุงุฏุนู‰ ู„ู†ูุณู€ู€ู‡ ู„ุงุจุฏّ ุฃู† ูŠุชุฃุซุฑ ..
๐Ÿ‘‰Maka orang yang bermajelis dengan Ahlul bathil PASTI akan terpengaruh, baik ia menghendaki atau tidak.
Bagaimana pun dia mengaku-aku dapat menjaga dirinya, ia mesti akan TERIMBAS (pemikirannya)..
☝Karena Rasulullah ๏ทบ yang selalu berkata benar lagi dibenarkan telah mewanti-wanti dan bersabda:
๏บ‡ِ๏ปงِّ๏ปคَ๏บŽ ๏ปฃَ๏บœَ๏ปžُ ๏บ๏ปŸْ๏บ َ๏ป ِ๏ปด๏บฒِ ๏บ๏ปŸ๏บผَّ๏บŽ๏ปŸِ๏บขِ ๏ปญَ๏บŸَ๏ป ِ๏ปด๏บฒِ ๏บ๏ปŸ๏บดُّ๏ปฎ๏บ€ِ ๏ป›َ๏บคَ๏บŽ๏ปฃِ๏ปžِ ๏บ๏ปŸْ๏ปคِ๏บดْ๏ปšِ ๏ปญَ๏ปงَ๏บŽ๏ป“ِ๏บฆِ ๏บ๏ปŸْ๏ปœِ๏ปด๏บฎِ , ๏ป“َ๏บคَ๏บŽ๏ปฃِ๏ปžُ ๏บ๏ปŸْ๏ปคِ๏บดْ๏ปšِ ๏บ‡ِ๏ปฃَّ๏บŽ ๏บƒَ๏ปฅْ ๏ปณَ๏บคْ๏บฌِ๏ปณَ๏ปšَ ๏ปญَ๏บ‡ِ๏ปฃَّ๏บŽ ๏บƒَ๏ปฅْ ๏บ—َ๏บ’ْ๏บ˜َ๏บŽ๏ป‰َ ๏ปฃِ๏ปจْ๏ปชُ ๏ปญَ๏บ‡ِ๏ปฃَّ๏บŽ ๏บƒَ๏ปฅْ ๏บ—َ๏บ ِ๏บชَ ๏ปฃِ๏ปจْ๏ปชُ ๏บญِ๏ปณ๏บคً๏บŽ ๏ปƒَ๏ปดِّ๏บ’َ๏บ”ً , ๏ปญَ๏ปงَ๏บŽ๏ป“ِ๏บฆُ ๏บ๏ปŸْ๏ปœِ๏ปด๏บฎِ ๏บ‡ِ๏ปฃَّ๏บŽ ๏บƒَ๏ปฅْ ๏ปณَ๏บคْ๏บฎِ๏ป•َ ๏บ›َ๏ปดَ๏บŽ๏บ‘َ๏ปšَ ๏ปญَ๏บ‡ِ๏ปฃَّ๏บŽ ๏บƒَ๏ปฅْ ๏บ—َ๏บ ِ๏บชَ ๏บญِ๏ปณ๏บคً๏บŽ ๏บงَ๏บ’ِ๏ปด๏บœَ๏บ”ً
"Tidak lain permisalan teman duduk yang sholih dengan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. MAKA penjual minyak wangi baik ia  menghadiahkan kepadamu atau engkau membeli darinya atau (minimal) engkau akan mendapatkan aroma yang wangi darinya.
Sedangkan pandai besi boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapati aroma yang busuk."
Yakni teman duduk yang SHOLIH -Masya Alloh- dia memiliki tiga keadaan yang semuanya baik:
▶ Boleh jadi dia akan memberi dan menyodorkan untukmu hadiah "Silahkan, ini minyak wangi untukmu!"
Ia sodorkan untukmu satu botol, dia berikan kepadamu.
▶ Boleh jadi engkau akan membeli darinya yakni engkau belanja darinya.
Kamu mendapatkan manfaat darinya dan ini suatu kebaikan, (karena) engkau tidak membeli khomer dan juga sesuatu yang haram bahkan membeli sesuatu yang baik yang dicintai Alloh Azza wa Jalla yang dianjurkan bagimu (memakainya) ketika sholat, dikehendaki darimu ketika masuk masjid. MAKA dari orang ini engkau mendapatkan manfaat.
▶ Barangkali juga engkau akan mendapatkan darinya aroma wangi dan ini adalah kebaikan.
๐Ÿ‘ŽSedangkan teman duduk yang JELEK laksana pandai besi:
❌Bisa jadi dia akan membakar pakaianmu
❌dan boleh jadi engkau mendapati aroma busuk yang mungkin akan menimbulkan penyakit kanker atau suatu penyakit atau sesuatu selainnya. Kita mohon perlindungan kepada Allah.
⚠ Maka teman duduk sudah tentu akan memberikan kepadamu kejelekan dan keburukan.
«ูˆุงู„ู…ู€ู€ุฑุก ุนู€ู€ู„ู‰ ุฏูŠู† ุฎู„ูŠู„ู€ู€ู‡ ูู„ูŠู†ุธุฑ ุฃุญู€ู€ู€ุฏูƒู… ู…ู† ูŠุฎู€ู€ู€ู€ุงู„ู„»
"Dan seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya maka perhatikanlah masing-masing kalian kepada siapa ia berteman dekat!"

﴿ ุงู„ْุฃَุฎِู„َّุงุกُ ูŠَูˆْู…َุฆِุฐٍ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ู„ِุจَุนْุถٍ ุนَุฏُูˆٌّ ุฅِู„َّุง ุงู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู† ﴾ [ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฒุฎุฑู 67]
" Teman-teman AKRAB pada hari itu sebagiannya menjadi MUSUH bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." [Q.S. Az-Zukhruf: 67]
Para pengikut hawa nafsu dan Ahlul bid'ah bukanlah termasuk dari mereka (yang diperkecualikan di dalam ayat).
_______________
๐Ÿ‘ฃEngkau telah mendapati beberapa ayat dan hadits (sebagaimana telah disebut) yang memberikan peringatan sedangkan engkau mengatakan:
ู„ุง ุฃู…ู€ู€ุดูŠ..
๐Ÿ’จAku tidak akan berjalan (mengikutinya)!
❓Siapa yang telah memberikan kepadamu sifat maksum (terlindung dari kesalahan)! Apabila Rasulullah 'alaihis sholaatu wassalam dahulu MEMPERINGATKAN para shahabatnya dan Salafus shalih dahulu mereka adalah para imam yang diibaratkan laksana pegunungan (yang kokoh) mereka MENUTUP telinga-telinga mereka dan tidak ingin mendengar (ucapan) Ahlu bid'ah (lalu bagaimana denganmu?).
๐Ÿ‘ŠAdapun engkau justru pergi, mengunjungi, dan menghadiri pengajian-pengajian mereka yang akan menimpamu kejelekan-kejelekannya, dari asap dan semburannya.
Kami telah banyak pengalaman, sudah menjalani banyak hal. Kami sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun.
๐Ÿ”ดMereka-mereka yang teperdaya ini lenyap binasa dan  tersesat kebingungan. Ujung-ujungnya dapat dipastikan demikian, MEREKA AKAN BINASA. Kita memohon kepada Alloh perlindungan.
๐Ÿ”ดBetapapun kecerdasan yang telah ia raih maka sesungguhnya Allah yang akan menentukannya. Kita katakan kepadanya:
ุฐูƒู€ุงุกูƒ ู„ุง ูŠู†ูุนูƒ! ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ุชุจุฐู„ ุงู„ุฃุณุจุงุจ ููŠ ุญู…ู€ู€ุงูŠุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ู€ู€ู€ุฏูŠู† ุงู„ุฐูŠ ุฃุนู€ู€ู€ุทุงูƒ ุงู„ู„ู‡ ูˆุชุญู€ู€ุงูุธ ุนู„ูŠู‡, ู‡ุฐู‡ ู†ุนู…ู€ู€ุฉ ู„ุง ุชู„ุนุจ ููŠู‡ุง..
"Kecerdasanmu tidak akan bermanfaat (menangkal kejelekan mereka) kepadamu!  Engkau harus menempuh sebab-sebab dalam menjaga agama ini yang telah Alloh berikan kepadamu dan engkau berupaya memeliharanya.
☝Ini adalah suatu nikmat, jangan engkau bermain-main dengannya!"
ุงู„ุขู† ู…ู† ุชุฑูˆู† ู…ู† ุงู„ู€ู€ุญุฒุจูŠูŠู† - ููŠ ู‡ู€ู€ุฐู‡ ุงู„ุจู„ุงุฏ - ูƒู„ู‡ู€ู€ู… ุฃุตู„ู‡ู€ู€ู… ุณู„ููŠูŠู† ููŠ ู‡ู€ุฐู‡ ุงู„ุจู„ุงุฏ؛ ูƒู„ู‡ู€ู€ู€ู… ุถุงุนู€ู€ูˆุง ุจุณุจุจ ุงู„ู…ุฎุงู„ุทู€ู€ู€ุฉ ูˆุงู„ู…ุนู€ู€ุงุดุฑุฉ ูˆุงู„ู‚ู€ู€ู€ุฑุงุกุฉ ูˆุงู„ุณู…ู€ู€ู€ุงุน ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุฃู‡ู€ู€ู€ูˆุงุก..
๐Ÿ”ดSekarang siapa yang kalian lihat dari hizbiyyun -di negeri ini- MEREKA SEMUA PADA ASALNYA ADALAH SALAFIYYIN DI NEGERI INI.
Mereka semua telah celaka dengan sebab berkumpul, bergaul, dan membaca serta mendengarkan para pengikut hawa nafsu..
๐Ÿ”ดSegala yang kalian lihat sekarang dan yang dikatakan tentang mereka bahwa si fulan hizbi dan fulan hizbi... mereka seluruhnya TIDAKLAH HANCUR kecuali dengan wasilah (sebab) ini, mereka berpegang dengan pendapat ini:
« ุขุฎู€ู€ุฐ ุงู„ู€ู€ุญู‚ ูˆุฃุชุฑูƒ ุงู„ุจุงุทู€ู€ู€ู€ู„ »
"AKU AMBIL YANG BENAR NYA DAN AKU TINGGALKAN YANG BATHILNYA"
๐Ÿ”ดKemudian dia malah MENGAMBIL YANG BATHIL dan meninggalkan yang haq serta menjadi musuh bagi al-Haq dan memerangi Ahlul Haq!
๐Ÿ“Š[Fatawa Aqidah dan Manhaj Pertemuan Kedua]
                              ✲✹✲
๐ŸŒ Sumber:
http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=29&id=277

TERCELANYA SIKAP "TALAWWUN' DALAM AGAMA ALLAH...



TERCELANYA SIKAP "TALAWWUN" DALAM AGAMA ALLAH,  dan
⚠ TAHDZIR DARI DUDUK DENGAN ORANG "MUTALAWWIN"

"Talawwun"/berwarna-warni dalam beragama merupakan sifat yang tercela. fal'iyadzubillah

Seorang "Mutalawwin" adalah sebutan untuk orang yang suka berwarna-warni/berubah-rubah dalam beragama. Ia mencampur adukkan antara tauhid dan syirik, antara sunnah dan bid'ah, antara haq dan batil. Mereka bukan ahlussunnah. Mereka ahlul ahwa wal fitan. fal'iyadzubillah.dan semestinya kita tidak bermudah-mudah untuk menuduh sesama ahlussunnah dengan tuduhan 'mutalawwin'.

⛵ Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata :
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Wahai Saudara-saudaraku dan anak-anakku..
๐Ÿ“Ÿ Tidak setiap orang yang berbicara bisa didengar ucapannya. Seorang yang berakal akan menyeleksi ucapan yang didengarnya, dan tidak menghafalnya kecuali yang terbaik dari ucapan yang dia dengar. Jika dia berbicara, maka dia mengucapkan kalimat terbaik dan terindah dari ucapan yang dihafalnya.
Ⓜ Jadi,  wajib bagi setiap insan untuk memperhatikan dan berhati-hati, terkhusus di zaman ini.
Sesungguhnya ajakan-ajakan kepada kesesatan sangat banyak, Maha Suci Allah dan maha Agung, betapa miripnya malam ini dengan malam kemarin.
  Sesungguhnya sunnah itu adalah pintu-pintu yang saling berkaitan.
  Jika seseorang sepakat dengan kita dalam mengingkari khawarij akan tetapi menyelisihi kita dalam  menyikapi murji'ah, maka DIA BUKAN seorang SUNNI. Jika dia sepakat dengan kita dalam menyikapi murji'ah akan tetapi dia membela khawarij, maka DIA JUGA BUKAN SUNNI. Jika dia sepakat dengan kita dalam ketaatan terhadap pemerintah kaum muslimin kemudian menyelisihi dalam hal loyalitas terhadap ahlu bid'ah, DIA BUKAN SUNNI. Jika dia sepakat dengan kita dalam semua perkara ini tetapi dia marah ketika ahlu bid'ah di bantah maka DIA BUKAN SUNNI.
Berhujjah itu hanyalah diterima dengan sesuatu yang tidak bisa digugat, yaitu ucapan manusia yang maksum, Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan sebelum itu, firman Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala. Adapun ucapan manusia maka setiap mereka bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak, diambil ucapannya jika sesuai dengan al-haq dan ditolak kebatilan yang dia telah salah padanya.
 Hendaklah diketahui bahwa :
▪ prinsip al-Wala' wa al-Bara' TETAP BERLAKU-alhamdulillah- dan
▫menjauhi pengekor hawa nafsu dan ahlu bid'ah serta membenci mereka, TETAP BERLAKU -alhamdulillah- walaupun mereka dari anak-anak kita.
▪Menjelaskan al-haq yang mereka ada padanya dan menegakkan syari'at Allah Jalla wa 'Ala TETAP ADA,  walaupun terhadap anak-anak kita,
  maka dengan cara inilah PEMBELAAN terhadap agama Allah Tabaraka wa Ta'ala.
 Jika yang engkau inginkan adalah keridhaan Allah dan negeri akherat, maka WAJIB atasmu menegakkan syari'at Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

INILAH DA'I MUDAHIN (Na'udzubillahi mindzalik)



Berkata Syaikh Muhammad Aman al Jami rahimahullah:
 Seorang dai yang berupaya untuk meraih simpatik seluruh manusia, yang mana mereka berbeda-beda status sosialnya, berbeda-beda seleranya, berbeda-beda partai dan jamaahnya, kemudian sang dai ini menginginkan simpatik dari seluruh jenis manusia di atas?
Dai seperti ini adalah dai yang MUDAHIN (bermudah-mudahan mengalah dalam prinsip agamanya).
Seorang dai yang berusaha mendapatkan rido seluruh manusia, dia berupaya jangan sampai ada yang membencinya dan setiap orang mengatakan tentangnya: “fulan seorang yang adil dan tidak suka menghasut”. Seorang dai yang menginginkan seluruh sekte, seluruh jamaah rido kepadanya, maka dia seorang MUDAHIN DAN MUNAFIK tanpa diragukan.
Dikarenakan tidak mungkin untuk bisa membuat rido seluruh manusia, sebagaimana perkataan Imam Syafi’i rahimahullah:
“Keridoan manusia adalah sebuah tujuan yang tidak bisa dicapai”.
▪Maka upaya anda untuk membuat rido seluruh manusia adalah sebuah target yang sulit untuk dicapai.
Maka di sana ada sebuah tujuan dan target yang bisa untuk dicapai bahkan dituntut kita untuk mencapainya. . .
Yaitu mencari keridoan Allah.
 Keridoan Allah bisa dicapai oleh orang-orang yang mendapatkan taufiq dari-Nya dan berupaya untuk mencari keridoan-Nya.
 Wajib bagi setiap dai yang akan turun ke medan dakwah untuk menanamkan prinsip ini dalam sanubarinya. . .
Dan barang siapa yang tidak bisa menanamkan prinsip ini dalam sanubarinya, maka hendaknya dia tinggal dan duduk saja di rumahnya.
 Sumber: Kitab Syarh:Syarat-Syarat  Laa ilaaha illallohu. hal: 102-103

--------------------------------------
๏ป—๏บŽ๏ป ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปด๏บฆ ๏ปฃ๏บค๏ปค๏บช ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ๏ปฅ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏บŽ๏ปฃ๏ปฒ – ๏บญ๏บฃ๏ปค๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช –
๏ปซ๏บฌ๏บ “ ๏ปฃ๏บช๏บ๏ปซ๏ปฆ ”
‏« ๏บ๏ปŸ๏บช๏บ๏ป‹๏ปด๏บ” ๏บ๏ปŸ๏บฌ๏ปฑ ๏ปณ๏บค๏บŽ๏ปญ๏ป ๏บƒ๏ปฅ ๏ปณ๏ปœ๏ปฎ๏ปฅ ๏ปฃ๏บค๏บ’๏ปฎ๏บ‘๏บŽً ๏ปŸ๏บช๏ปฏ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ๏บŸ๏ปค๏ปด๏ปŒ๏บŽً ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บ๏บง๏บ˜๏ปผ๏ป‘ ๏ปƒ๏บ’๏ป˜๏บŽ๏บ—๏ปฌ๏ปข ๏ปญ๏ปฃ๏ปด๏ปฎ๏ปŸ๏ปฌ๏ปข ๏ปญ๏บ๏ปง๏บ˜๏ปค๏บŽ๏บ€๏บ๏บ—๏ปฌ๏ปข ๏ปญ๏บŸ๏ปค๏บŽ๏ป‹๏บŽ๏บ—๏ปฌ๏ปข ๏ป›๏ป ๏ปฌ๏ปข ๏ปณ๏บค๏บ’๏ปฎ๏ปง๏ปช ، ๏ปซ๏บฌ๏บ “ ๏ปฃ๏บช๏บ๏ปซ๏ปฆ ” -. ๏บ๏ปŸ๏บช๏บ๏ป‹๏ปด๏บ” ๏บ๏ปŸ๏บฌ๏ปฑ ๏ปณ๏บค๏บŽ๏ปญ๏ป ๏บƒ๏ปฅ ๏ปณ๏บฎ๏บฟ๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏บŸ๏ปค๏ปด๏ปŒ๏บŽً ๏ป“๏ปผ๏บƒ๏บฃ๏บช ๏ปณ๏ป๏ป€๏บ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช،๏ปญ๏ป›๏ปž ๏ปญ๏บ๏บฃ๏บช ๏ปณ๏ป˜๏ปฎ๏ป : ๏ป“๏ปผ๏ปฅ ๏ป‹๏บŽ๏บฉ๏ป ๏ปŸ๏ปด๏บฒ ๏บ‘๏ปค๏บธ๏บŽ๏ป๏บ ، ๏ปญ๏ป›๏ปž ๏บ๏ปŸ๏ป”๏บฎ๏ป• ๏ปญ๏ป›๏ปž๏บ๏ปŸ๏ป„๏ปฎ๏บ๏บ‹๏ป’ ๏ปญ๏ป›๏ปž
๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปค๏บŽ๏ป‹๏บŽ๏บ• ๏ปญ๏ป›๏ปž ๏บ๏ปป๏บ—๏บ ๏บŽ๏ปซ๏บŽ๏บ• ๏บญ๏บ๏บฟ๏ปด๏บ” ๏ป‹๏ปฆ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏บ๏ปŸ๏บธ๏บจ๏บบ،، “ ๏ปฃ๏บช๏บ๏ปซ๏ปฆً ๏ปฃ๏ปจ๏บŽ๏ป“๏ป– ๏ปญ๏ปป ๏บท๏ปš ๏ป“๏ปฒ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ” ๏บ‡๏บซ ๏ปป ๏ปณ๏ปค๏ปœ๏ปฆ ๏ปซ๏บฌ๏บ،،
– ๏ปญ๏ป›๏ปค๏บŽ ๏ปณ๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏บ๏ปŸ๏บธ๏บŽ๏ป“๏ปŒ๏ปฒ ‘: ๏บญ๏บฟ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ” ๏ปป ๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ’ ๏ป“๏ปœ๏ปฎ๏ปง๏ปš ๏บ—๏บค๏บŽ๏ปญ๏ป ๏บƒ๏ปฅ ๏บ—๏บฎ๏บฟ๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏บŸ๏ปค๏ปด๏ปŒ๏บŽً ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ” ๏ปป ๏ปณ๏ปค๏ปœ๏ปฆ๏บ‡๏บฉ๏บญ๏บ๏ป›๏ปฌ๏บŽ ، ๏ปŸ๏ปœ๏ปฆ ๏ปซ๏ปจ๏บŽ๏ป™ ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ” ๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ๏ปญ๏ปฃ๏ป„๏ป ๏ปฎ๏บ‘๏บ” ، ๏ป“๏บฎ๏บฟ๏บŽ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ” ๏ปป ๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ๏ปญ๏ปŸ๏ปด๏บด๏บ– ๏บ‘๏ปค๏ป„๏ป ๏ปฎ๏บ‘๏บ” ، ๏ปŸ๏ปœ๏ปฆ ๏บญ๏บฟ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ” ๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ๏ปญ๏ปฃ๏ป„๏ป ๏ปฎ๏บ‘๏บ” ، ๏ป“๏บฎ๏บฟ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บณ๏บ’๏บค๏บŽ๏ปง๏ปช ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ”๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ๏ปŸ๏ปค๏ปฆ ๏ปญ๏ป“๏ป˜๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปญ๏บ—๏ปŒ๏บฎ๏บฝ ๏ปŸ๏ปค๏บฎ๏บฟ๏บŽ๏บ—๏ปช ، ๏บญ๏บฟ๏บŽ๏ปฉ ๏ป๏บŽ๏ปณ๏บ”๏บ—๏บช๏บญ๏ป™ ๏ปญ๏ปฃ๏ป„๏ป ๏ปฎ๏บ‘๏บ” ๏ปณ๏บ ๏บ ๏บƒ๏ปฅ ๏ปณ๏ปœ๏ปฎ๏ปฅ ๏บ๏ปŸ๏บช๏บ๏ป‹๏ปด๏บ” ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปช ๏ปซ๏บฌ๏บ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปŒ๏ปจ๏ปฐ ๏ป‹๏ปจ๏บช๏ปฃ๏บŽ ๏ปณ๏ปจ๏บฐ๏ป ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปด๏บช๏บ๏ปฅ ๏ปŸ๏ป ๏บช๏ป‹๏ปฎ๏บ“ ، ๏ปญ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปป ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปŒ๏ปจ๏ปฐ ๏ป‹๏ปจ๏บช๏ปฃ๏บŽ ๏ปณ๏ปจ๏บฐ๏ป ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปด๏บช๏บ๏ปฅ ๏ปŸ๏ป ๏บช๏ป‹๏ปฎ๏บ“ ، ๏ปญ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปป๏ปณ๏บด๏บ˜๏ป„๏ปด๏ปŠ ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏ป“๏ป ๏ปด๏บ ๏ป ๏บฒ ๏ป“๏ปฒ ๏บ‘๏ปด๏บ˜๏ปช .
๐Ÿ“š ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป›๏บ˜๏บŽ๏บ : ๏บท๏บฎ๏บก ๏บท๏บฎ๏ปญ๏ป ๏ปป ๏บ‡๏ปŸ๏ปช ๏บ‡๏ปป ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช. ๏ปฃ๏ปฆ๏บน 102 ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ 103

Amalkan ilmu yang sampai kepadamu. Jangan sampai engkau katakan : Kita Mengetahui, Tapi Sayang, Kita Tidak Mengamalkan



Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan: "Seorang anak perempuan meninggal karena Thoun, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya: "Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!"
Anak perempuan itu menjawab: "Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu rakaat sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya"..
Berkata Ibnul Qayyim: "Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya.."

Kita mengetahui, bahwa ucapan ุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุญู…ุฏู‡ Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali  akan  menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang.. Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun..
Kita mengetahui, bahwa pahala  dua rakaat Dhuha setara  dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang.. Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha...
Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api  neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar..
Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya.. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini..
Kita mengetahui, bahwa siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu..
Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur.  Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun..
Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al Qur'an dalam jadwal harian kita...
Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang,  kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya..
Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam..
Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu..
Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita, tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau  dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka..

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..
Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..
Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..
Dan pada  hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena  pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing..

JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMU, MANFAATKAN IA SEBAIK-BAIIKNYA.



Abu Bakr bin Iyyash adalah seorang Qari terkenal pada abad ke-3 Hijriyyah. Beliau memiliki banyak ungkapan yang menggugah dan bijaksana.
Diantaranya adalah ungkapan beliau:
"Sesungguhnya apabila terjatuh sekeping dirham dari salah seorang yang diantara kalian, pasti saat itu juga dia akan berkata: "Dirhamku hilang." Namun dia tidak pernah mengatakan: "Hari-hariku terbuang dengan segala amal perbuatanku."
Itulah perbedaan antara logika orang yang sadar dengan orang yang lalai, antara orang yang terpedaya dan terburu-buru, dengan orang yang berfikir mencari masa depan.
Orang bisa berkata: "Dirhamku hilang." Namun ketika umur-umurnya berkurang setahun demi setahun, dia tidak berkata: "Umurku hilang, apa yang telah kukerjakan selama ini?"
Yฤ Rabbฤซ, begitu banyak sikap lalai yang kita saksikan manifestasinya di tengah masyarakat yang tidak menyadari berharganya saat-saat dan hari-hari yang mereka lalui.
Mereka memandangnya bagaikan debu yang tidak punya nilai. Mereka hanya merasa sedih karena hilangnya materi.
Padahal mereka diciptakan untuk beribadah, bukan untuk bersenang-senang dan memperbanyak harta semata.
Generasi Islam yang utama adalah yang memiliki kelebihan dengan mengenal berharganya waktu dan dapat mempergunakannya dengan baik.
Wahai Saudaraku semuslim...
Ketahuilah, kehidupan dunia hanya sementara..
Ibarat seorang pengembara yang berjalan dan singgah di suatu tempat, niscaya dia akan kembali ke tempat asalnya..
Seluruh perhiasan dunia dan kelezatannya adalah amanah Allฤh yang harus ditunaikan dengan baik..
Digunakan untuk keta'atan, bukan kemaksiatan..
Berbekal amal shalih dan kebajikan didunia ini adalah suatu kemestian, sebagai persiapan sebelum datang hari yang tiada guna lagi penyesalan..
Harta yang kita miliki hanyalah pinjaman dari Allฤh, seorang insan akan ditanya kelak pada hari kiamat tentang hartanya..
~~✾~~ 
Wahai Rabbku,
Yฤ Rahmฤn, wahai Yang Maha Pengasih,
Mudahkanlah perhitungan amalku,
Dan jadikanlah catatan amalku membahagiakan,
Teguhkanlah telapak-telapak kaki kami di atas Jembatan,
Yฤ Allฤh,
Jadikanlah tempat akhir kami dalam perjalanan kepadaMu,
Di padang Surga Firdaus,
Aku hambaMu yang kerdil, yang terikat dosa-dosa,
Dikuburku nanti, luaskanlah kesempitanku,
Agar harum tanahnya bagi yang terputus dengan dunia.
_______
Sumber:
⑴ Potret Kehidupan Para Salaf Dr. Musthafa Abdul Wahid Pustaka At-Tibyan.
⑵ Keajaiban Sedekah Abu Abdillah bin Luqman Al-Atsari Salwa Press.
⑶ Kunci Pembuka Langit Khalid bin Muhammad 'Athiyyah Pustaka Ibnu 'Umar.

Minggu, 03 Mei 2015

SILSILAH WASIAT TERAKHIR MUFTI AHLUS SUNNAH YAMAN ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH AL-WALID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL-WUSHOBI RAHIMAHULLAH [1]

  SILSILAH WASIAT TERAKHIR MUFTI AHLUS SUNNAH YAMAN ASY-SYAIKH AL-'ALLAMAH AL-WALID MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB AL-WUSHOBI RAHIMAHULLAH [1]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
** WASIAT KEPADA **
PARA AHLUS SUNNAH
         DI YAMAN
             *****
1⃣ aku mewasiatkan kepada ahlus sunnah di Yaman hendaknya mereka mengetahui kadar serta kedudukan para syaikh mereka dan para ulama mereka, dan mereka adalah :
1. Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Abdullah Al-Imam
2. Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Yahya Al-Buro'i
3. Asy-Syaikh Al-Mubarok Muhammad bin Sholih As-Saumali
4. Asy-Syaikh Ad-Da'iyah Al-Mubarok Abdullah bin Utsman Adz-Dzamari
5. Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdurrahman bin Mar'i Al-Adeni
6. Asy-Syaikh Al-'Allamah Utsman As-Salimi
7. Asy-Syaikh Al-Fadil Abdullah bin Mar'i
maka merujuklah kalian kepada mereka dan hendaklah kalian mengambil faidah dari pengarahan-pengarahan mereka dan nasehat-nasehat mereka yang diberkahi, dan diambil faidah dari ilmu mereka dengan memberikan hasungan untuk hadir di pondok-pondok pesantren mereka, sungguh sekian umat telah mendapat manfaat dengan keberadaan pondok-pondok tersebut yang tak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah subhanahu wa ta'ala.
maka ambil lah faidah dari pondok-pondok tersebut dan hasunglah orang lain kepada pondok-pondok tersebut, pondok-pondok tersebut merupakan pembuka kebaikan dan penutup kejelekan, dan ditahdzir / diperingati orang-orang yang mentahdzir darinya.
2⃣ sebagaimana aku juga menasehatkan kepada ahlus sunnah dengan kesabaran dan tidak tergesa-gesa dan sikap berhati-hati setiap terjadi suatu perkara yang baru.
dan hendaklah tidak mendahului para ahli ilmu, bahkan sepatutnya untuk bersikap tenang dan bersabar hingga para ulama mengutarakan pendapat mereka dan hingga dikeluarkan pengarahan-pengarahan mereka, dan apa yang telah berlalu dari fitnah-fitnah merupakan sebuah pelajaran yang mencukupi untuk tidak mendahului ahli ilmu dalam hukum terhadap suatu permasalahan dan suatu kejadian.
nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
" sikap kehati-hatian itu dari Allah dan sikap ketergesa-gesaan itu dari syaithon "
Allah ta'ala berfirman :
" apabila datang suatu perkara dari rasa aman ataupun rasa ketakutan serta merta mereka menyiarkannya, seandainya mereka mengembalikan perkaranya kepada rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentu akan mengetahuinya orang-orang yang mengambil pelajaran darinya "
dan nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
" keberkahan itu ada bersama para pembesar kalian "
3⃣ aku wasiatkan semoga Allah memberi taufiq kepada kalian semua untuk saling bersatu dan berkasih sayang karena Allah dan mengetahui bagi ulama mereka kadar serta kedudukan mereka dalam pandangan syariat yang adil tanpa disertai sikap ghuluw atau meremehkan hak mereka atau kaku dalam bermuamalah terhadap mereka dan mendo'akan bagi mereka dengan taufiq dan kekokohan dalam keadaan susah maupun lapang.
4⃣ dan aku mewasiatkan kepada mereka untuk saling berkunjung dan bermusyawarah di antara mereka dikarenakan sesungguhnya yang demikian itu terdapat padanya faidah yang agung serta bimbingan yang kokoh, mengisyaratkan kepada rihlah ilmiah menuntut hadits yang bermanfaat.
sungguh nabi Allah Musa telah melakukan rihlah / safar kepada Al-Khodir dan Jabir bin Abdillah telah melakukan rihlah ke negeri Mesir hanya karena menuntut sebuah hadits dan Ahmad bin Hanbal rihlah ke negeri Yaman, dan kitab Ar-Rihlah karya Al-Khothib Al-Baghdadi tidaklah asing oleh kalian.
dan senantiasa sunnah tersebut tegak sampai hari kiamat yaitu saling berkunjung karena Allah dan melakukan rihlah dalam rangka menuntut ilmu.
๐Ÿ“ sumber : [ lembaran wasiat al-wushobi hal 10-12 ]
_______________________
๐Ÿ“œ ูˆุตูŠุชูŠ ู„ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ููŠ ุงู„ูŠู…ู†
===================
ูุจุงู„ุฅุถุงูุฉ ุฅู„ู‰ ุชู„ูƒ ุงู„ูˆุตุงูŠุง ุงู„ุนุงู…ุฉ ุฃูˆุตูŠู‡ู… ุจุงู„ุขุชูŠ :
1⃣ ุฃู† ูŠุนุฑููˆุง ู„ู…ุดุงูŠุฎู‡ู… ูˆุนู„ู…ุงุฆู‡ู… ู‚ุฏุฑู‡ู… ูˆ ู…ูƒุงู†ุชู‡ู…، ูˆู‡ู… :
1. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฅู…ุงู…
2. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ูŠุญูŠู‰ ุงู„ุจุฑุนูŠ
3. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุตุงู„ุญ ุงู„ุตูˆู…ู„ูŠ
4. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฏุงุนูŠุฉ ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนุซู…ุงู† ุงู„ุฐู…ุงุฑูŠ
5. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ู…ุฑุนูŠ ุงู„ุนุฏู†ูŠ
6. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุนุซู…ุงู† ุงู„ุณุงู„ู…ูŠ
7. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูุงุถู„ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุฑุนูŠ
ููŠุฑุฌุนูˆุง ุฅู„ูŠู‡ู… ูˆ ูŠุณุชููŠุฏูˆุง ู…ู† ุชูˆุฌูŠู‡ุงุชู‡ู… ูˆ ู†ุตุงุฆุญู‡ู… ุงู„ู…ุจุงุฑูƒุฉ ูˆ ูŠุณุชูุงุฏ ู…ู† ุนู„ู…ู‡ู… ุจุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุญุถูˆุฑ ุฅู„ู‰ ู…ุฑุงูƒุฒู‡ู… ุงู„ุชูŠ ู†ูุน ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ุง ุฃู…ู…ุง ู„ุง ูŠุญุตูŠู‡ุง ุฅู„ุง ู‡ูˆ -ุณุจุญุงู†ู‡- ู‚ุงุณุชููŠุฏูˆุง ู…ู†ู‡ุง ูˆ ุญุซูˆุง ุบูŠุฑูƒู… ุฅู„ูŠู‡ุง، ูู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุฑุงูƒุฒ ู…ูุงุชูŠุญ ู„ู„ุฎูŠุฑ ูˆ ู…ุบุงู„ูŠู‚ ู„ู„ุดุฑ ูˆ ูŠุญุฐุฑ ู…ู…ู† ูŠุญุฐุฑ ู…ู†ู‡ุง.
2⃣ ูƒู…ุง ุฃูˆุตูŠู‡ู… ุจุงู„ุตุจุฑ ูˆ ุงู„ุชู…ู‡ู„ ูˆ ุงู„ุชุฃู†ูŠ ูƒู„ู…ุง ุฌุฏ ุฌุฏูŠุฏ ูˆ ุฃู„ุง ูŠุชู‚ุฏู…ูˆุง ุจูŠู† ุจุฏูŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุจู„ ูŠุชุฑูŠุซูˆุง ูˆ ูŠุตุจุฑูˆุง ุญุชู‰ ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒู„ู…ุชู‡ู… ูˆ ุชุตุฏุฑ ุชูˆุฌูŠู‡ุงุชู‡ู…، ูˆู…ุง ู…ุฑ ู…ู† ุงู„ูุชู† ุฏุฑูˆุณ ูƒุงููŠุฉ ููŠ ุนุฏู… ู…ุณุงุจู‚ุฉ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ุงู„ุญูƒู… ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุถุงูŠุง ูˆ ุงู„ุฃุญุฏุงุซ.
ู‚ุงู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… :
" ุงู„ุชุฃู†ูŠ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุงู„ุนุฌู„ุฉ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู† "
ูˆู‚ุงู„ ุชุนุงู„ู‰ { ูˆุฅุฐุง ุฌุงุกู‡ู… ุฃู…ุฑ ู…ู† ุงู„ุฃู…ู† ุฃูˆ ุงู„ุฎูˆู ุฃุฐุงุนูˆุง ุจู‡ ูˆ ู„ูˆ ุฑุฏูˆู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุณูˆู„ ูˆ ุฅู„ู‰ ุฃูˆู„ูŠ ุงู„ุฃู…ุฑ ู…ู†ู‡ู… ู„ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุณุชู†ุจุทูˆู†ู‡ ู…ู†ู‡ู… }
ูˆู‚ุงู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆ ุงู„ุณู„ุงู… :
" ุงู„ุจุฑูƒุฉ ู…ุน ุฃูƒุงุจุฑูƒู… "
3⃣ ุฃูˆุตูŠู‡ู… ูˆูู‚ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุชุขู„ู ูˆ ุงู„ุชุญุงุจุจ ููŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุฃู† ูŠุนุฑู ู„ุนู„ู…ุงุฆู‡ู… ู‚ุฏุฑู‡ู… ูˆ ู…ูƒุงู†ุชู‡ู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ุงู„ุนุงุฏู„ุฉ ุฏูˆู† ุบู„ูˆ ุฃูˆ ุฅุฌุญุงู ู„ุญู‚ู‡ู… ุฃูˆ ุฌูุงุก ููŠ ู…ุนุงู…ู„ุชู‡ู… ูˆ ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู‡ู… ุจุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆ ุงู„ุณุฏุงุฏ ููŠ ุงู„ุดุฏุฉ ูˆ ุงู„ุฑุฎุงุก.
4⃣ ูˆ ุฃูˆุตูŠู‡ู… ุจุงู„ุชุฒุงูˆุฑ ูˆ ุงู„ุชุดุงูˆุฑ ููŠู…ุง ุจูŠู†ู‡ู… ูุฅู† ููŠ ุฐู„ูƒ ููˆุงุฆุฏ ุนุธูŠู…ุฉ ูˆ ุฅุฑุดุงุฏุงุช ุณุฏูŠุฏุฉ ูˆุงุญูŠุง ู„ู„ุฑุญู„ุงุช ุงู„ุนู„ู…ูŠุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซูŠุฉ ุงู„ู…ููŠุฏุฉ، ูู‚ุฏ ุฑุญู„ ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ ู…ูˆุณู‰ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฎุถูŠุฑ ูˆ ุฑุญู„ ุฌุงุจุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฅู„ู‰ ู…ุตุฑ ู…ู† ุฃุฌู„ ุญุฏูŠุซ ูˆ ุฑุญู„ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ูŠู…ู† ูˆ ูƒุชุงุจ ุงู„ุฑุญู„ุฉ ู„ู„ุฎุทูŠุจ ุงู„ุจุบุฏุงุฏูŠ ู„ูŠุณ ุนู†ูƒู… ุจุจุนูŠุฏ.
ูˆู„ุง ุชุฒุงู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุณู†ุฉ ู‚ุงุฆู…ุฉ ุฅู„ู‰ ู‚ูŠุงู… ุงู„ุณุงุนุฉ ุฃูŠ ุงู„ุชุฒุงูˆุฑ ููŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุงู„ุฑุญู„ุฉ ู„ุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู….

Tanya Jawab Seputar Permasalahan Jarh dan Ta’dil dan Penerapannya di Masa ini Bersama Prof. Dr. Asy-Syaikh Washiyyullah Abaas


Penanya:
Bismillaahir rahmaanir rahiim, pertanyaan pertama syaikh kami, ketika salah seorang da’i terjatuh dalam beberapa kesalahan yang berkaitan dengan pribadinya, misalkan memiliki akhlak yang buruk atau terjatuh dalam kemaksiatan. Apakah diperbolehkan menjatuhkan da’i tersebut dan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di antara manusia? Apakah kesalahan-kesalahan tersebut mengeluarkannya dari as-salafiyyah? Perlu diketahui bahwa masalah seperti ini banyak terjadi di negeri kami
Asy-Syaikh Washiyyullah Abbas:
Bismillahir rahmanir rahiim, segala puji milik Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik makhluk-Nya Muhammad, keluarganya, serta seluruh sahabatnya.
Tidak diragukan lagi bahwa manusia memiliki banyak kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat. Apabila ada dari salah seorang ikhwan, ia memiliki aqidah yang benar, ia terjatuh dalam kesalahan, berbuat maksiat, kemudian bertaubat dari kesalahannya, maka tidak diperbolehkan menyebarkan kesalahannya, bahkan kesalahan itu wajib ditutupi. Tidak diperbolehkan menyebarkan kesalahannya, wajib dijaga kepribadiannya, disampaikan nasehat kepadanya sampai ia menjauh dari maksiat insya Allah.
Demikian pula seandainya ia adalah seorang yang terus-menerus berbuat maksiat yang sangat  jelas. Dalam kasus pertama, apabila ia bertaubat, maka hal itu tidak mengeluarkannya (dari as-salafiyyah), sebagaima seorang muslim (yang berbuat maksiat) tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Sama halnya dengan maksiat yang disertai taubat, hal itu tidak mengeluarkannya dari as-salafiyyah dalam keadaan apapun.
Para sahabat dahulu terjatuh dalam maksiat, apakah maksiat tersebut mengeluarkan mereka dari sebutan sahabat? atau berakibat mereka tidak memperoleh keutamaan sahabat? tentu tidak, apalagi jika mereka telah bertaubat. Adapun apabila seorang terus-menerus berbuat maksiat tanpa takwil (anggapan keliru), terkadang ia memiliki takwil, hal ini juga tidak mengeluarkan dari as-salafiyyah.
Apabila takwil tersebut tidak bisa diterima, dalam keadaan ini, iya. Terkadang di sana terdapat sebagian orang yang menyatakan “orang ini mumayyi’ (bermanhaj lembek), keluarkan orang ini (dari as-salafiyyah), ia hizbi” atau ungkapan yang semisal. Saya berharap kepada saudara-saudaraku agar tidak mengeluarkan perkataan-perkataan semisal ini, kecuali apabila ia menampakkan perbuatan maksiatnya dan bersikap ta’ashub terhadap pendapat yang batil. Inilah yang menyelisihi manhaj salaf. Akhak yang seperti ini mengeluarkannya dari as-salafiyyah. Adapun pada kasus pertama, tidak sampai mengeluarkannya insya Allah. Saudara-saudaranya wajib menutup dan melembutkan hatinya, bukan malah semakin menjauhkannya dari kebenaran.
Penanya:
Pertanyaan kedua, apakah seorang penuntut ilmu disyaratkan harus memperoleh izin dari sebagian da’i tertentu agar ia diperbolehkan untuk berdakwah menyeru kepada Allah dan menyampaikan ilmu di hadapan manusia? Perlu diketahui bahwa kenyataan yang terjadi di negeri kami demikian. Apabila belum memperoleh izin, maka manusia dilarang hadir di majelisnya.
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Pertanyaan Anda, apabila ia belum memperoleh tazkiyyah dari para da’i yang ada di sana, kemudian ia tidak diperbolehkan untuk menyampaikan ilmu dan berdakwah, pada hakikatnya ini adalah kesalahan. Orang-orang yang meremehkan syaikh tersebut (da’i), semestinya ia merasa malu dari kelakuannya itu.
Apabila diketahui ada seorang yang -insya Allah- memiliki aqidah yang benar, memiliki akhlak, riwayat hidup dan kepribadian yang baik atau ia lulus dari salah satu fakultas di Universitas Islam (bermanhaj salaf), bahkan meskipun ia belum lulus dari kuliah, hanya menimba ilmu di pondok pesantren atau selainnya, (ia boleh berdakwah). Apakah mereka lupa dengan perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat”
Kami menyatakan, hendaklah ia berdakwah sesuai kadar ilmu yang Allah tabaraka wata’ala anugrahkan kepadanya, tidak masuk dalam permasalahan fatwa, serta tidak masuk dalam masalah-masalah yang detail. Apabila ia telah menimba ilmu di ma’had lughah, mempelajari kitab At-Tauhid atau mempelajari salah satu kitab-kitab fiqih semisal Bulughul Maram atau kitab yang lain, atau ia telah mengetahui beberapa pembahasan ilmu, maka ia wajib mengajarkan ilmu kepada manusia dan duduk mengajar di majelis ilmu, membacakan (suatu kitab) kepada mereka dan memberikan penjelasan kitab tersebut, namun ia tidak perlu masuk dalam ilmu-ilmu yang berat.
Tidak disyaratkan mendapatkan izin dahulu, apakah izin dari masyayikh di sini atau izin dari para da’i di sana, insya Allah manusia akan memberikan tanggapan baik kepadanya. Apabila ia memiliki kesalahan-kesalahan, maka orang-orang  yang menampilkan dirinya sebagai orang yang besar (ustadz kibar), hendaklah meluruskan kesalahan-kesalahannya, selama ia berjalan di atas jalan istiqamah, tidak memiliki penyimpangan aqidah maupun fiqih yang ia ajarkan kepada manusia, kenapa ia dilarang untuk mengajarkan ilmu? 
Sebagian sahabat duduk (menuntut ilmu) bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selama dua puluh hari, kemudian beliau shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ajarkanlah kepada orang-orang di belakang kalian”
Manusia wajib memahami permasalahan ini, namun jika ia adalah seorang yang bodoh bisa dilihat dari tingkah lakunya, manusia juga bisa menilai kebodohannya, tidak dikenal pernah menuntut ilmu,  tidak pula duduk bersama ulama atau selainnya, maka model orang yang seperti ini dilarang untuk berdakwah, jika telah nampak terjatuh dalam kesalahan, iya.
Penanya:
Pertanyaan ketiga, apa perbedaan antara nasihat dan tahdzir? Apakah disyaratkan menasehati sebelum memberikan tahdzir?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Wajib memberikan nasehat sebelumnya, kita mencoba untuk menasehatinya, termasuk menutup aibnya. Termasuk juga dalam hal ini sikap hikmah, lembut dan nasehat. Adapun kebalikannya, apa yang tadi Anda katakan?
Penanya:
Tahdzir
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Tahdzir tidaklah diberikan kecuali kepada orang-orang yang terus-menerus berada di atas kebatilan, setelah Anda menyampaikan nasehat kepadanya, Anda wajib menyampaikan nasehat, barangkali ia belum memahami, maka kita membuatnya faham dan duduk bersamanya. Apabila ia memang tidak mau faham dan terus-menerus berada di atas kebatilan, maka dalam keadaan ini kita memberikan tahdzir kepadanya. Wahai ikhwan, ilmu tidak diambil dari orang-orang semacam ini, karena orang itu tidak memiliki aqidah yang benar, mungkin ia meyakini aqidah yang batil atau meyakini aqidah-aqidah yang jelas-jelas menyelisihi As-Sunnah, seperti aqidah Asy’ariyyah, Maturidiyyah dan lainnya.
Demikian pula apabila ilmu yang ia miliki bukan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, ia berfatwa sekehendaknya, dalam keadaan ini tahdzir hukumnya wajib setelah Anda menyampaikan nasehat kepadanya. Apabila nasehat itu tidak diterima, barulah keluar tahdzir. Namun jika ia menerima nasehat tersebut, tidak boleh menyebarkan nasehat itu di antara manusia, sebagaimana dinyatakan para ulama: “Nasehat bukanlah membongkar aib”
Nasehat pun tidak disampaikan di hadapan manusia, harus dilakukan dengan hikmah, Anda menyendiri bersamanya, kemudian katakanlah kami melihat atau mendengar demikian dan demikian, insya Allah Anda akan meninggalkan kesalahan tersebut? Apabila ia menyatakan iya, kemudian mengakui kesalahannya insya Allah hal itu merupakan tanda kebaikan. Adapun jika ia terus-menerus di atas kebatilan dengan menyatakan, siapa Anda? Ada urusan apa Anda memberikan nasehat kepadaku? Anda… Anda… Orang semacam ini pantas ditahdzir.
Penanya:
Pertanyaan keempat, apakah jarh dan ta’dil termasuk permasalahan ijthadiyyah? Bagaimana penerapan jarh dan ta’dil di masa ini?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Permasalahan jarh dan ta’dil memiliki kaidah-kaidah, dan setiap kaidah membutuhkan ijtihad dalam penerapannya. Masalah ijtihadiyyah di sini bukanlah maknanya seorang boleh mengambil pendapat mana yang ia sukai. Bukan pula yang dimaksud ijtihadiyyah, masalah ini tidak memiliki kaidah-kaidah yang pasti. Kita memiliki kaidah-kaidah yang pasti.
Apabila kami memberikan jarh kepada Anda sekarang, tentu kami harus memiliki ilmu yang menjadi alasan untuk memberikan jarh kepada Anda. Apakah kami boleh memberikan jarh dengan alasan mengatasnamakan as-salafiyyah? aku tidak memaksudkan orang tertentu. Ini bukanlah jarh, kita harus mengetahui sebab jarh yang menjadikan seseorang di-jarh, sebagaimana hal ini telah diketahui dari seorang Syaikh, beliau memiliki kitab dalam permasalahan ini.
Seorang harus mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil. Apabila seorang di-jarh, jangan kalian mengambil ilmu darinya misalkan, apa alasannya? apabila pertanyaan ini ditanyakan, kemudian ia tidak menjawab, maka jarh tersebut tertolak. Namun apabila kenyataannya, orang yang di-jarh tersebut tidak pernah menuntut ilmu di negeri mana pun, kemudian ia tampil di antara manusia, padahal ia tidak dikenal memiliki ilmu dan riwayat menuntut ilmu, maka jarh yang semacam ini tepat dan diletakkan pada tempatnya, karena kita telah mengatahui sebab jarh.
Namun jarh yang tanpa dijelaskan sebabnya, jangan dekati fulan. Apabila seorang penuntut ilmu bertanya, apa sebabnya? Kemudian ia menjawab: “Saya hanya bisa menyatakan demikian kepada Anda”, maka jarh semacam ini tidak diterima.
Permasalahan jarh dan ta’dil tidak diragukan lagi memiliki kaidah-kaidah, seorang ulama berijtihad dalam menerapkan kaidah-kaidah tersebut. Permasalahan jarh dan ta’dil bukan ijtihadiyyah, jika yang dimaksud seorang boleh memilih pendapat sesuka hatinya. Ia harus berjalan sesuai kaidah-kaidah jarh dan taldil dan berijtihad dalam menerapkan kaidah tadi terhadap orang yang diperbincangkan. Apabila (ulama) memberikan ta’dil kepadanya, apakah memberikan ta’dil dengan ilmu atau dengn kebodohan? Setiap masalah ini memiliki syarat-syarat di sisi para ulama.
Penanya:
Benarkah pernyataan ini wahai syaikh “apabila seorang ulama memberikan jarh kepada seseorang, maka wajib mengambil jarh tersebut, karena hal ini termasuk dalam pembahasan menerima khabar tsiqah?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Iya, apabila ulama tersebut menjelaskan sebab jarh-nya kepada kita saat kita bertanya, jarh dalam keadaan ini sangat pantas diterima. Namun terkadang manusia menyampaikan berita kepadanya dengan menyatakan “seorang yang tsiqah menyampaikan kepadaku, dari fulan atau fulan berkata”. Pernyataan-pernyataan ini tidak semestinya terucap, karena kita diperintahkan untuk tatsabbut dalam segala sesuatu, meskipun berasal dari ulama besar. Karena terkadang berita yang disampaikan kepada ulama tersebut adalah kedustaan. Ulama  menyatakan sesuai apa yang Anda katakan. Apabila Anda jujur dalam menyampaikan, maka orang yang di-jarh tersebut memang tidak pantas diambi ilmunya. Namun terkadang kenyataannya tidak demikian. Meskipun ia seorang ulama besar, terkadang berita yang disampaikan manusia tidak sesuai hakikatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah didatangi oleh kaum munafik yang mengaku sebagai muslim, dan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermuamalah kepada mereka sebagaimana beliau bermuamalah bersama kaum muslimin, demikian pula seorang syaikh.
Lihatlah Malik rahimahullah, ulama menyatakan bahwa beliau (Malik) memberikan ta’dil (pujian) kepada sebagian perawi yang dha’if seperti Abdul Karim bin Abil Makhariq. Ulama berkata: “Malik tertipu oleh keindahan akhlaknya”. Oleh karena itu, wajib untuk diteliti kebenarannya, meskipun (jarh tersebut) berasal dari ulama besar. Apakah Anda mendengar berita langsung dari syaikh? Aku dengar demikian. Jelaskan padaku apa sebab jarh ulama kepada fulan? Bukan merupakan keharusan, menerima perkataan setiap orang. Jika demikian keadaannya, maka kita telah terjatuh dalam taklid, ini tidak diperbolehkan.
Penanya:
Bagaimana kita bermuamalah dalam perselisihan yang terjadi di antara ulama terkait fiqih jarh dan ta’dil?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Penggunaan istilah jarh dan ta’dil dalam menshahihkan dan melemahkan suatu hadits tidaklah dipakai kecuali di ruang kelas atau sekolah-sekolah. Namun jarh dan ta’dil yang Anda tanyakan, yang dimaksud adalah jarh terhadap fulan, jangan mengambil ilmu darinya, atau ta’dil terhadap fulan, ambillah ilmu darinya, inilah jarh dan ta’dil. Apa pertanyaan Anda?
Penanya:
Bagaimana bermuamalah dalam perselisihan yang ada?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Iya, perselisihan itu sendiri kita menimbangnya dengan timbangan keadilan, kita berbicara dengan perkataan yang adil, Paham? Kita harus menyatakan apabila fulan di-jarh, apa sebabnya? sama seperti penjelasan yang telah lalu. Kita tidak menerima semua perkataan yang berasal dari seseorang. Tidak pula kita menyatakan “seandainya jarh tersebut berasal dari ulama pun, kita tidak menerimanya”. Kita harus meneliti, apabila nampak kepadamu bahwa Asy-Syaikh Fulan memberikan jarh kepada fulan, namun Anda memiliki suatu (yang belum diketahui), sampaikan kepada Asy-Syaikh. Apabila jarh tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, kita harus menyampaikannya kepada Asy-Syaikh. Demikianlah cara bermuamalah dalam perselisihan yang terjadi saat ini.
Adapun Anda menyatakan “Kami tidak menerima perkataan Asy-Syaikh”, ungkapan ini pun keliru secara mutlak. Bisa jadi Asy-Syaikh memiliki ilmu (yang tidak Anda ketahui). Tidak pula kita menerima perkataan Asy-Syaikh dalam segala keadaan, meskipun terkadang Asy-Syaikh tertipu sebagaimana Malik rahimahullah tertipu. Permasahan ini harus diteliti dan tatsabbut dalam mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil, serta penerapan kaidah-kaidah yang ada.
Penanya:
Iya Asy-Syaikh, apa nasehat Anda terkait dengan pemaksaan-pemaksaan pendapat yang ada?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Pemaksaan pendapat?
Penanya:
Iya
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, seandainya ada orang-orang yang memaksaku untuk meyakini kebenaran yang terang, aku akan mengikutinya, baik ia memaksaku atau tidak. Apabila ia memaksaku untuk mengikuti pendapat pribadinya, (misalkan ia berkata) “jika Anda tidak menerima pendapatku, maka saya akan menjatuhkan Anda atau saya akan memerintahkan manusia untuk memboikot Anda.” Maka  hanya bisa menyatakan “Cukuplah Allah sebagai sebaik-baik pelindung”.
Penanya:
Apa kita boleh menyatakan bahwa yang dipahami dari firman Allah ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah, (dikhawatirkan) kalian akan menimpakan kebodohan kepada suatu kaum, kemudian kalian akan menyesali perbuatan kalian”.
Bisa dipahami bahwa apabila sorang tsiqah datang kepada kita, misalkan membawa berita, apakah kita wajib menerimanya dan tidak perlu diteliti lagi?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Tidak,….
Penanya:
Permasalahan tahdzir, vonis mubtadi’ dan hajr secara berantai wahai syaikh? Misalkan apabila seorang (ulama) memberikan jarh kepada seseorang, kemudian ada orang lain yang tidak menerima jarh-nya, maka orang yang kedua (yang tidak menerima jarh tersebut) divonis mubtadi’.
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, kami mengingatkan mereka agar takut kepada Allah ‘azza wajalla. Tidaklah ada perkataan yang terucap, melainkan di sisinya terdapat malaikat yang dekat dan mencatat amalannya. Anda menyatakan padaku bahwa aku mubtadi’? Anda telah mencelaku. Seandainya di sana terdapat negeri yang menegakkan Islam, kami akan mengeluh kepada hakim, kenapa Anda memberikan vonis mubtadi’ kepada saya…
Adapun semua orang harus taklid, apabila salah seorang ulama memvonis mubtadi’, maka ini adalah hizbiyyah tersembunyi. Jadilah hal itu sebagai taklid buta. As-Salafiyyah tidak mengenal taklid buta maupun sikap hizbiyyah 
Penanya:
Tahdzir berantai wahai syaikh, mereka berpendapat bahwa barangsiapa yang tidak memvonis mubtadi’ orang yang telah divonis mubtadi’, maka ia juga mubtadi’?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Ini juga merupakan kesalahan. Kami menyatakan insya Allah hal ini bukan sebuah keharusan. Mungkin nampak di sisi Anda bahwa orang ini adalah mubtadi’, kemudian aku mengamatinya, ternyata ia memiliki udzur sehingga menurutku ia bukan mubtadi’ insya Allah. Tidak ada keharusan (untuk mengikuti pendapat Anda). Demikian pula sejak masa salaf, tidak ada keharusan demikian saat mereka berselisih. Ulama ini menilai tsiqah, sedangkan yang lain memberikan jarh. Ulama yang men-jarh tidak menyatakan (kepada yang ulama men-ta’dil) jika Anda tidak memberikan jarh kepadanya, Anda adalah seorang yang majruuh. Tidak demikian..
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai syaikh
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Barakallahufiik, silahkan
Penanya:
Pertanyaan dari ikhwah Indonesia, mereka meminta arahan dan nasehat dari Anda
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Terkait masalah apa?
Penanya:
Sekarang, pertanyaan tentang ma’had, terjadi pemaksaan pendapat di wilayah kami.. bagaimana sikap yang benar yang harus kami pegang berdasarkan timbangan Al-Qur’an, As-Sunnah serta manhaj as-salaf ash-shalih terkait permasalahan Al-Akh Dzulqarnain, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam dan Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Adeni, serta pemaksaan pendapat kepada manusia agar mereka menerima jarh tersebut, hingga mereka menuntut manusia untuk menulis pernyataan rujuk dan penjelasan rujuk?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Orang-orang yang memaksa manusia untuk menulis pernyataan rujuk dan penjelasan rujuk, serta tanda tangan karena tidak menvonis mubtadi’ orang-orang yang mereka vonis, ini juga merupakan kebid’ahan dan sikap zalim yang dari mereka.
Hendaknya mereka malu kepada Allah tabaraka wata’ala, mereka telah menampilkan diri mereka seperti hakim dan raja, hingga menuntut manusia untuk menulis tanda tangan, apakah mereka tidak malu? Aku menyatakan secara terang-terangan, mereka wajib diam sebagaimana kebanyakan ulama diam terhadap vonis mubtadi’ kepada Muhammad Al-Imam, Abdurrahman Al-Adeni dan selainnya. Orang-orang yang memvonis mubtadi’ tidak perlu didengar. Apabila mereka memvonis mubtadi’, kami tidak menerima vonis mereka, karena Muhammad Al-Imam memiliki udzur.
Orang-orang yang memaksa manusia, pada hakikatnya merekalah yang mubtadi’ disebabkan pemaksaan mereka agar meyakini pendapat-pendapat mereka yang rusak. Ini bukanlah termasuk manhaj salaf. Dahulu salaf tidak memaksakan pendapat mereka kepada yang lain, karena ulama lain pun memiliki pendapat sendiri yang berlandaskan dengan dalil. Pada hakikatnya mereka telah keluar dari manhaj salaf, jika mereka terus-menerus melakukan pemaksaan.
Penanya:
Apa nasehat Anda kepada seorang yang telah menuruti paksaan mereka, ia telah menandatangani surat pernyataan dan membacakannya di hadapan manusia?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Apabila ia seorang lemah yang ingin menepis tuduhan dan berlepas diri dengan menyatakan: “aku berlepas diri” kemudian mengikuti apa yang mereka maukan, maka orang ini lemah. Orang berjiwa lemah lah yang bersedia menerima pemaksaan itu, … ia memiliki udzur. Menyepakati mereka bukan merupakan keharusan, namun jika ia mengikuti mereka dalam masalah ini, berjalan bersama mereka.
Kami katakan setiap orang tidak diharuskan menerima paksaan dari orang lain, ini jika mereka  tetap memaksa. Oleh karena itu, kami katakan, hendaklah mereka merasa malu, janganlah mempersempit hamba-hamba Allah ta’ala. Janganlah mereka memposisikan diri mereka seperti qadhi atau seperti hakim.
Penanya:
Pertanyaan terakhir wahai syaikh, tentang Sururiyyah, apa hakikat Sururiyyah, kapan seseorang dikatakan Sururiy?
Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
Demi Allah, Sururiyyah yang aku pahami, aku tidak tahu banyak tentang masalah ini. Namun yang aku ketahui, nama Sururiyyah disandarkan kepada Surur bin Zainal Abidin. Ia dulu belajar di Qashim, kemudian setelah itu, ia lancang membicarakan masyayikh dan pemerintah. Ia memprovokasi para penuntut ilmu untuk ikut berbicara dan melakukan demonstrasi atau semisalnya, hingga ia pergi menuju negeri kafir dan menetap di sana sekarang.
Sururiyyah dekat dengan orang-orang yang  suka membuat kekacauan, pemberontakan dan demonstrasi, tidak lebih dari ini. Awal mulanya, mereka menyatakan ia seorang yang berakal dan mendakwahkan sunnah. Akan tetapi subhanallah, hatinya dibolak-balikkan. Sekarang ia mendakwahkan kekacauan, pemberontakan dan demonstrasi, sementara ia tinggal jauh dari negeri Islam, menetap di negara Barat. Karena mereka tahu dan mewajibkan terjun dalam kancah politik.
Mereka akan melakukan segala sesuatu yang dapat mendatangkan keridhaan negara kafir, agar terus-menerus mendapatkan rizki (uang). Mereka harus berdusta, inilah akhir kondisi Zainal Abidin, ia menjadi seorang yang miskin, demikian pula salah seorang dari Mesir. Mereka sekarang saling bersekutu, iya.
Hayyakumullah, barakallahufikum, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, keluarganya, serta para sahabatnya.
Redaksi fatwa Asy-Syaikh Washiyullah Abbas:
ุฃุณุฆู„ุฉ ูˆุฃุฌูˆุจุฉ ุญูˆู„ ู‚ุถูŠุฉ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ูˆุชุทุจูŠู‚ู‡ ููŠ ุนุตุฑู†ุง ุงู„ุญุงุถุฑ ู…ุน ุตุงุญุจ ุงู„ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุฃุณุชุงุฐ ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุงู„ุดูŠุฎ ูˆุตูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุงุณ –ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰-
ุงู„ุณุงุฆู„:ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…. ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุฃูˆู„ ูŠุง ุดูŠุฎู†ุง, ุฅุฐุง ูˆู‚ุน ุฃุญุฏ ุงู„ุฏุนุงุฉ ููŠ ุฃุฎุทุงุก ุชุชุนู„ู‚ ุจุดุฎุตูŠุชู‡ ู…ุซู„ ุงู„ู‚ุตูˆุฑ ููŠ ุฌุงู†ุจ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ุฃูˆ ุงู„ูˆู‚ูˆุน ููŠ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ. ูู‡ู„ ูŠุฌูˆุฒ ุฅุณู‚ุงุทู‡ ูˆู†ุดุฑ ุฃุฎุทุงุฆู‡ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ؟ ูˆู‡ู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฎุทุงุก ุชุฎุฑุฌู‡ ุนู† ุงู„ุณู„ููŠุฉ؟ ุนู„ู…ุง ุจุฃู† ู…ุซู„ ู‡ุฐุง ูƒุซุฑ ูˆู‚ูˆุนู‡ ููŠ ุจู„ุงุฏู†ุง.
ุงู„ุดูŠุฎ ูˆุตูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุงุณ: ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนู„ู…ูŠู† ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑ ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†.
ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฎุทุงุก ูˆุฎูŠุฑ ุงู„ุฎุทุงุฆูŠู† ุงู„ุชูˆุงุจูˆู†. ูุฅุฐุง ูƒุงู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุฅุฎูˆุงู†  ูˆู‡ูˆ ุตุงุญุจ ุนู‚ูŠุฏุฉ ุณู„ูŠู…ุฉ ุฃุฎุทุฃ ููŠู‡, ูˆู‚ุน ููŠ ู…ุนุตูŠุฉ. ุซู… ุชุงุจ ู…ู†ู‡ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู†ุดุฑู‡ ุจู„ ูŠุฌุจ ุณุชุฑ ุฃู…ุฑู‡. ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู†ุดุฑู‡ ุจู„ ูŠุฌุจ ุณุชุฑ ุดุฎุตูŠุชู‡, ูˆู†ุตุญู‡ ุญุชู‰ ูŠุจุชุนุฏ ุนู† ุงู„ู…ุนุงุตูŠ –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡-. ูƒุฐู„ูƒ ุฅุฐุง ูุฑุถู†ุง ุฃู†ู‡ ุงู„ุดุฎุต ู…ุตุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ูˆุงุถุญุฉ ุฌุฏุง, ูููŠ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฅุฐุง ุชุงุจ ู„ุงุชุฎุฑุฌู‡, ูƒู…ุง ุฃู† ุงู„ู…ุณู„ู… ู„ุง ูŠุฎุฑุฌ ู…ู† ุงู„ุฅุณู„ุงู…. ูƒุฐู„ูƒ ู…ุน ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ุซู… ุงู„ุชูˆุจุฉ ู„ุง ูŠุฎุฑุฌู‡ ู…ู† ุงู„ุณู„ููŠุฉ ุจุญุงู„ ู…ู† ุงู„ุฃุญูˆุงู„.
ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆู‚ุน ููŠ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ. ู‡ู„ ุฃุฎุฑุฌู‡ ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ (....ูƒู„ู…ุฉ ุบูŠุฑ ูˆุงุถุญุฉ)؟  ู„ุง, ุจุนุฏ ู…ุง ุญุตู„ ุงู„ุชูˆุจุฉ. ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ุตุฑุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ุจุฏูˆู† ุชุฃูˆูŠู„, ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ู‡ู†ุงูƒ ุชุฃูˆูŠู„ ูู‡ุฐุง ุฃูŠุถุง ู„ุง ูŠุฎุฑุฌู‡ ู…ู† ุงู„ุณู„ููŠุฉ, ู„ุง ูŠุฎุฑุฌ. ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ุบูŠุฑ ู…ู‚ุจูˆู„ ูููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉ, ู†ุนู…. ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ู‡ู†ุงูƒ ู†ุงุณ ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ู‡ุฐุง ู…ู…ูŠุน, ูˆู‡ุฐุง ุฃุฎุฑุฌูˆู‡, ูˆู‡ุฐุง ุญุฒุจูŠ ุฃูˆ ุดูŠุก ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ู†ูˆุน. ูุฃุฑุฌูˆ ู…ู† ุงู„ุฅุฎูˆุงู† ุฃู† ู„ุง ูŠุณู…ุญูˆุง ู…ุซู„ ู‡ุฐุง ุงู„ูƒู„ุงู…, ุฅู„ุง ุฅุฐุง ุธู‡ุฑ ู„ู‡ ุจุงู„ูุนู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ูˆุงุชุนุตุจ ู„ุฑุฃูŠ ุฎุงุต, ู‡ุฐุง ู…ุฎุงู„ู ู„ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู, ูุชุฎุฑุฌู‡ ู‡ุฐุง ู‡ู†ุง ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ู…ู† ุงู„ุณู„ููŠุฉ. ุฃู…ุง ุงู„ุญุงู„ุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ู…ุง ุชุฎุฑุฌู‡ –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡-. ูˆูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุฎูˆุงู† ุงู„ุณุชุฑ ูˆุชุฃู„ูŠู ุงู„ู‚ู„ุจ ูˆู„ูŠุณ ุฅุจุนุงุฏู‡ ุนู† ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ.
ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุซุงู†ูŠ: ู‡ู„ ูŠุดุชุฑุท ู„ุทุงู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ุฃู† ูŠุญุตู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุฐู† ู…ู† ุจุนุถ ุงู„ุฏุนุงุฉ ุงู„ู…ุนูŠู†ูŠู† ุญุชู‰ ูŠุณู…ุญ ู„ู‡ ู„ู„ุฏุนูˆุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุชุนู„ูŠู… ุงู„ู†ุงุณ؟ ุนู„ู…ุง ุจุฃู† ุงู„ูˆุงู‚ุน ุนู†ุฏู†ุง ู‡ูƒุฐุง, ุญูŠุซ ู„ุง ูŠุณู…ุญ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุนู„ู… ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ุฏูŠู† ุญุชู‰ ูŠูƒูˆู† ู„ุฏูŠู‡ ุฅุฐู† ูˆุชุฒูƒูŠุฉ ู…ู† ุจุนุถ ุงู„ุฏุนุงุฉ ุงู„ู…ุนูŠู†ูŠู† ููŠ ุชู„ูƒ ุงู„ู…ู†ุทู‚ุฉ, ูˆุฅู„ุง ููŠู…ู†ุน ุงู„ู†ุงุณ ุนู† ุงู„ุญุถูˆุฑ ู…ุฌู„ุณู‡.
ุงู„ุดูŠุฎ: ุณุคุงู„ูƒ ุฃู†ุช ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ุชุฒูƒูŠุฉ ู…ู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุฉ ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏูŠู† ู‡ู†ุงูƒ, ูู„ุง ูŠุณู…ุญ ู„ู‡ ุงู„ูƒู„ุงู… ูˆุงู„ุฏุนูˆุฉ. ู‡ุฐุง ุฎุทุฃ ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ, ูˆุงู„ุฐูŠู† ูŠุญุชู‚ุฑูˆู† ู‡ุฐุง ุงู„ุดูŠุฎ ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุณุชุญูŠูˆุง ู…ู† ู…ุซู„ ู‡ุฐุง, ุฅุฐุง ุนุฑู ุฃู† ุงู„ุดุฎุต –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ – ูƒุงู† ุณู„ูŠู… ุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ, ุณู„ูŠู… ุงู„ุฎู„ู‚, ูˆุญุณู† ุงู„ุณูŠุฑุฉ ูˆุงู„ุณู„ูˆูƒ,  ููŠ ุงู„ุฌุงู…ุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ูˆุชุฎุฑุฌ ููŠ ุงู„ุฌุงู…ุนุฉ ู…ู† ุฅุญุฏู‰ ุงู„ูƒู„ูŠุงุช, ูู„ูˆ ู„ู… ูŠูƒู† ุชุฎุฑุฌ ู…ู† ุงู„ูƒู„ูŠุฉ, ูŠูƒูˆู† ุฏุฑุณูˆุง ุงู„ู…ุนู‡ุฏ ูˆุบูŠุฑู‡. ูุฃูŠู† ูŠุฐู‡ุจ ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุจู„ุบูˆุง ุนู†ูŠ ูˆู„ูˆ ุขูŠุฉ؟.
ูู†ู‚ูˆู„ : ูŠู‚ูˆู… ุจุงู„ุฏุนูˆุฉ ุนู„ู‰ ู‚ุฏุฑ ู…ุง ุนู„ู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰, ู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุงู„ูุชุงูˆู‰, ูˆู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุงู„ุชูุงุตูŠู„, ู„ูƒู† ุฅุฐุง ุฏุฑุณ ู…ุนู‡ุฏ ุงู„ู„ุบุฉ ูˆุฏุฑุณ ููŠู‡ ูƒุชุงุจ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ุฃูˆ ุฏุฑุณ ููŠู‡ ุฃูŠ ูƒุชุงุจ ู…ู† ูƒุชุจ ุงู„ูู‚ู‡, ุจู„ูˆุบ ุงู„ู…ุฑุงู… ูˆุบูŠุฑู‡, ูˆุนุฑู ุงู„ู…ุณุงุฆู„, ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠุนู„ู… ุงู„ู†ุงุณ ูˆุฌู„ุณ ูˆูŠุนู„ู… ุงู„ู†ุงุณ, ูŠู‚ุฑุฃ ุนู„ูŠู‡ู… ูˆูŠุดุฑุญ ู„ู‡ู…, ู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุฃู…ู‡ุงุช ุงู„ู…ุณุงุฆู„, ูˆู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุฅุฐู† ุณูˆุงุก ูƒุงู† ู…ู† ู‡ู†ุง ู…ู† ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ ุฃูˆ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุฉ ู‡ู†ุงูƒ –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡- ุงู„ู†ุงุณ ูŠุดู‡ุฏูˆู† ู„ู‡ ุจุฎูŠุฑ. ุบุงูŠุฉ ู…ุง ููŠู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู‡ู†ุงูƒ ุฃุฎุทุงุก, ูู‡ุคู„ุงุก ุงู„ูƒุจุงุฑ ุงู„ุฐูŠู† ุชุตุฏุฑูˆุง ุฃูˆ ุชุตุฏุฑูˆุง ู„ุฃู†ูุณู‡ู… ุฃู†ู‡ู… ูƒุจุงุฑ, ูŠูู‡ู…ูˆู‡ ููŠ ุฃุฎุทุงุกู‡, ู„ูƒู† ู…ุง ุฏุงู… – ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡- ูŠู…ุดูŠ ุนู„ู‰ ุฎุท ุงู„ู…ุณุชู‚ูŠู…, ูˆู„ูŠุณุช ูŠุญุตู„ ู…ู†ู‡ ุฃุฎุทุงุก ุนู‚ุฏูŠุฉ ูˆู„ุง ูู‚ู‡ูŠุฉ ุงู„ุฐูŠ ูŠุนู„ู… ุงู„ู†ุงุณ, ูู„ู…ุงุฐุง ูŠู…ู†ุน ู…ู† ุงู„ุชุนู„ูŠู…؟
ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุฌู„ุณ ุนู†ุฏู‡ ุตุญุงุจุฉ ุนุดุฑูŠู† ูŠูˆู…ุง ูˆูŠู‚ูˆู„: ุนู„ู…ูˆุง ู…ู† ูˆุฑุงุกูƒู….
ููŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ุฃู† ูŠูู‡ู… ู‡ุฐุง ุงู„ุดูŠุก. ู„ูƒู† ุฅุฐุง ูƒุงู† ุฌุงู‡ู„ุง ุจุงู„ูุนู„, ุงู„ู†ุงุณ ูŠุดู‡ุฏูˆู† ุจุฌู‡ู„ู‡ ูˆู„ู… ูŠุชุนู„ู… ูˆู„ุง ... ุฑูƒุจุชู‡ ุฃู…ุงู… ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุบูŠุฑู‡ู…, ูู‡ุฐุง ูŠู…ู†ุน ุจุงู„ูุนู„ ุฅุฐุง ุธู‡ุฑ ุฃู†ู‡ ูŠุฎุทุฆ. ู†ุนู….
ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุซุงู„ุซ: ู…ุง ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ؟ ูˆู‡ู„ ูŠุดุชุฑุท ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ู‚ุจู„ ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ؟
ุงู„ุดูŠุฎ: ู„ุง ุจุฏ ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ุฃูˆู„ุง, ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุฃู†ู†ุง ู†ุญุงูˆู„ ุงู„ู†ุตุญ ู†ูุณู‡, ูˆูŠุฏุฎู„ ููŠู‡ ุงู„ุณุชุฑ, ูˆูŠุฏุฎู„ ููŠู‡ ุงู„ุญูƒู…ุฉ, ุงู„ู„ูŠู†, ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ. ุฃู…ุง ู…ู‚ุงุจู„ู‡, ู…ุงุฐุง ู‚ู„ุช؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ
ุงู„ุดูŠุฎ: ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู„ุง ูŠุฃุชูŠ ุฅู„ุง ู…ู† ูŠูƒูˆู† ู…ุตุฑุง ุนู„ู‰ ุงู„ุจุงุทู„, ูˆุจุนุฏ ู…ุง ุจุฐู„ุช ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ, ูŠุฌุจ ุฃู† ุชุจุฐู„ ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ, ู„ุนู„ ุงู„ุดุฎุต ู„ุง ูŠูู‡ู…, ูู†ูู‡ู…ู‡ ูˆู†ุฌู„ุณ ู…ุนู‡. ุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ุง ูŠุฑูŠุฏ ุฃู† ูŠูู‡ู… ูˆูŠุตุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุงุทู„, ูู‡ุฐุง ู†ุญุฐุฑู‡, ูŠุง ุฅุฎูˆุงู†, ู‡ุฐุง ู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ู…ู†ู‡ ุงู„ุนู„ู… ,ู„ุฃู† ุงู„ุฑุฌู„ ู„ูŠุณุช ุนู‚ูŠุฏุชู‡ ุณู„ูŠู…ุฉ, ุนู‚ูŠุฏุชู‡ ุฑุจู…ุง ุชูƒูˆู† ุจุงุทู„ุฉ ุฃูˆ ู…ู† ุงู„ุนู‚ุงุนุฏ ุงู„ุชูŠ ู‡ูŠ ู…ุฎุงู„ูุฉ ู„ู„ุณู†ุฉ ู‚ุทุนุง, ุฃุดุนุฑูŠุฉ , ู…ุงุชุฑุฏูŠุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ุง.
ูƒุฐู„ูƒ ุงู„ุนู„ู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ู‡ูˆ ูŠุนู†ูŠ ู„ูŠุณ ุจุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ, ุจู„ ูŠูุชูŠ ู…ุง ูŠุดุงุก, ู‡ู†ุง ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ูˆุงุฌุจ ุจุนุฏ ู…ุง ู†ุตุญุชู…. ู…ุง ู‚ุจู„ ุงู„ู†ุตุญ ูุงู„ุชุญุฐูŠุฑ. ูˆูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ุจุนุฏ ู…ุง ูŠู‚ุจู„, ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠู†ุดุฑ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ. ููƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ู…ุงุก: ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ู„ุง ุงู„ูุถูŠุญุฉ. ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ุฃูŠุถุง ู„ูŠุณ ุฃู…ุงู… ุงู„ู†ุงุณ, ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ุญูƒู…ุฉ, ูˆุชุฎุชู„ูŠ ู…ุนู‡, ุฑุฃูŠู†ุง ูˆุณู…ุนู†ุง, ู‚ูŠู„ ูƒุฐุง –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡- ุชุชุฑูƒ ู‡ุฐุง؟. ูุฅุฐุง ู‚ุงู„ ู†ุนู… ูˆุงุนุชุฑู –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡- ููŠู‡ ุฎูŠุฑ. ุฃู…ุง ุฅุฐุง ุงุณุชู…ุฑ, ู…ู† ุชูƒูˆู† ุฃู†ุช؟ ูˆู„ู…ุงุฐุง ุชู†ุตุญู†ูŠ؟ ูˆุฃู†ุช, ูˆุฃู†ุช, ูู‡ุฐุง ูŠุญุฐุฑ ู…ู†ู‡.
ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุฑุงุจุน: ู‡ู„ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ู…ู† ุงู„ู…ุณุงุฆู„ ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏูŠุฉ؟ ูˆ ูƒูŠู ู†ุทุจู‚ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุฒู…ุงู†؟
ุงู„ุดูŠุฎ: ู‡ูˆ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ู…ุณุงุฆู„ ู„ู‡ุง ู‚ูˆุงุนุฏ. ูˆููŠ ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ูŠูƒูˆู† ุงู„ุงุฌุชู‡ุงุฏ ู„ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ(....ูƒู„ู…ุฉ ุบูŠุฑ ูˆุงุถุญุฉ) ู„ูŠุณุช ุงุฌุชู‡ุงุฏูŠุฉ ุจู…ุนู†ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ูŠุณ ู‡ู†ุงูƒ ู‚ูˆุงุนุฏ ุซุงุจุชุฉ, ุนู†ุฏู†ุง ู‚ูˆุงุนุฏ ุซุงุจุชุฉ.
ุงู„ุขู† ุฅุฐุง ุฌุฑุญู†ุงูƒ ุฃู†ุช, ูู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนู†ุฏู†ุง ุนู„ู… ุจุงู„ุดูŠุก ุงู„ุฐูŠ ู†ุฌุฑุญูƒ ุจู‡. ู‡ู„ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู†ุง ุฃู† ู†ุฌุฑุญ ุจุฃู†ู‡ ู‡ูˆ ูŠุฏูˆ ุงู„ุณู„ููŠุฉ ูˆู„ุง ูŠุนู†ูŠ ุงู„ุดุฎุต ุงู„ูู„ุงู†ูŠ؟ ู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ุฌุฑุญุง. ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ุนุฑู ุงู„ุฌุฑุญ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฌุฑุญ ุจู‡ ูƒู…ุง ู‡ูˆ ู…ุนุฑูˆู ู…ู† ุงู„ุดูŠุฎ, ู„ู‡ ูƒุชุงุจ ุฃูŠุถุง, ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนุงุฑูุง ุจุฃุณุจุงุจ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„. ูุฅู† ุฌุฑุญ, ู‡ุฐุง ู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ู…ู†ู‡ ุงู„ุนู„ู…. ู„ู…ุงุฐุง؟ ุฅุฐุง ุณุฆู„ ูˆู„ู… ูŠุฌุจ, ูู‡ุฐุง ุงู„ุฌุฑุญ ู…ุฑููˆุถ. ู„ูƒู† ุฅุฐุง ู‚ุงู„ ุจุงู„ูุนู„. ู‡ุฐุง ู„ู… ูŠุฏุฑุณ ููŠ ู…ูƒุงู† ู…ุง, ูˆุจุฑุฒ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ ู„ู… ูŠุนุฑู ุจุงู„ุนู„ู… ูˆู„ุง ุงู„ุชุนู„ู…. ูู‡ุฐุง ูŠูƒูˆู† ุงู„ุฌุฑุญ ููŠ ู…ุญู„ู‡, ูˆุฌุฏู†ุง ุณุจุจ ุงู„ุฌุฑุญ. ู„ูƒู† ุจุฏูˆู† ุณุจุจ, ุจูŠุงู† ุงู„ุณุจุจ, ูู„ุงู† ุงู„ุดุฎุต, ู„ุง ุชู‚ุฑุจูˆุง ู…ู†ู‡ ! ู„ู…ุงุฐุง؟ ุทุงู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ูŠุณุฃู„. ุฅุฐุง ู‚ุงู„ : ุจุณ ุฃู†ุง ุฃู‚ูˆู„ ู„ูƒู… ู‡ูƒุฐุง. ู„ุง ูŠู‚ุจู„ ู…ู†ู‡ ู‡ุฐุง.
ูˆู‡ูŠ ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ู„ู‡ุง ู‚ูˆุงุนุฏ, ูŠุฌุชู‡ุฏ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ููŠ ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ. ุจุณ ู‡ูŠ ู„ูŠุณุช ุงุฌุชู‡ุงุฏูŠุฉ ุจู…ุนู†ู‰ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠุฑู‰ ุงู„ุฅู†ุณุงู†. ู„ุง ุจุฏ ุชุญุช ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ูˆูŠุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุดุฎุต ุงู„ุฐูŠ ูŠุชูƒู„ู… ููŠู‡. ูˆู‡ูˆ ูŠุนุฏู„ู‡ ุฃูŠุถุง, ูŠุนุฏู„ู‡ ุจุนู„ู… ุฃูˆ ูŠุนุฏู„ู‡ ุจุฌู‡ู„؟ ูƒู„ ู‡ุฐุง ุนู†ุฏ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุดุฑูˆุทู‡ุง.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ูˆู…ุง ุตุญุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ูŠุง ุดูŠุฎ : ุฅู† ุงู„ุนุงู„ู… ุฅุฐุง ุฌุฑุญ ุดุฎุตุง ููŠุฌุจ ู‚ุจูˆู„ ุฌุฑุญู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู…ู† ุจุงุจ ู‚ุจูˆู„ ุฎุจุฑ ุงู„ุซู‚ุฉ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ู†ุนู…, ุฅุฐุง ุฌุฑุญ ุจุงู„ูุนู„ ูˆุณุจุจ ุงู„ุฌุฑุญ ุฅุฐุง ุณุฃู„ู†ุง ูˆูŠุจูŠู† ู„ู†ุง, ู…ู‚ุจูˆู„ ุฌุฏุง. ู„ูƒู† ุฑุจู…ุง ูŠูƒูˆู† ุจู„ุบู‡ ุงู„ู†ุงุณ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ุฃุฎุจุฑู†ูŠ ุซู‚ุฉ, ูˆุจู„ุบู†ูŠ ุนู† ูู„ุงู†, ูˆู‚ุงู„ ูู„ุงู†. ู‡ุฐุง ูƒู„ู‡ ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุชูƒู„ู… ุจู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู†, ู„ุฃู†ู†ุง ุฃู…ุฑู†ุง ุฃู† ู†ุชุซุจุช ููŠ ุฃูŠ ุดูŠุก. ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุดูŠุฎ ูƒุจูŠุฑ, ุฑุจู…ุง ุจู„ุบู‡ ูˆู‡ูˆ ูƒุฐุจ. ูŠู‚ูˆู„ : ุนู„ู‰ ู…ุง ุชู‚ูˆู„, ุฅุฐุง ูƒู†ุช ุฃู†ุช ุตุงุฏู‚, ูู‡ุฐุง ู„ุง ูŠุตู„ุญ ุฃู† ูŠุคุฎุฐ. ู„ูƒู† ุฑุจู… ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุฎู„ุงู ู‡ุฐุง. ูˆู„ุฐู„ูƒ, ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ู‚ุฏ ูŠู„ุจุณ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู†. ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู†ูุณู‡, ูƒุงู† ูŠุฃุชูŠ ุงู„ู…ู†ุงูู‚ูˆู† ููŠ ุตูˆุฑุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†, ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠุนู…ู„ู‡ู… ู…ุนุงู…ู„ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†. ูู‡ูƒุฐุง ุงู„ุดูŠุฎ ู†ูุณู‡. ู…ุงู„ูƒ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡, ู‚ุงู„ูˆุง: ุฅู†ู‡ ูƒุงู† ูŠุนุฏู„ ุจุนุถ ุงู„ุถุนูุงุก ูˆ ุนุจุฏ ุงู„ูƒุฑูŠู… ุจู† ุฃุจูŠ ุงู„ู…ุฎุงุฑู‚. ู‚ุงู„ูˆุง: ุบุฑ ู…ุงู„ูƒุง ุณู…ุชู‡.
ูู„ุง ุจุฏ ู…ู† ุงู„ุชุญู‚ู‚, ุญุชู‰ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุดูŠุฎ ูƒุจูŠุฑุง. ู‡ู„ ุณู…ุนุช ุฃู†ุช ูŠุง ุฑุฌู„ ู…ู† ุงู„ุดูŠุฎ؟ ุฃู†ุง ุณู…ุนุช. ู‚ู„ ู„ูŠ ู…ุง ู‡ูˆ ุงู„ุณุจุจ ู„ุฃุญู‡ ุฌุฑุญ ูู„ุงู†؟
ูู„ูŠุณ ุจู„ุงุฒู… ุฃู† ูŠู‚ุจู„ ูƒู„ุงู… ูƒู„ ูˆุงุญุฏ. ูู‡ุฐุง ุฏุฎู„ู†ุง ููŠ ุงู„ุชู‚ู„ูŠุฏ, ูˆู‡ุฐุง ู…ู…ู†ูˆุน.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ูˆูƒูŠู ู†ุชุนุงู…ู„ ู…ุน ุงู„ุงุฎุชู„ุงู ุงู„ุญุงุตู„ ุจูŠู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู…ุซู„ุง ููŠ ุงู„ูู‚ู‡ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ุฅุฐุง ูƒุงู† ุจุงู„ูุนู„ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„, ู„ุฃู† ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ู…ุง ูŠูˆุฌุฏ ููŠ ุงุณุชุนู…ุงู„ู‡ ููŠ ุชุตุญูŠุญ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุชุถุนูŠูู‡ ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ุบุฑู ูˆุงู„ู…ุฏุงุฑุณ ูˆูƒุฐุง. ู„ูƒู† ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ุงู„ุฐูŠ ุชุณุฃู„ ุฃู†ุช, ุงู„ุธุงู‡ุฑ ุงู„ู…ู‚ุตูˆุฏ ู…ู†ู‡ ุฌุฑุญ ูู„ุงู†, ุฃู†ู‡ ู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ู…ู†ู‡ ุงู„ุนู„ู…, ุฃูˆ ุชุนุฏูŠู„ ูู„ุงู†, ุฎุฐูˆุง ู…ู†ู‡ ุงู„ุนู„ู…. ู‡ุฐุง ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„. ุณุคุงู„ูƒ ู…ุง ู‡ูˆ؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ูƒูŠู ู†ุชุนุงู…ู„ ุจุงุฎุชู„ุงู ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ุฃูŠูˆู‡ , ูุฅู† ุงู„ุงุฎุชู„ุงู ู†ูุณู‡ ู†ุฒู†ู‡ ุจู…ุฒุงู† ุงู„ุงุนุชุฏุงู„ ูˆู†ุชูƒู„ู… ุจู„ุณุงู† ุงู„ู…ุฒุงู†. ูู‡ู…ุช؟
ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ู‚ูˆู„ : ุฅู† ูƒุงู† ุฌุฑุญ ูู„ุงู†ุง,ูู…ุง ุณุจุจ ุงู„ุฌุฑุญ, ู†ูุณ ุงู„ุดูŠุก, ูŠุฑุฌุน ุฅู„ูŠู‡. ูˆู„ุง ู†ู‚ุจู„ ุฃูŠ ูˆุงุญุฏ ูŠู‚ุจู„ ููŠ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ, ูˆู„ุง ู†ู‚ูˆู„, ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู…ู† ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„ุง ู†ู‚ุจู„ ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ, ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ุฐู‡ุจ, ุฅุฐุง ุธู‡ุฑ ู„ูƒ ุฃู† ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ูู„ุงู†ูŠ ุฌุฑุญ ูู„ุงู†ุง, ูˆุนู†ุฏูƒ ุฃุดูŠุงุก, ุชุฎุจุฑู‡. ูˆุฅู† ูƒุงู† ุฌุฑุญ ูˆู‡ูˆ ุฎู„ุงู ุงู„ูˆุงู‚ุน, ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ุชุฎุจุฑู‡. ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุชุนุงู…ู„ ุงู„ุขู† ููŠ ู…ุซู„ ู‡ุฐุง.
ุฃู…ุง ุฃู† ุชู‚ูˆู„: ู„ุง ู†ู‚ุจู„ ูƒู„ุงู…ู‡, ูู‡ุฐุง ุฃูŠุถุง ุฎุทุฃ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุทู„ุงู‚. ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุดูŠุฎ ุนู†ุฏู‡ ุนู„ู…. ูˆุฃู…ุง ุฃู† ู†ู‚ุจู„ู‡ ุจูƒู„ ุญุงู„, ุฑุจู…ู…ุง ู„ุจุณูˆุง ุนู„ูŠู‡ ู…ุซู„ ู…ุง ู„ุจุณ ุนู„ู‰ ู…ุงู„ูƒ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡. ูุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุชุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุญู‚ู‚ ูˆุงู„ุชุซุจุช ููŠ ุฃุณุจุงุจ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„ ูˆุชุทุจูŠู‚ ุงู„ู‚ูˆุงุนุฏ.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ู†ุนู… ูŠุง ุดูŠุฎ, ูˆู…ุง ู†ุตูŠุญุชูƒู… ุนู† ุงู„ุงู„ุฒุงู…ุงุช ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏุฉ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ุงู„ุงู„ุฒุงู…ุงุช؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ู†ุนู…
ุงู„ุดูŠุฎ : ูˆุงู„ู„ู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู‡ู†ุงูƒ ู†ุงุณ ูŠู„ุฒู…ูˆู†ูŠ ุจุงู„ุญู‚ ุงู„ุซุงุจุช ูุฃู†ุง ู…ู„ุชุฒู…, ุณูˆุงุก ูŠู„ุฒู…ู†ูŠ ุฃูˆ ู„ุง ูŠู„ุฒู…ู†ูŠ.ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠู„ุฒู…ู†ูŠ ุจุฑุฃูŠ ุฎุงุต ู„ู‡, ุฅู† ู„ุง ุชู‚ุจู„ ูƒู„ุงู…ูŠ ูุฃู†ุง ุฃุณู‚ุทูƒ, ุฃูˆ ุฃู†ุง ุฃุณู„ุท ุนู„ูŠูƒ ุงู„ู†ุงุณ. ููŠู‚ูˆู„ : ุญุณุจูŠ ุงู„ู„ู‡ ูˆู†ุนู… ุงู„ูˆูƒูŠู„. ุจุณ.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ู‡ู„ ู†ุณุชุทูŠุน ุฃู† ู†ู‚ูˆู„ ุจุฃู† ู…ูู‡ูˆู… ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ :
))ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฅِู†ْ ุฌَุงุกَูƒُู…ْ ูَุงุณِู‚ٌ ุจِู†َุจَุฅٍ ูَุชَุจَูŠَّู†ُูˆุง ุฃَู†ْ ุชُุตِูŠุจُูˆุง ู‚َูˆْู…ًุง ุจِุฌَู‡َุงู„َุฉٍ ูَุชُุตْุจِุญُูˆุง ุนَู„َู‰ ู…َุง ูَุนَู„ْุชُู…ْ ู†َุงุฏِู…ِูŠู†َ((
ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุฌุงุกู†ุง ุซู‚ุฉ, ู…ุซู„ุง ุจุฎุจุฑ ูŠุฌุจ ู‚ุจูˆู„ู‡ ูˆู„ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชุจูŠู†؟
ุงู„ุดูŠุฎ :ู„ุง , ุงู„ุดูŠุฎ ู†ูุณู‡ ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† –ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…-, ู†ู‚ูˆู„ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุซู‚ุฉ ู…ุนุฑูˆู. ู„ูƒู† ุฑุจู…ุง ุงู„ุดุฎุต ู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุงู„ู‚ุฑูŠู† ู…ุซู„ุง, ุฃู†ุช ุชุฎุจุฑู†ูŠ ุนู† ุดุฎุต, ูˆุฃู†ุง ุฃู‚ูˆู„ :ู‡ุฐุง ุซู‚ุฉ, ู„ูƒู† ุฑุจู…ุง ุฃู†ุช ุฎููŠ ุนู„ูŠูƒ ุฃุดูŠุงุก. ูˆุฌุงุก ุดุฎุต ุขุฎุฑ ูŠุฌุฑุญู‡, ูู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ูˆุงุฒู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุดูŠุงุก. ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒู…. ู„ุฃู†ูŠ ู…ุง ุฌุฑุญุช ุงู„ุดุฎุต ู†ูุณู‡ ุฅู†ู…ุง ุฃุฎุจุฑู†ูŠ ุซู‚ุฉ, ูˆุฃุฎุจุฑู†ูŠ ุซู‚ุฉ ุฎู„ุงูู‡. ู…ุงุฐุง ู†ูุนู„؟ ุงู„ุฌุฑุญ ู…ู‚ุฏู… ุนู„ู‰ ุงู„ุชุนุฏูŠู„؟ ู†ุนู… ุงู„ุฌุฑุญ ู…ู‚ุฏู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ุณุจุจู‡ ูˆุงุถุญ. ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ูŠุณ ู‡ู†ุงูƒ ุฎู„ุงู ุจูŠู† ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„, ูุงู„ุฌุฑุญ ู…ู‚ุฏู…. ู„ูƒู† ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุดุฎุต ูŠุนุฏู„ูˆู†ู‡, ูˆุฃู†ุช ุชุนุฏู„ ูู„ุงู†ุง ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุชุฌุฑุญ, ู†ู†ุธุฑ ู…ุง ู‡ูŠ ุฃุณุจุงุจ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุงู„ุชุนุฏูŠู„, ูˆู†ุฒู† ุจูŠู†ู‡ู…ุง ูˆู†ู‚ูˆู„ ุฃู† ู‡ู†ุง ุงู„ุดุฎุต ู…ุฌุฑุญ ุฃูˆ ู…ุนุฏู„. ูู„ุง ู†ู‚ุจู„ ูƒู„ ู…ู† ุฌุงุก ูˆุฃุฎุจุฑ ูƒู„ุงู…ู‡ . ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ู…ุชูˆู‡ู…ุง ูˆู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุธู† ุดุฎุตุง ุขุฎุฑ, ุฃุดุงุก ูƒุซูŠุฑุฉ ูŠุญุตู„, ุญุชู‰ ููŠ ุชุฎุฑูŠุฌ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ูˆุงู„ุญูƒู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌุงู„. ูŠุธู† ุดุฎุต ุฃู† ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ูู„ุงู†ูŠ ูˆู‡ูˆ ุซู‚ุฉ, ููŠ ุญูŠู† ุฃู†ู‡ ุดุฎุต ุขุฎุฑ. ูุงู„ู…ุณุงุฆู„ ุชุฏุฎู„ ููŠู‡ุง ุญุชู‰ ุจุฃุฎุจุงุฑ ุงู„ุซู‚ุงุช, ููŠู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ูˆู‡ู…. ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ู†ุธุฑ ุฅู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุดูŠุงุก. ูˆุฎุงุตุฉ ุฃู†ุง ุฃู†ุตุญูƒู… , ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ ุงู„ุขู†, ุฅุฐุง ุจู„ุบุช ุฃู†ุช ุดูŠุฆุง, ุฑุจู…ุง ุฃุฎุฐ ู…ู†ู‡ ูˆุจู‚ูŠ ุนู„ูŠู‡. ูŠุฃุชูŠ ุดุฎุต ุขุฎุฑ ูŠุฎุงู„ููƒ ููŠ ู‡ุฐุง, ู…ุงุฐุง ุนู„ู‰ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃู† ูŠูุนู„؟ ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠุนุฑู ุฃู†ูƒ ุซู‚ุฉ ูˆุฐู„ูƒ ุซู‚ุฉ. ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠู†ุธุฑ ุงู„ุซู‚ุฉ ูˆูŠูุชุด ุงู„ุทุงู„ุจ ูˆุงู„ุฑุงุฌุญ ููŠุฑุฌุญ ูƒู„ุงู…ู‡.
ูุงู„ุขู†, ุงู„ุญุงุตู„ ุจูŠู† ุงู„ู„ุฅุฎูˆุงู† ุจู‡ุฐู‡  ุงู„ุตูŠุบุฉ ุฃู† ูู„ุงู†ุง ู…ู† ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ ุฃุฎุจุฑ ุฃุญุฏ ุนู† ุจุนุถ ุงู„ุทู„ุจุฉ. ู‚ุงู„ ู„ุง ุชุฃุฎุฐูˆุง ุนู†ู‡ ุงู„ุนู„ู…! ูˆู‡ู„ ู†ุญู† ู†ู‚ู„ุฏ ูƒู„ู†ุง ูˆู†ู‚ูˆู„ ู„ุง ุชู‚ุจู„؟ ู„ุง, ุทุงู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ูŠุจุญุซ ุงู„ุณุจุจ ููŠ ุงู„ูุนู„. ุฅุฐุง ุธู‡ุฑ ุงู„ุณุจุจ ูŠุจุชุนุฏ ุนู†ู‡. ุฅุฐุง ู…ุง ุธู‡ุฑ ุงู„ุณุจุจ؟ ุงู„ุขู†, ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฅู…ุงู…, ุฃู†ุช ุณุฃู„ุช ู‡ู†ุง. ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฅู…ุงู… ู„ู…ุง ุฌุฑุญู‡ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ, ู†ู‚ูˆู„: ูˆุงู„ู„ู‡ , ู„ู‡ ุนุฐุฑ, ู„ุง ู†ุฌุฑุญู‡ ุจู‡ุฐุง. ู…ุง ุชุบูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠ ุนู‚ูŠุฏุชู‡, ู…ุง ุชุบูŠุฑ ููŠ ุชุฏุฑูŠุณู‡, ู…ุง ุชุบูŠุฑ ููŠ ุฎุทุจู‡. ุทูŠุจ, ุจู…ุงุฐุง؟ ู„ุฃุฌู„ ุฃู† ู‡ู†ุงูƒ ุจุนุถ ุงู„ุฃุนุฐุงุฑ, ู„ุง ุชู‚ุจู„ูˆู† ุนุฐุฑู‡؟ ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุจู„ ุฃุนุฐุงุฑ ุงู„ู†ุงุณ, ูุชู‚ูˆู„ ู…ุซู„ ู‡ุฐุง. ู„ุง ุจุฏ ุฃู† ู†ูˆุงุฒู† ุงู„ู…ุณุงุฆู„ –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ – ุงู„ู…ุณุงุฆู„, ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ ู†ุชุถุญ ู„ู†ุง ู…ุง ู†ุชุถุญ.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ูˆุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุงู„ุชุณู„ุณู„ ููŠ ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ูˆุงู„ุชุจุฏูŠุน ูˆุงู„ู‡ุฌุฑุงู† ูŠุง ุดูŠุฎ؟
ู…ุซู„ุง, ุฅุฐุง ุฌุฑุญ ุดุฎุต ุดุฎุตุง ูˆู…ู† ู„ู… ูŠู‚ุจู„ ุฌุฑุญู‡ ูŠุจุฏุน ุงู„ุซุงู†ูŠ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ูˆุงู„ู„ู‡ ู†ุญู† ู†ุฎุงู ู‡ุคู„ุงุก ุจุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„. ู…ุง ูŠู„ูุธ ู…ู† ู‚ูˆู„ ุฅู„ุง ู„ุฏูŠู‡ ุฑู‚ูŠุจ ุนุชูŠุฏ. ูˆุฃู†ุช ุชู‚ูˆู„ ู„ูŠ ุฃู†ุง ู…ุจุชุฏุน, ุณุจุจุชู†ูŠ. ู„ูˆ ูƒุงู† ู‡ู†ุงูƒ ุฏูˆู„ุฉ ู‚ุงุฆู…ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุณู„ุงู…, ู†ุดุชูƒูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ู‚ุงุถูŠ, ู„ู…ุงุฐุง ุจุฏุนุชู†ูŠ؟ ุฃู†ุง ู„ูˆ ุจุฏุนุชู†ูŠ ู…ุซู„ ู…ุง ุจุฏุนุชู†ูŠ ูุฃู†ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุญู‚. ู…ุง ู‡ูˆ ูƒุฐุง؟ ู„ุง ูŠุญุจ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฌู‡ุฑ ุจุงู„ุณูˆุก ู…ู† ุงู„ู‚ูˆู„ ุฅู„ุง ู…ู† ุธู„ู…. ู†ุนู… , ุจุงู„ูุนู„ ูŠู†ุธุฑ, ุฃุฎุจุฑู†ูŠ ู„ู…ุงุฐุง ุจุฏุนุชู†ูŠ؟
ุฃู…ุง ุฃู† ูŠู‚ู„ุฏ ูƒู„ู‡ู… ุฅุฐุง ูƒุงู† ูˆุงุญุฏ ุจุฏุน, ูู‡ุฐุง ุตุฑ ุญุฒุจูŠุฉ. ุตุงุฑ ุชู‚ู„ูŠุฏ ู…ุญุถ. ู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุณู„ููŠุฉ ุชู‚ู„ูŠุฏ ู…ุญุถ ูˆู„ุง ุญุฒุจูŠุฉ....
ุงู„ุณุงุฆู„: ุงู„ุชุณู„ุณู„ ู‡ุฐุง ูŠุง ุดูŠุฎ, ุฃู†ู‡ู… ูŠุฑูˆู† ู…ู† ู„ู… ูŠุจุฏุน ู…ู† ุจุฏุน ูู‡ูˆ ู…ุจุชุฏุน؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ู‡ุฐุง ุฃูŠุถุง ุฎุทุฃ ู†ูุณู‡. ู†ู‚ูˆู„ : ู„ูŠุณ ู‡ุฐุง –ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡- ู„ูŠุณ ุจู„ุงุฒู…. ูŠุธู‡ุฑ ู„ูƒ ุฃู† ู‡ุฐุง ู…ุจุชุฏุน, ุฃู†ุง ู„ุงุญุธุช ุฃู† ู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ู…ุจุชุฏุน- ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡- ู„ู‡ ุนุฐุฑู‡. ูู„ูŠุณ ุจู„ุงุฒู… ู„ูƒ , ูˆู„ู… ูŠูƒู† ู„ุงุฒู…ุง ููŠ ู‚ุฏูŠู… ุงู„ุฒู…ุงู† ุฃูŠุถุง, ู„ู… ูŠูƒู† ู„ุงุฒู…ุง. ู‡ุฐุง ุงู„ุฅู…ุงู… ูŠูˆุซู‚ู‡ ูˆู‡ุฐุง ูŠุฌุฑุญู‡. ูˆู„ู… ูŠู‚ู„: ุฅุฐุง ู„ู… ุชุฌุฑุญู‡ ูุฃู†ุช ู…ุฌุฑุญ. ู…ุง ู‡ูˆ ูƒุฐุง؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุฌุฒุงูƒ ุงู„ู„ู‡ ุฎูŠุฑุง ูŠุง ุดูŠุฎ.
ุงู„ุดูŠุฎ :ุงู„ู„ู‡ ูŠุจุงุฑูƒ ููŠูƒ, ุชูุถู„
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุฐูŠ ูŠุณุฃู„ ุงู„ุฅุฎูˆุฉ ู…ู† ุฅู†ุฏูˆู†ูŠุณูŠุง. ูŠุฑูŠุฏูˆู† ุงู„ุชูˆุฌูŠู‡ ูˆุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ู…ู†ูƒู….
ุงู„ุดูŠุฎ : ููŠ ุฃูŠ ุดูŠุก؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุงู„ุขู† , ุงู„ุณุคุงู„ ุนู† ุงู„ู…ุนู‡ุฏ. ุญุตู„ ุงู„ุงู„ุฒุงู…ุงุช ุจุนุถ...
ุงู„ุดูŠุฎ : ู†ู‚ูˆู„ : ุฃู†ุช ู…ุง ุงู„ู…ูˆู‚ู ุงู„ุตุญูŠุญ ุนู„ู‰ ุถูˆุน ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ู…ู† ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ ุชุฌุงู‡ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู‚ุถุงูŠุง؟ ุฃูŠุด ุงู„ู‚ุถุงูŠุง؟
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุงู„ู‚ุถุงูŠุง ุจูŠู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุจูŠู† ุงู„ุฃุฎ ุฐูŠ ุงู„ู‚ุฑู†ูŠู† ูˆุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุนุฏู†ูŠ, ูˆุงู„ุฒุงู… ุงู„ู†ุงุณ ุจู‚ุจูˆู„ ุฌุฑุญู‡ู… ุญุชู‰ ุฃู„ุฒู…ูˆุง ุงู„ู†ุงุณ ุจูƒุชุงุจุฉ ุงู„ุฑุฌูˆุน ูˆุจูŠุงู† ุงู„ุฑุฌูˆุน؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ุงู„ุฐูŠู† ูŠู„ุฒู…ูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ุจูƒุชุงุจุฉ ุงู„ุฑุฌูˆุน ูˆุจูŠุงู† ุงู„ุฑุฌูˆุน ูˆุงู„ุชูˆุจุฉ ูˆุงู„ุชูˆู‚ูŠุน ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ู… ู„ุง ูŠุจุฏุนูˆู† ู…ู† ุจุฏุนูˆู‡ู…, ูู‡ุฐุง ุฃูŠุถุง ุจุฏุนุฉ. ูˆู‡ุฐุง ุธู„ู… ู…ู†ู‡ู….
ูŠุฌุจ ุฃู† ูŠุณุชุญูŠูˆุง ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุจุงุฑูƒ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุฃู†ู‡ู… ูŠู†ุตุจูˆู† ุฃู†ูุณู‡ู… ู…ุซู„ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ูˆุงู„ู…ู„ูƒ, ุญุชู‰ ูŠุทู„ุจูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ุชูˆู‚ูŠุน. ู‡ุคู„ุงุก ู…ุง ูŠุณุชุญูŠูˆู†. ุฃู‚ูˆู„ ุจูƒู„ ุตุฑุงุญุฉ, ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ู… ุฃู† ูŠุณูƒุชูˆุง ู…ู…ุง ุณูƒุช ุนู„ู…ุงุก ูƒุซูŠุฑูˆู† ููŠ ุชุจุฏูŠุน ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุนุฏู†ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู…. ู„ุง ูŠุณู…ุน ู‡ู†ุงูƒ ู…ู† ุจุฏุน. ูุฅุฐุง ุจุฏุนู†ุง , ู…ุง ุฃู‚ุจู„ู†ุง ุชุจุฏูŠุนู‡ ู„ุฃู† (... ูƒู„ู…ุฉ ุบูŠุฑ ูˆุงุถุญ) ู„ู‡ ุนุฐุฑู‡.
ูˆุงู„ุฐูŠู† ูŠู„ุฒู…ูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ูู‡ุคู„ุงุก ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ู…ุจุชุฏุนุฉ ููŠ ุงู„ุฒุงู…ู‡ู… ู„ูŠุฑุฌุนู‡ู… ุฅู„ู‰ ุขุฑุงุกุณ ู‡ุคู„ุงุก ุงู„ูุงุณุฏุฉ. ูˆู„ู… ูŠูƒู† ู‡ุฐุง ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู, ู…ุง ูƒุงู†ูˆุง ูŠู„ุฒู…ูˆู† ุขุฑุงุกู‡ู… ูˆุนู†ุฏ ุงู„ุขุฎุฑ ุฃูŠุถุง ู„ู‡ ุฑุฃูŠู‡, ู…ุฏู„ู„ ูˆู„ุง ู‚ุงุฆู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฏู„ูŠู„ ูˆุบูŠุฑู‡. ูู‡ุคู„ุงุก ุฎุงุฑุฌูˆู† ุนู† ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุณู„ู ุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠู„ุฒู…ูˆู† ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ.
ุงู„ุณุงุฆู„ : ุฃูŠุถุง ูˆู…ุง ู†ุตูŠุญุชูƒู… ู„ู…ู† ูุชุญ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ, ุนู„ู…ุง ุจุฃู†ู‡ ู‚ุฏ ูˆู‚ุน ูˆู‚ุฑุฃ ุจูŠุงู†ู‡ ุฃู…ุงู… ุงู„ู†ุงุณ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ุณูƒูŠู† ูŠุฑุฏ ุฃู† ูŠุจุฑุฑ ุณุงุญุชู‡ ูˆุงู„ุชู‡ู…ุฉ, ุจุฑุฆ ู†ูุณู‡ ูู‚ุงู„ : ุฃู†ุง ู…ุชุจุฑุฆ, ูˆูŠูˆุงูู‚ ุนู„ูŠู‡, ูู‡ุฐุง ุถุนูŠู. ุฅุฐุง ูƒุงู† ุถุนูŠู ุงู„ู†ูุณ ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠู‚ุจู„, ู…ุง ู…ุนุฑูุชู‡ ... ู„ู‡ ุนุฐุฑ, ู„ูŠุณ ุจู„ุงุฒู… ุฃู† ูŠูˆุงูู‚ู‡ู…. ู„ูƒู† ุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠูˆุงูู‚ู‡ู… ููŠ ู‡ุฐุง, ูุฐู‡ุจ ู…ุง ู‡ู….
ู†ู‚ูˆู„: ู„ูŠุณ ุจู„ุงุฒู… ุฃู† ูŠูƒูˆู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ูŠู„ุฒู… ุฃูˆ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ูŠู‚ุจู„ ุงู„ุฒุงู…ู‡. ูˆู‡ุฐุง ู†ู‚ูˆู„ ุฅุฐุง ูƒุงู† ูŠู„ุฒู…ูˆู†. ูุจุฐู„ูƒ ู†ู‚ูˆู„ : ู‡ุคู„ุงุก ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุณุชุญูŠูˆุง ูˆู„ุง ูŠุถูŠู‚ูˆุง ุนู„ู‰ ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰, ูˆู„ุง ูŠุตุฏุฑ ู†ูุณู‡ ูƒุฃู†ู‡ ู‚ุถุงุฉ , ูƒุฃู†ู‡ ุญูƒุงู… ูˆู‡ูƒุฐุง.
ุงู„ุณุงุฆู„ :ุงู„ุณุคุงู„ ุงู„ุฃุฎูŠุฑ ูŠุง ุดูŠุฎ, ุนู† ุงู„ุณุฑูˆุฑูŠุฉ. ู…ุง ู‡ูŠ ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุณุฑูˆุฑูŠุฉ؟ ูˆู…ุชู‰ ูŠู‚ุงู„ ุงู„ุฑุฌู„ ุจุฃู†ู‡ ุณุฑูˆุฑูŠ؟
ุงู„ุดูŠุฎ : ูˆุงู„ู„ู‡ , ุงู„ุณุฑูˆุฑูŠุฉ ุงู„ุฐูŠ ูู‡ู…ุช ุฃู†ุง, ุฃู†ุง ู…ุง ... ุจู…ุซู„ ู‡ุฐุง. ู„ูƒู† ู‡ูŠ ุงู„ุฑูˆุฑูŠุฉ ู†ุณุจุฉ ุฅู„ู‰ ุณุฑูˆุฑ ุจู† ุฒูŠู† ุงู„ุนุงุจุฏูŠู†, ูƒุงู† ูŠุฏุฑุณ ููŠ ุงู„ู‚ุตูŠู…. ุซู… ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ุจุฏุฃ ูŠุชูƒู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ุฏูˆู„, ูˆูŠุซูŠุฑ ุงู„ุทู„ุจุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒู„ุงู… ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุธุงู‡ุฑุงุช ุฃูˆ ูƒุฐุง, ุญุชู‰ ุฐู‡ุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ูƒูุงุฑ ูˆุณูƒู† ู‡ู†ุงูƒ ุงู„ุขู†.
ูุงู„ุณุฑูˆุฑูŠุฉ ู‡ูŠ ู‚ุฑูŠุจ ู…ู† ุงู„ุฐูŠู† ูŠุฑูˆู† ุงู„ุงู†ูƒู„ุงุจุงุช ูˆุงู„ุซุฑูˆุงุช ูˆุงู„ู…ุธุงู‡ุฑุงุช. ู„ูŠุณ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ู‡ุฐุง, ู…ุน ุฃู†ู‡ ููŠ ุฃูˆู„ ุงู„ุฃู…ุฑ ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ุฃู†ู‡ ุฑุฌู„ ุนุงู‚ู„ ูˆูƒุงู† ูŠุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃูˆ ูƒุฐุง, ู„ูƒู† ุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡, ูŠู‚ู„ุจ ุงู„ู‚ู„ูˆุจ, ูุงู„ุขู† ู‡ูˆ ูŠุฏุนูˆ ุฅู„ู‰ ู…ุซู„ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุดูŠุงุก, ูˆู‡ูˆ ุจุนูŠุฏ ู…ู† ุจู„ุงุฏ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุนุงู…ุฉ, ูŠุณูƒู† ุจู„ุงุฏ ุงู„ุบุฑุจ ูˆู„ุง ุจุฏ, ู„ุฃู† ู‡ุคู„ุงุก ูŠุนุฑููˆู† ูˆูŠู„ุฒู…ูˆู† ุงู„ุณูŠุงุณูŠ. ูู‡ุคู„ุงุก ู„ุงุจุฏ ุฃู† ูŠูุนู„ูˆุง ูƒู„ ูŠูˆู… ุดูŠุก ุญุชู‰ ูŠุฑุชุถูŠ ู…ู†ู‡ ุงู„ุฏูˆู„ุฉ ูˆู„ุง ุชู‚ุทุน ุนู†ู‡ ุฑุฒู‚ู‡. ูู„ุง ุจุฏ ุฃู† ูŠูƒุฐุจูˆุง , ูˆู‡ุฐุง ุตุงุฑ ุฒูŠู† ุงู„ุนุงุจุฏูŠู†, ุตุงุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ูู‚ูŠุฑ, ูƒุฐุงู„ูƒ ูˆุงุญุฏ ู…ุตุฑูŠ. ู‡ุคู„ุงุก ูƒู„ู‡ู… ุงู„ุขู† ุดุฑูŠูƒุชู‡ู…. ู†ุนู…. ุญูŠุงูƒู… ุงู„ู„ู‡. ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒู…. ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑ ุฎู„ู‚ู‡ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุฃุตุญุงุจู‡.
WA Majmu'atul Ijabah - Kota Madinah.
 

Blogger news

Blogroll

About